SALAM TRIBUN

Sangkulirang

Situs itu sekaligus mengirim pesan bahwa kita yang berbeda-beda suku ini sebenarnya berasal dari satu ras dan nenek moyang yang sama.

DOK TRIBUNKALTIM

Bagaimana dengan fosil-fosil purba Sangiran yang usianya jauh lebih tua? Kelompok homo erectus itu memang sempat hidup di Jawa dalam jutaan tahun. Tetapi, mereka diyakini telah punah hingga 150 ribu tahun lalu. Mungkin letusan hebat gunung berapi telah mengubur mereka. Atau bencana dasyat lain sebagaimana meteor memunahkan era dinosaurus. Lalu digantikan ras mongolid yang sudah bermigrasi ke Indonesia pada 7.000 tahun lalu.

Harry meyakini Sangkulirang menjadi rute pertama dan utama persinggahan ras Mongolid dari Taiwan. Dari goa-goa itu kemudian menyebar ke seluruh pulau di Indonesia. "Temuan kerangka serta lukisan cap tangan di goa-goa Sangkulirang ini bisa menjadi cikal bakal populasi masyarakat Indonesia," paparnya.

Di sinilah pelestarian karst Sangkulirang-Mangkalihat yang kini telah menduduki urutan tertatas dalam tentative list warisan cagar budaya dunia Unesco, menjadi sangat penting. Kemampuan kita untuk menjaga situs-situs purba itu akan menegaskan kita sebagai bangsa yang beradap. Situs itu sekaligus mengirim pesan kepada generasi sekarang dan akan datang bahwa kita yang berbeda-beda suku ini, dan kadang begitu menonjolkan ego kesukuan, sebenarnya berasal dari satu ras dan nenek moyang yang sama.

Sangkulirang mestinya menguatkan tekad kita untuk bersatu, tanpa perlu gontok-gontokan.

Pelestarian juga penting untuk kepentingan peningkatan ekonomi masyarakat lokal. Situs Sangiran menjadi magnet bagi banyak orang untuk datang setelah dijaga dan dikemas sedemikian rupa sebagai tujuan obyek wisata. Terlebih setelah Unesco menetapkannnya sebagai cagar budaya warisan dunia. Kini saatnya kita juga menggarapnya untuk Sangkulirang.(*)

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved