Sabtu, 2 Mei 2026

Pak Raden Wafat

Kisah Panjang Pak Raden Perjuangkan Royalti Si Unyil

"Saya tidak menerima satu sen pun," ujarnya mengenai royalti atas tokoh anak-anak tersebut.

Tayang:
(TRIBUNNEWS/DANY PERMANA)
Suryadi (kanan) yang memerankan tokoh Pak Raden di serial Si Unyil menulis sebuah kartu pos yang akan ditujukan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, di pusat perbelanjaan kawasan Senayan, Jakarta, Sabtu (21/4/2012). Gerakan yang digagas oleh komunitas pencinta kartu pos tersebut mengajak masyarakat untuk kembali menghidupkan budaya berkirim kartu pos. (TRIBUNNEWS/DANY PERMANA) 

TRIBUNKALTIM.CO - Sebelum meninggal dunia di Rumah Sakit Pelni, Petamburan, Jakarta Barat, Jumat (30/10/2015), pukul 22.20 WIB, tokoh kenamaan dalam film boneka Si Unyil, drs Suyadi atau lebih dikenal dengan Pak Raden, pernah "mengamen" di rumahnya untuk memperjuangkan hidup dan hak cipta atas karakter boneka ciptaannya itu.

Pak Raden mengeluh karena karakter Si Unyil, yang diciptakannya, tak menghasilkan royalti sedikit pun untuknya.

Pada 14 Desember 1995, ia membuat kesepakatan penyerahan hak cipta atas nama Suyadi kepada Perusahaan Umum Produksi Film Negara (PPFN).

Pada Pasal 7 surat perjanjian itu tertulis, kesepakatan kedua belah pihak berlaku selama lima tahun terhitung sejak perjanjian tersebut ditandatangani.

Akan tetapi, PPFN menganggap bahwa perjanjian penyerahan hak cipta tersebut tetap pada PPFN untuk selamanya.

"Oleh karena itu, beliau sore ini mengamen untuk menggalang dana," ujar Nanang, yang sehari-hari menemani Pak Raden di rumahnya di Jalan Petamburan III, Slipi, Jakarta Barat, 14 April 2012.

Dengan menggunakan kursi roda dan disaksikan oleh para penggemarnya, Pak Raden melantunkan sejumlah lagu yang pernah dipopulerkannya pada masa lalu.

Pria kelahiran Jember, Jawa Timur, tanggal 28 November 1932 itu tetap energik menyanyikan lagu "Sol Do Iwak Kebo" di depan teras rumahnya.

"Saya baru sadar, setiap bangun tidur, saya mulai dengan menyanyi," kata Pak Raden, yang menyebut Si Unyil sebagai sebuah kegagalan.

(Baca juga: Inilah Aktivitas Pak Raden Jelang Akhir Hayatnya)

Ia mengatakan, kalaupun menerima pendapatan dari karakter itu, ia mendapatkannya dari honor mengisi suara dalam program Laptop Si Unyil.

"Saya tidak menerima satu sen pun," ujarnya mengenai royalti atas tokoh anak-anak tersebut.

Arief Maulana, koordinator teman-teman muda Pak Raden, mengatakan, acara ini dibuat untuk mengetuk hati masyarakat Indonesia terhadap kehidupan Pak Raden.

Melalui acara itu, ia meminta dukungan untuk memperjuangkan agar hak cipta Si Unyil kembali ke Pak Raden.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved