SALAM TRIBUN
Sangkulirang
Situs itu sekaligus mengirim pesan bahwa kita yang berbeda-beda suku ini sebenarnya berasal dari satu ras dan nenek moyang yang sama.
SALAM TRIBUN
Sangkulirang
Oleh ACHMAD BINTORO
Kita patut beruntung kelompok manusia purba homo erectus yang fosilnya ditemukan di Sangiran, Jawa Tengah itu tidak terus berkembang biak. Kalau terus, wah mungkin kita nggak akan seganteng begini.
Grrr...! Itu kali pertama saya mendengar guyonan seorang arkeolog. Harry Widianto mungkin tidak sedang melucu saat memaparkan hubungan evolutif dari homo erectus ke homo sapiens. Tapi wajah-wajah serius para arkeolog yang menyimak paparannya dalam seminar internasional "Sangkulirang, First Step to the World Heritage" di Hotel Le Granduer Balikpapan, dua tahun lalu itu, seketika jadi lentur.
Baca: Wow, Karst Sangkulirang Mangkalihat Nominator 1 Situs Budaya Warisan Dunia
Dulu -- hingga Gustav von Koenigswald meneliti dan menemukan fosil-fosil manusia purba pada 1936-1941 -- orang tak pernah menyangka ada jejak kehidupan manusia purba di Sangiran. Perhatian dunia seketika tumpah ke Sangiran dan sekitarnya. Mereka adalah manusia tertua yang pernah hidup di Jawa, sekitar 2 juta tahun lalu. Para ahli menamakan meganthropus paleojavanicus. Warga setempat menyebutnya "buto Jowo" (Java man) karena saking besarnya fosil tulang-tulang manusia yang ditemukan.
Tetapi orang kemudian meragukan temuan fosil itu sebagai nenek moyang kita -- manusia Jawa saat ini dan berbagai suku di Tanah Air. Hampir tak ada miripnya. Betul kata Harry, manusia Indonesia lebih ganteng, lebih cantik. Jauh sekali dari gambaran sosok manusia Sangiran.
Baca: Suara dari Talisayan
Merujuk pada fosil terlengkap S17 yang hidup pada 700.000 tahun silam, sosok manusia purba Sangiran digambarkan berbadan besar, tegap dan kuat. Dahinya datar dengan tulang kening menonjol. Orbit mata persegi, pipi lebar menonjol, dan tengkorak pendek memanjang ke belakang. Ciri menonjol lainnya adalah mulutnya menjorok ke depan. Ingin lebih jelas lagi, kita dapat melihat patung wajahnya dalam pahatan batu di Museum Sangiran, 45 menit dari kota Solo.
Sosok itu lebih mendekati manusia-manusia Afrika. Seperti diketahui, homo erectus hanya ada di dua tempat di dunia, yaitu di Jawa dan Afrika. Jika bukan dari Sangiran, lantas dari mana nenek moyang kita berasal? Sejauh ini para ahli masih lebih meyakini kebenaran teori "Out of Taiwan" (ras mongolid). Mereka adalah kelompok homo sapiens yang bermigrasi dari utara, Fujian, Taiwan ke selatan.
Kalimantan tak pernah disebut-sebut dalam garis migrasi nenek moyang manusia Indonesia. Bahkan, meski di Kaltim ditemukan yupa yang menandai keberadaan Kutai pada abad keempat -- kerajaan hindu tertua di Tanah Air.
Barulah ketika ekspedisi peneliti asal Perancis, Luc Henry Fage dan JM Cazine menemukan cap-cap tangan atau gambar cadas di banyak goa karst di Sangkulirang-Mangkalihat, kita seperti menemukan kembali potongan kisah prasejarah yang hilang. Melalui penelitian-penelitian intensif berikutnya, dengan dukungan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Samarinda, semakin terkuak apa saja peninggalan yang ada di dalam goa-goa kapur tersebut.
Tak cuma lukisan tapak tangan berusia 10.000 tahun. Temuan artefak berikut kerangka-kerangka purba di goa-goa karst itu mulai mengubah keyakinan ahli selama ini mengenai garis migrasi ras mangolid ke Indonesia. Sebelumnya, garis migrasi dalam teori dimulai dari daratan Taiwan ke Philipina, masuk ke Indonesia lewat Sulawesi (situs Maros-Pangkep) lalu menyebar ke pulau-pulau lainnya di Indonesia seperti Kalimantan, Jawa, terus ke New Zeland dan Madagaskar di Afrika.
Kini, para arkeolog meyakini di goa-goa di perbukitan kapur Sangkulirang-Mangkalihat itulah dulu, 10.000 tahun silam, nenek moyang kita menjejakkan kakinya pertama kali di wilayah Indonesia. Dari sana, mereka kemudian berdiaspora ke pulau-pulau lain di Tanah Air, bahkan ke Selandia baru dan Madagaskar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/achmad-bintoro_terbaru2_20150811_183947.jpg)