Kolom Rehat
Bercanda dengan Teror
Terorisme pasti banyak ditentang dan dilawan. Tapi satu hal yang tidak dapat dipungkiri adalah kenyataan bahwa teror juga dapat menjadi obat penawar
Dan tidak jarang demi greater good itu, teroris tidak ragu-ragu melakukan tindakan 'berani mati' (martyrdoom) --istilah yang lebih disukai para teroris daripada istilah 'bunuh diri' (suicide) --dalam melakukan aksinya.
Teroris bukan saja orang yang berani merobek dada dan mengambil jantung seorang bocah jika jantung tersebut dapat dipakai untuk mengobati sepuluh orang yang sakit, tapi juga orang yang berani dengan bangga memasang dan meledakkan bom di tubuhnya.
Apakah kita -- khususnya warga Jakarta -- terteror dengan insiden di Sarinah? Syukurlah, ternyata sama sekali tidak.
Tanpa ada hastag #KamiTidakTakut di media sosial pun, warga Jakarta dan warga Indonesia memang tidak menunjukkan ketakutan seperti yang diinginkan penyerang. Para penjual makanan di sekitar kejadian tetap berjualan.
Demikian juga dengan orang yang biasa lalu-lalang tetap lalu-lalang dan makan di pinggir jalan seperti biasa.
Para netizan justru menjadikan serangan itu sebagai bahan guyonan.
Berbagai macam meme yang mengolok-olok teroris bermunculan di media sosial. Bahkan ada meme yang mendefinisikan 'teror' sebagai "(n) biasanya dicampur dalam mie instan, nasi goreng maupun digoreng langsung. Diproduksi oleh ayam."
Banyak juga netizen yang justru lebih tertarik mengungkapkan kekaguman mereka pada sosok polisi ganteng yang gagah berani melawan teroris daripada soal teror itu sendiri. Hastag #KamiTidakTakut pun tersaingi dengan hastag #KamiNaksir.
Nah, sebagai 'kami', saya memang tidak takut. Tapi sebagai 'saya', saya takut juga kalau Indonesia dikuasai ISIS.
Karena itu, ISIS bukan saja perlu tidak ditakuti, tapi juga perlu dilawan dan dicegah agar tidak membesar dan kembali melakukan teror di Indonesia. Saya yakin polisi-polisi kita mampu dan juga ganteng-ganteng.
Begitulah. #KamiTidakTakut dan #KamiNaksir. (*)