Sabtu, 25 April 2026

Kalsel Dinilai Provinsi Terendah Indeks Kualitas Lingkungan Hidupnya

Kualitas lingkungan hidup di wilayah Kalimantan masih menunjukan kurang memuaskan

Penulis: Budi Susilo | Editor: Januar Alamijaya
Tribun Kaltim/Budi Susilo
Ir Hudoyo, Staf Ahli Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia bidang Energi memukul gong meresmikan raker Ekoregion Kalimantan di Hotel Novotel Balikpapan pada Selasa (2/5/2018) 

"Keberadaan sumber daya alam sebagai sistem penyangga kehidupan dalam mendukung pembangunan berkelanjutan," ujarnya.

Baca: Driver Ojol Ini Kaget, Begitu Menyadari yang Diboncengnya Bos Gojek. Langsung Grogi Habis

Dia menambahkan, di dalam Rencana Aksi Nasional tujuan pembangunan berkelanjutan sebagai pelengkap dari pembangunan sosial, ekonomi, hukum dan tata kelola.

"Konsep pembangunan berkelanjutan, kunci utamanya terjaga kualitas lingkungan hidup berkelanjutan," tegas Hudoyo

Pemanfaatan Alam Kalimantan Dianggap Berbahaya

Kalimantan merupakan tulang punggung pembangunan lingkungan hidup dan kehutanan nasional maupun dunia global. Namun pemanfaatan Sumber Daya Alam di Kalimantan belum dianggap berwawasan pelestarian.

Hal ini disampaikan, Ir Hudoyo, Staf Ahli Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia bidang Energi kepada Tribunkaltim di Hotel Novotel Balikpapan pada Selasa (2/5/2018) siang.

Ia menjelaskan, hitungan sampai 28 persen luas sumber daya hutan Indonesia berada di daratan Pulau Kalimantan. Dan sebanyak 28 persen ekosistem gambut Indonesia juga berada di Pulau Kalimantan.

Sayangnya, pemanfaatan sumber daya alam di Ekoregion Kalimantan masih menunjukkan kurang memuaskan, cenderung tak berbasiskan kelestarian lingkungan.

"Menunjukan fenomena pemanfaatan yang belum mendukung upaya-upaya pelestarian," ungkapnya.

Indikator menurunnya upaya pelestarian alam bisa dilihat dari Indeks Kualitas Lingkungan Hidup yang menunjukan grafik menurun.

"Saya lihat datanya sejak tahun 2011 sampai ke tahun 2016 menunjukan tren menurun meskipun masih di atas indeks rata-rata skala nasional," tutur Hudoyo.

Dia ungkapkan, sejauh ini kualitas air semakin tercemar berbagai jenis limbah yang ringan sampai yang berbahaya. Kondisinya memprihatinkan seakan tak layak konsumsi.

Belum lagi terjadi deforestasi hutan Kalimantan turut memperburuk kualitas lingkungan hidup. Pasokan oksigen yang berkualitas tinggi bakal susah dicari. Dampak buruk dirasakan, ada kerusakan dan pencemaran lingkungan yang semakin masif.

"Tutupan hutan semakin berkurang akibat degradasi hutan. Diperkirakan kurang lebih mencapai 360 hektar per tahun," ujarnya.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved