Tahun Baru 2019

Diskusi Tentang Fenomena Hedonisme, Cara Komunitas Yuk Ngopi Menyikapi Tahun Baru 2019

Untuk menghindari berbagai perayaan yang mengundang maksiat, dia menyarankan agar melakukan kegiatan yang bermanfaat. Seperti mengikuti kajian islam

Diskusi Tentang Fenomena Hedonisme, Cara Komunitas Yuk Ngopi Menyikapi Tahun Baru 2019
tribunkaltim.co/ arif fadillah
Peserta komunitas Yuk Ngopi saat menikmati diskusi di Lays Food Complex, Balikpapan, Minggu (30/12/2018) sore. 

Laporan wartawan Tribun Kaltim, Arif Fadillah

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN- Komunitas Yuk Ngopi Balikpapan punya cara tersendiri menghadapi pergantian tahun baru masehi 2019. Komunitas yang bergerak dibidang spritual ini menggelar sebuah diskusi menarik yang disajikan di Lays Food Complex, Balikpapan, Minggu (30/12/2018) sore.

Ratusan peserta diskusi komunitas Yuk Ngopi tampak serius menikmati diskusi yang dibawakan oleh Agus Supriyanto, Marketing Syariah Coach Balikpapan dan Spiritual Life Coach. Sambil menikmati kopi gratis diskusi berjalan serius dan santai. Tema yang di bahas yakni tentang Hedonisme. Dalam pembahasannya menjelaskan bagaimana sikap sebagai umat muslim dalam menyikapi pergantian tahun baru.

Baca: VIDEO - Belajar Teater Persembahkan Membaca Tanda-Tanda

Agus menjelaskan bahwa Hedonisme yang merupakan ajaran atau pandangan bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup dan tindakan manusia. Adapun Hedonisme yang merupakan sebuah produk dari barat sudah merasuki dalam jiwa umat muslim.

Tidak sedikit di setiap pergantian tahunnya umat muslim merayakan tahun baru dengan menggelar pesta yang berujung pada kemaksiatan. Tradisi tersebut bukanlah berasal dari Islam, sehingga sudah seharusnya ditinggalkan oleh umat Islam.

Baca: VIDEO - Puluhan Orang Terjaring Razia Narkoba, Pos Relawan Dijadikan Tempat Tes Urine

"Islam itu punya cara tersendiri. Islam mempunyai aturan tersendiri. Kenapa kita mesti mengikuti tradisi yang bukan berasal dari Islam. Karena Islam itu mempunyai kesempurnaan maka kita sudah seharusnya menjalankan aturan yang sangat sempurna dari Islam itu sendiri," ujar Agus saat memberikan materi kepada para peserta Yuk Ngopi Balikpapan.

Agus Supriyanto, Marketing Syariah Coach Balikpapan dan Spiritual Life Coach (kiri) saat memberikan penjelasan tentang

Agus Supriyanto, Marketing Syariah Coach Balikpapan dan Spiritual Life Coach (kiri) saat

memberikan penjelasan tentang "Hedonisme Fenomena Setiap Pergantian Tahun"

di Lays Food Complex, Balikpapan, Minggu (30/12/2018) sore. (tribunkaltim.co/ arif fadillah)

Dia juga mengatakan bahwa buah dari Hedonisme sendiri akan melahirkan sebuah keuntungan yang besar bagi industri kapitalisme. Karena Hedonisme tumbuh atau numpang dalam ideologi sebuah Negara yakni Kapitalisme. Agus mencontohkan salah satu keuntungan Industri Kapitalisme yakni penjualan kondom saat perayaan tahun baru.

Baca: Anggota Exco PSSI Gusti Randa Sebut Kasus Pengaturan Skor Akan Berdampak pada Kompetisi 2019

Maka dari itu Agus menyarankan kepada muda-mudi Balikpapan untuk meninggalkan Hedonisme. Untuk menghindari berbagai perayaan yang mengundang maksiat, dia menyarankan agar melakukan kegiatan yang bermanfaat. Seperti mengikuti kajian islam yang digelar beberapa tempat. Kegiatan tersebut menurutnya lebih menguntungkan karena mendapatkan banyak ilmu yang bermanfaat untuk bekal di akhirat.

"Karena sebagai muslim kita wajib mencari Ilmu baik laki-laki maupun perempuan," tambahnya.

Baca: Sang Saudara Kembar Kabarkan Kondisi Terkini Ifan Seventeen Demam dan Trauma

Selain itu dia menyampaikan kepada para peserta untuk membuat target di tahun 2019. Tentunya target tersebut harus sesuai tidak bertentangan dengan syariat Islam. Dia mencontohkan seperti menargetkan tahun 2019 harus bisa menghafal Al-Quran 30 juz, naik haji, dan sebagainya. Target tersebut harus ditulis agar bisa memotivasi diri untuk bisa mencapainya.

Baca: Persik Kediri Juara Liga 3 2018, Unggul Agregat Setelah Lawan PSCS Cilacap di Final Leg Kedua

Yuk Ngopi merupakan singkatan dari Yuk Ngobrol Pemikiran Islam, yang selalu digelar setiap sepekan sekali yakni setiap hari Minggu. Kegiatan ini digelar di sebuah cafe-cafe Balikpapan, sehingga nuansa yang dihadirkan terlihat santai namun tetap serius. (*)

Penulis: Arif Fadilah
Editor: Arif Fadilah
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved