Kebakaran di Samarinda

Ikut Korban Tewas Terbakar, Ayu Dikenal sebagai Ibu RT yang Supel dan Ceria

Petugas menemukan 7 jenazah terpanggang di reruntuhan bangunan yang terbakar di Jl Jakarta, Loa Bakung, Samarinda

Ikut Korban Tewas Terbakar, Ayu Dikenal sebagai Ibu RT yang Supel dan Ceria
HO/Ferdianuur, LSM Pelik Kota Samarinda
Proses evakuasi korban yang dilakukan petugas pemadam kebakaran bersama unsur LSM Relawan, Selasa (18/12/2018). 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Menjelang shalat Subuh, Neneng Erawati terbangun mendengar suara gemeretak di sekeliling rumahnya. Penasaran, ia pun segera keluar dari rumah. Betapa terkejutnya, di hadapannya api sudah berkobar dari rumah berbahan kayu milik tetangganya yang hanya dipisahkan tembok beton.

Pikirannya kalut, di rumah yang sedang dilalap si jago merah itu didiami dua kepala keluarga, termasuk adik kandungnya.

Reflek, Neneng segera mengungsikan seluruh keluarganya ke luar rumah. Ia lantas meminta bantuan mengeluarkan keluarganya di rumah sebelah. Dia khawatir keluarganya terjebak kepungan asap dan api tak terselamatkan. Pintu pagar dan rumah masih dalam keadaan terkunci.

"Saya yakin, masih ada orang di dalam," kata Neneng menceritakan awal kejadian kebakaran di Jalan Jakarta, Perum Korpri, Blok CK RT 66, Loa Bakung, Samarinda, Selasa (18/12) dini hari tadi.

Baca: Kebakaran di Samarinda, Tujuh Orang Tewas, Ibu dan Anaknya Ditemukan Berpelukan

Hitungan menit, puluhan petugas pemadam kebakaran tiba. Sekitar 20 menit berjibaku, api berhasil dipadamkan. Proses pencarian dan evakuasi berlangsung, kekhawatiran Neneng terbukti. Petugas menemukan 7 jenazah terpanggang di reruntuhan bangunan. Petugas langsung membawa semua korban ke RSUD AW Syahrani Samarinda untuk identifikasi.

Sekitar enam jam di ruang jenazah, tiba-tiba tangis puluhan orang pecah ketika petugas membuka daun pintu sambil mendorong tujuh kursi pasien berisi tujuh jenazah terbungkus kain kafan putih dengan kertas identitas korban di bagian kaki masing-masing.

Di dalam kain pembungkus dengan aroma melati yang kuat terbujur kaku tubuh Andi Ibrahim Bayu (42) dan istrinya, Sri Rahayu Panjaitan. Termasuk dua anak mereka, Alvira Putri Ananda (14), Muhammad Rafli (12) yang tewas terpanggang.

Baca: Akses Jalan Objek Wisata Rusak, Polsek Biduk-biduk Turun Tangan

Tangis berlanjut, saat jenazah korban lain, yang ternyata adiknya kandungnya, Ernawati Panjaitan (45) bersama suaminya, Elhamsyah Arsyad (49), dan keponakannya, Ilda Safira Putri (8) ikut dibawa keluar menuju mobil jenazah dengan kondisi nyaris serupa.

Kejadian tak terduga ini membuat kerabat, keluarga dan tetangga merasa kehilangan sosok Ayu, yang dikenal mengabdikan dirinya untuk kepentingan orang banyak.

"Ini saudara kita yang paling baik dengan orang," ucap Neneng Erawati, dengan suara parau sambil memeluk jenazah adiknya, Ayu. Disusul Mustakim, menangis sejadinya di samping jenazah Ibrahim, anak kandungnya yang juga suami Ayu.

Di mata Neneng, sosok adiknya, dikenal pribadi yang menyenangkan, ceria dan aktif di berbagai kegiatan kemasyarakatan dan tidak memiliki masalah yang menyebabkan permusuhan. Di kampungnya, Ayu dipercaya warga menjadi Ketua Rukun Tetangga 66 selama dua periode.

Baca: Kendaraan Dilarang Parkir Dekat Gereja di Bontang saat Malam Perayaan Natal

"Orangnya supel dan ceria, tiap acara-acara di kampung atau undangan lain, pasti hadir. Ngga ada masalah dengan orang," ujar Neneng sambil mengelap air matanya dengan jilbab yang ia kenakan.

Saat pertemuan terakhir, usai mengantar anaknya sekolah dan makan bersama, sehari sebelum kejadian, kakak tertua dari sembilan bersaudara ini mengaku tak mempunyai firasat apapun sebelum kejadian tragis ini. Seperti yang ia ketahui, Ayu tetap terlihat mencintai keluarganya dan senantiasa menanamkan nilai keagamaan yang kuat pada anaknya. (cde/dro)

Editor: Sumarsono
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved