Penghuni 'Rumah Jokowi' Inginkan Segera Tersambung Layanan Air Bersih PDAM
Jalan kompleks rumah juga sudah tergarap, telah terbuka aksesnya secara luas meski belum terlapisi aspal mulus.
Penulis: Budi Susilo |
Menanggapi permintaan penghuni rumah subsidi masyarakat berpenghasilan rendah di kilometer lima itu, pihak PDAM Balikpapan, menegaskan sedang berupaya membangun infrastruktur penambahan kapasitas dan pemantapan proses treatment.
“Sebenarnya kita sudah sangat siap layani. Kita lagi berupaya penambahan kapitas air dahulu,” ujar Direktur Utama PDAM Balikpapan, Haidar Effendi saat ditemui belum lama ini.
Kata dia, kondisi PDAM Balikpapan belum dikatakan sempurna, sebab ada beberapa sumber air yang masih belum makimal. Penyediaan air bersih di beberapa tempat di Balikpapan yang menjadi kendala ialah sumber airnya, yang dianggap masih minim.
“Membangunnya kaitan erat sama prosesnya, butuh waktu, butuh tahunan. Perlu waktu, ada proses lama untuk penambahan kapasitas air,” ujar Haidar.
Menurut dia, pemasangan pipa aliran air PDAM terpasang namun tidak bisa mengalir airnya, tentu saja akan seakan sia-sia, sama saja tidak melakukan sesuatu.
Karena itu, PDAM sekarang sedang berupaya memaksimalkan sumber airnya, mengingat pertumbuhan penduduk di Balikpapan selalu meningkat.
“Jangan sampai pasang di situ (rumah subsisi di kilometer lima) kemudian air dialiri nanti di tempat lain mati. Kami tidak mau air dialiri ke tempat baru tetapi yang tempat lama tidak dapat air, kan sama saja bermasalah nantinya,” katanya.
Dipastikan, estimasi treatment dan penambahan sumber air paling cepat akhir tahun ini.
“Treatment sedang dibuat. Air dari waduk Teritip ada 200 liter per detik. Treatment sedang dibuat, Desember ini selesai. Insyaa Allah tahun 2019 sudah bisa jalan,” ungkapnya.
Selama ini, tambah dia, PDAM pun juga mengalami kesulitan untuk melayani di beberapa wilayah seperti Kampung Baru Kelurahan Baru Tengah dan daerah Batakan.
“Kalau yang pusat kota kami belum bisa buat sambungan air itu ada di daerah Karang Rejo atas. Tempatnya di daerah tinggi, susah,” tegas Haidar.
Kendala lain PDAM bukan saja soal pengadaan sumber air namun juga kerusakan dari bencana. Hampir sekitar 70 persen pipa PDAM berada di bawah jalan dan bangunan. Ada resiko pecah dan patah.
“Sambungan banyak rusak, ada pelebaran jalan dampaknya bocor dan muntah airnya, terbuang mubazir,” tuturnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/rumah_20180401_210006.jpg)