Breaking News
Selasa, 21 April 2026

Opini

Banjir Baru, Baru Banjir

BANJIR Kota Samarinda, kemarin memasuki babakan baru. Jangankan mengurangi 35 titik banjir yang ada.

Editor: Sumarsono
Tribun Kaltim/Nevrianto
Seorang anggota Brimobda Polda Kaltim Detasemen B Pelopor menuntun warga menyebrang dari jalan APT Pranoto ke jalan Harun Nafsi yang dilanda banjir setinggi lutut, Kamis( 22/3/2018). 

Oleh: Sunarto Sastrowardojo
Dosen Sekolah Pasca Sarjana, Perencanaan dan Pengembangan Wilayah, Universitas Mulawarman

BANJIR Kota Samarinda, kemarin memasuki babakan baru. Jangankan mengurangi 35 titik banjir yang ada. Kemarin, Kamis, 22 Maret 2018 terdapat titik banjir baru yang tidak diperhitungkan.

Kawasan Samarinda Seberang dan Loa Bakung mencatat kejadian pertama dalam 10 tahun terakhir digenangi air hingga 1,20 meter. Padahal intensitas hujan, kemarin tidak terlalu tinggi jika dibandngan dengan bulan yang sama pada tahun lalu.

Sebenarnya memasuki awal 2018, Kota Samarinda sudah berhasil menggeser konsentrasi banjir yang semula merata di seluruh kawasan, saat ini hanya kawasan hulu yang masih tergolong parah, terutama kawasan utara Samarinda.

Baca: Warga Korban Banjir Enggan Mengungsi, Wanita Hamil Terpaksa Tidur di Mobil

Kejadian kemarin membuat warga terperangah, Loa Bakung kebanjiran hingga setinggi atara 60 hingga 120 sentimeter.

Sebenarnya, Samarinda, secara umum berada pada daerah dengan rata-rata ketinggian 0 -25 m di atas muka air laut atau sekitar 62.88 persen dari keseluruhan wilayah Samarinda berada di ketinggian 21-25 meter, nah titik itu berada di kawasan Palaran, hingga Batuah untuk kawasan barat dan selatan Samarinda.

Dalam perkembangannya kependudukan, daerah sepanjang Sungai Mahakam menjadi kawasan yang dipadati penduduk, yang diawali dari Kawasan Samarinda Seberang, dan berkembang ke Kawasan Samarinda Ilir, Samarinda Ulu, Sungai Kunjang, Samarinda Utara dan terakhir di Palaran.

Arah perkembangan kependudukan ini, secara alamiah berkaitan dengan topografi wilayah, yang tergolong daerah aluvial dan bergelombang, maka masyarakat atau pengembang, beramai ramai menyerbu kawasan yang lebih tinggi, akibat trauma genangan air di pusat perkotaan yang lebih rendah.

Pada ketinggian 7 -25 meter, lebih luas lagi kawasan Samarinda yang berpotensi tergenang air, memanjang hingga ke Samarinda Utara, Samarinda Seberang dan sisi timur Palaran. Nah sekarang coba bayangkan, beda tinggi antara kawasan Palaran hingga Batuah yang rona alamnya mirip aliran sungai tapi berada di darat dan bermuara di belakang STAIN dan memutar hingga Loa Bakung.

Baca: Samarinda Banjir, Berlakukan Status Tanggap Darurat, BPBD Siaga Evakuasi Warga

Kelerengan Samarinda secara umum didominasi oleh kelerengan 0 -14 persen atau setara dengan 0 hingga delapan derajat.

Ini yang diterjemahkan secara alami merupakan area di mana erosi sangat dominan dan lebih besar kemungkinan terjadinya pengendapan atau sedimentasi dari sisi yang lebih tinggi atau dari arah kelerengan lebih besar. Ini yang menyebabkan 87 persen drainage kota tertutup material timbunan pasir halu hingga pasir kasar.

Sedimentasi yang terjadi di kawasan kelerengan rendah dan dihuni oleh sebagian besar warga Samarinda, karena tingkat energinya yang lebih kecil dibandingkan kawasan dengan kelerengan sedang dan tinggi, akan cenderung membawa butiran yang berukuran halus berupa material lempung-pasir berukuran sedang, pada saat hujan turun.

Dengan demikian, sebagian besar permukaan tanah di kawasan berkelerengan rendah ini akan tertutup oleh partikel berukuran halus, yang secara umum permeabilitasnya sedang hingga jelek. Harusnya pemerintah mengalokasikan pemeliharaan saluran kota lebih besar di kawasan ini daripada kawasan lain yang elevasinya lebih tinggi.

Jika informasi ini masih kurang, maka dapat diperkaya dengan data dari BPN Kota Samarinda yang menyatakan bahwa 54.71 persen tanah di Samarinda berjenis Podsolik, tanah dengan tekstur liat, permeabilitas jelek dan mudah larut. Kawasan ini lah yang disebut kawasan ber permeabilitas buruk.

Soal permeabilitas penjelasannya begini. Tanah dan atau batuan adalah media yang memiliki kemampuan bawaan atau alamiah terbatas.

Baca: Jauh-jauh ke Samarinda Tinjau Banjir, Safaruddin: Insya Allah Kalau Terpilih, 3 Tahun Kita Tuntaskan

Semakin jelek permeabilitasnya, semakin lambat air bisa diteruskan oleh media tanah atau batuan baik secara vertikal maupun lateral, sehingga tubuh air akan lebih lama tertahan atau menggenang di atas muka tanah atau batuan, dan dalam debit yang cukup akan menyebabkan banjir.

Ketika banjir benar benar dirasakan sebagai penghambat produktifitas, banyak yang protes, namun masyarakat tidak melakukan apapun, karena ketidaktahuan dan sibuk membersihkan rumahnya.

Bayangkan, pemerintah Kota Samarinda yang miskin anggaran pemeliharaan drainase, masyarakatnya yang tidak paham mengelola limpahan air hujan.

Ketika penambang batu bara liar merambah setiap jengkal tanah Samarinda, termasuk kuburan di kawasan Lempake, masyarakat "ngamuk" dan tidak mendapat solusi apa pun dari pemerintah.

Baca: Suka Wisata ke Luar Negeri, Jangan Lewatkan Paket Menggiurkan dari Silk Air

Ketika mitos sama rendah dijadikan slogan elevasi dan jadi nama taman, maka pemerintah merasa gugur kewajibannya untuk mengelola banjir karena Samarinda, sama rendah dengan Sungai Mahakam, tak mungkin kota lepas dari banjir.

Masyarakat Samarinda cemas, was was karena lama tak ada banjir dan benar benar panik setelah air datang dadakan, maka masyarakat panik ini masih sempat membuat joke baru "Hanyar kah Ikam di Samarinda". (*)  

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved