Rabu, 15 April 2026

Opini

Menikmati Idul Fitri, Bermaaf-maafan tanpa harus Pamer Kemewahan

Masjid -masjid yang berkurang jamaah shalat tarawih dan shalat wajib, kemacetan arus mudik, penyerbuan besar -besaran pasar, mal, supermarket

Editor: Amalia Husnul A
TRIBUNNEWS.COM/PUSPEN TNI/DARFUR
Pasukan Garuda TNI yang tergabung dalam Satgas Batalyon Komposit Konga XXXV-B/Unamid (United Nations Mission In Darfur) atau Indonesian Battalion (Indobatt) dipimpin Letkol Inf Singgih Pambudi Arinto, S.IP. usai pelaksanaan Shalat Idul Fitri 1437 H menggelar acara makan bersama, di Lapangan Markas Indobatt-02, Supercamp, El-Geneina, Darfur Barat, Rabu (6/7/2016). Banyak cara merayakan Idul Fitri, sebaiknya jangan lupa bahwa Hari Kemenangan bukan harus dirayakan dengan kemewahan dan pamer kekayaan. 

Oleh Fransiska

Fasilitator Jurnalistik Sekolah Alam Balikpapan
siskasugiarso@yahoo.co.id

EUFORIA Idul Fitri telah mulai kita saksikan di berbagi belahan tempat.

Masjid -masjid yang berkurang jamaah shalat tarawih dan shalat wajib, kemacetan arus mudik, penyerbuan besar -besaran pasar, mal, supermarket bahkan lapak -lapak kaki lima yang menggelar diskon aneka dagangan keperluan Idul Fitri.

Tidak sedikit pula yang bertungkus lumus di dapur membuat adonan kue kering, bumbu racikan aneka makanan, ada rendang, bakso, soto, rawon dan makanan lainnya yang aromanya menggelitik indera penciuman.

Pedagang lauk dan sayur masak terkena cipratan rezeki karena kaum ibu sudah terlalu letih dan tidak sempat memasak lagi karena waktunya terkonsentrasi menyiapkan berbagai hal yang digadang -gadang harus ada di rumah menyambut idul fitri yang hanya tiba setahun sekali saja.

BACA JUGA:

Oleh karena setahun sekali, pedagang cat juga menjadi kehabisan beberapa stok warna cat dengan jenis tertentu. Warna cat rumah berganti mengilap tanpa coretan benang ruwet atau gambar karya anak -anak kecil dan tanpa noda setitik pun seperti keluar dari salon kecantikan.

Pedagang kain dan tukang jahit juga kebanjiran orderan.

Tak kalah ramai pula toko emas didatangi pembeli. Penampilan dari ujung kepala hingga ujung kaki kalau bisa serba baru, termasuk perhiasan yang dikenakan juga kalau bisa seperti toko emas berjalan.

Salahkah? Tidak bolehkah menikmati Idul Fitri yang tidak akan ada dua kalinya dalam setahun dengan cara demikian? Bukankah yang digunakan adalah dana sendiri?

BACA JUGA:

Lupakah setelah Idul Fitri, anak -anak akan masuk sekolah kembali yang tentu saja membutuhkan anggaran, apalagi apabila mempunyai anak usia sekolah lebih dari satu?

Sebagai ilustrasi, bagi penikmat makanan super pedas yang anggota pencernaannya tahan banting terhadap semua yang serba pedas, menyantap semangkuk bakso dengan bersendok -sendok sambal tentu tidak menimbulkan efek samping.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved