Kisah Cinta Heldy Djafar dengan Presiden Soekarno, Setiap Kali Ketemu Pasti Saya Digendong

Kisah Cinta Heldy Djafar dengan Presiden Soekarno, Setiap Kali Ketemu Pasti Saya Digendong

Kisah Cinta Heldy Djafar dengan Presiden Soekarno, Setiap Kali Ketemu Pasti Saya Digendong
Tribun Kaltim
Istri Presiden RI Soekarno, Heldy Djafar (kiri) bersama Pj Sekprov Kaltim Meiliana di Kantor Gubernur, Samarinda Rabu (9/1). 

TRIBUNKALTIM.CO - UPACARA hari ulang tahun (HUT) ke-62 Pemprov Kaltim dihadiri ribuan undangan, mulai pejabat, pengusaha, tokoh masyarakat hingga masyarakat biasa. Di antara deretan kursi undangan VIP, terlihat sosok perempuan yang menjadi pusat perhatian. Dialah Heldy Djafar (72), istri Presiden RI pertama Ir Soekarno.

HELDY Djafar dikenal sebagai salah satu istri sang Proklamator kelahiran Tenggarong, Kutai Kartanegara. Meski sudah berusia 72 tahun, Heldy masih tampak kuat dan santai mengikuti prosesi upacara. Belum hilang paras cantik dan anggunnya meski sudah lanjut usia.

Mengenakan balutan kebaya ungu, ia menyapa ramah setiap undangan yang datang menghampiri. Dengan senyum ramah, Heldy tak henti menerima salam dari tamu lainnya.

Baca: Ternyata Ini Alasan Sebenarnya Kuasa Hukum Vanessa Angel Pilih Mundur, Ada Kaitannya dengan Polisi

Baca: VIDEO - Berstatus Mahasiswa, Polisi Tangkap Pelaku Pembuang Bayi di Tenggarong

"Saya kebetulan diundang oleh bapak Gubernur untuk hadir di acara ulang tahun Pemprov Kaltim. Senang rasanya bisa kembali ke Kaltim, khususnya Samarinda. Selamat ulang tahun untuk provinsi yang kita cintai ini," ujar Heldy dengan logat Kutai yang masih kental, Rabu (9/1).

Kembali ke Kota Samarinda, ia terkesan dengan kemajuan ibukota Kaltim yang menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan Bumi Etam ini. Ia tak menyangka wajah Kaltim berubah menjadi lebib maju dengan pembangunan indrastruktur yang masif.

"Samarinda jauh lebih maju sekarang ketimbang dulu waktu saya masih tinggal di sini. Saya SMP tinggal di sini. Setelah itu ke Jakarta dan menetap di sana. Tapi sering pulang ke Samarinda dan Tenggarong karena masih banyak keluarga. Alhamdulilah perkembangan sudah maju provinsi ini, saya juga bangga," ucapnya.

Sebagai salah satu tokoh perempuan berdarah Bumi Etam, Heldy tak lupa berpesan kepada generasi muda agar lebih kreatif dan inovatif demi memajukan Provinsi Kaltim, dan membanggakan bangsa.

Baca: Dramatis, Penangkapan Mantan Ketua DPRD Surabaya Diwarnai Aksi Tabrak Motor dan Teriakan Sang Anak

"Saya pikir pemahaman agama harus lebih ditingkatkan untuk masyarakat dan generasi muda Kaltim. Budaya juga penting sekali itu karena saya sampai sekarang selalu memperhatikan dan mempertahankan budaya Kaltim. Jangan sampai putra-putri kita terjerumus ke jurang yang menyesatkan," tuturnya bijak.

Heldy juga tak keberatan bercerita singkat tentang kenangannya bersama Presiden RI Soekarno. Menurutnya, perempuan Kaltim harus terus menumbuhkan optimisme. Kisah cintanya dengan Bung Karno menjadi pelajaran bahwa tidak ada yang mustahil bagi perempuan ataupun masyarakat Kaltim suatu saat menjadi bagian dalam lingkaran Istana Negara.

"Saya tidak menyangka RI 1 menyukai perempuan Kaltim. Kami bertemu pada tahun 1965 saat menjadi anggota Paskibraka. Saya masuk barisan Bhineka Tunggal Ika. Dan dinikahi pada 1966. Orangtua kaget, kenapa kok anak saya? Padahal banyak perempuan lain. Tapi saya bersyukur bisa menjadi pilihan RI 1 kala itu. Tidak ada yang tak mungkin," katanya.

Kemesraan Heldy dan Soekarno hanya bertahan tak sampai 5 tahun, lantaran Soekarno harus menjadi tahanan di Wisma Yaso akibat situasi politik. Namun Heldy tak pernah lupa sentuhan dan rasa sayang Soekarno.

Baca: Kosmetik yang Mengandung Alkohol Dipastikan Tidak Haram, Ini Penjelasan LPPOM MUI Kaltim

Baca: VIDEO - Kebakaran di Jalan PM Noor Samarinda, 7 Sepeda Motor Ikut Hangus

"Susah cari orang seperti Bung Karno. Sampai sekarang saya belum pernah menemukan orang seperti Bung Karno. Sentuhannya lebih lembut, penyayang. Setiap kali ketemu saya pasti saya digendong. Itu hebatnya saking sayangnya," ungkapnya.

Usai bercerita singkat, Heldy lantas kemudian pamit meninggalkan tempat acara usai rangkaian upacara berakhir. Ia bersama keluarga Sultan Kutai Ing Martadipura, Sultan Adji Muhammad Arifin beranjak keluar GOR Sempaja. (*)

Penulis: Cornel Dimas Satrio Kusbiananto
Editor: Sumarsono
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved