SALAM TRIBUN
Trans (Studio) Wisata
Dalam joint venture dengan Trans Corpora, maka total "modal" yang akan dikeluarkan Pemprov Kaltim mencapai Rp 815 miliar
SALAM TRIBUN
Trans (Studio) Wisata
Oleh ACHMAD BINTORO
Selalu ada yang menarik di pangkalan pungut Sungai Karang Mumus (SKM) Samarinda. Di tengah sengitnya polemik di media antara Gubernur Awang Faroek Ishak dengan Komisi II dan pimpinan DPRD Kaltim mengenai dugaan gratifikasi dan permintaan uang miliaran rupiah untuk memuluskan persetujuan hibah lahan ke Trans Studio Samarinda, komunitas-komunitas warga di sana tetap bergerak.
Bersarung tangan, bersepatu boots, dan dengan beberapa sampan menyusuri perlahan anak sungai Mahakam itu. Mereka hampiri sampah-sampah yang mengambang, dipungut dan dikumpul di pangkalan pungut. Mereka juga tak ragu membenamkan kaki di dasar sungai yang menghitam dan berlumpur, mengambil cagak dan balok-balok yang menancap. Kayu-kayu itu bisa membahayakan alur pelayaran.
Baca juga: Kaltim Wow
Kadang mereka temukan kasur bekas. Seringkali karung dan tas-tas kresek besar limbah rumah tangga. Jangan lagi tanya baunya. Cukuplah untuk menguras isi perut jika tidak terbiasa. Menyengat dan busuk. Memakai dua masker pun masih tembus. Makin ke hulu, kondisinya bertambah parah. Di sini ribuan rumah menunggu dalam ketidakpastian relokasi dari bantaran sungai yang entah kapan akan terwujud. (Baca: 25 Tahun Belum Kelar, Pemkot Butuh 10 Tahun Lagi Relokasi Rumah dari SKM)
Mereka memungut helai demi helai sampah-sampah itu dengan ikhlas. Tak satu pun bermuka masam. Anak-anak melakukannya sambil bermain. Berenang. Sesekali menyelam, lalu menyembul lagi ke permukaan dengan seonggok sampah plastik di tangan. Senyumnya menyeringai. Yang dewasa melakukannya seraya selfie dan groufie dengan latar tumpukan kresek-kresek besar berisi sampah hasil pungutan mereka.
Salah satu latar favorit lainnya adalah jembatan Kehewanan di sekitar pangkalan pungut yang kini sudah lebih bersih. Banyak kawan mereka mengira sedang swafoto di sebuah sungai di Eropa.

Begitulah, sejak gerakan memungut sehelai sampah yang diinisiasi Misman itu berjalan sekitar enam bulan lalu, telah ribuan relawan yang terjun ke SKM. Mereka datang bergantian dari berbagai komunitas. Tak cuma warga sekitar. Ada guru dengan para siswanya. Dekan dan dosen dari berbagai perguruan tinggi dengan kelompok-kelompok mahasiswanya. Suporter bola pun ikut meramaikan. Juga para alumni berbagai organisasi dan sekolah, pekerja pers, hingga beberapa tokoh warga.
Baca juga: Suara dari Talisayan
Mereka tak butuh pujian. Tidak secarik kertas surat penghargaan. Tak pula imbalan. Mereka hanya ingin gerakan memungut sehelai sampah ini dapat menular ke lebih banyak orang agar sungai di kota ini dapat lebih cepat bersih, dan kelak bisa menarik para pelancong untuk datang ke Samarinda.
Karena itu mereka tak peduli ada atau tidak ada Trans Studio. Dibangun syukur. Tidak pun tak berarti kiamat. Tak akan menyurutkan langkah mereka untuk menjadikan sungai ini sebagai daya tarik wisata Samarinda. Bagi mereka, pesona sungai Karang Mumus dan Mahakam akan jauh lebih nyata dan awet ketimbang sebuah wahana bermain semacam Trans Studio.

Mereka hanya heran kenapa Gubernur Awang Faroek Ishak berani bermain-main dengan isu korupsi-gratifikasi dan mau "berdarah-darah" hanya demi sebuah Trans Studio. Padahal banyak potensi pariwisata yang lebih hebat di kota ini bertahun-tahun dibiarkan tanpa sentuhan profesional. Bandingkan dengan Purwakarta. Semua mata kini tertuju ke kabupaten kecil di timur Jakarta itu, setelah bupatinya, Dedi Mulyadi membangun air mancur terbesar di Asia Tenggara.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/achmad-bintoro_terbaru2_20150811_183947.jpg)