Pemilu 2019
Tragedi Grace Natalie Partai Solidaritas Indonesia, Tragedi bagi Demokrasi?
PSI atau Partai Solidaritas Indonesia apakah dianggap tragedi bagi demokrasi? Inilah ulasan Litbang Kompas soal sepak terjang PSI dan partai lainnya.
Mengapa Grace Natalie harus gagal? Pertanyaan itu wajar mengemuka, bukan hanya di kalangan pendukungnya, melainkan juga mereka yang sempat tersihir oleh pidato-pidatonya.
Dalam khazanah politik saat ini, sejatinya memang sulit menemukan sosok yang mampu memukau panggung dengan orasi yang konsisten, berapi-api, dan sangat berani melakukan kritik keras dalam bahasa tertata rapi.
Ia seolah menjadi cabai pedas yang menyengat jagat perpolitikan yang sudah jumud.
Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang dikelola oleh banyak anak muda ini cukup memberikan angin segar akan perubahan suasana perpolitikan.
Sejumlah aksinya yang terbilang nekat kerap menghiasi pemberitaan media cetak, elektronik, dan media sosial.
Iklan segar dan kreatifnya juga kerap muncul di televisi, menampilkan sekuel yang lebih luwes dengan gaya kekinian, dibandingkan dengan partai-partai lainnya yang cenderung kaku.
Pernyataan-pernyataan Ketua Umum PSI Grace Natalie nyaris selalu menimbulkan kontroversi, percikan lidah apinya senantiasa membuat gerah tokoh-tokoh dari partai mapan.
Dalam pidato politik berjudul ”Beda Kami PSI dengan Partai Lain”, di Festival 11 di Medan, Sumatera Utara, Senin (11/3/2019), Grace menyindir partai-partai lama di parlemen yang tidak bertindak apa-apa saat tiga gereja di Jambi disegel pada September 2018.
Ia menegaskan, partainya tidak akan pernah mendukung peraturan daerah yang berlandaskan Injil dan Syariah jika dipercaya duduk di parlemen. Ia mempertanyakan komitmen partai-partai besar, seperti Golkar dan PDI-P, ”Bagaimana mungkin disebut partai nasionalis kalau diam-diam menjadi pendukung terbesar perda syariah?” kata Grace.
Jika lolos ke parlemen, PSI juga berjanji akan menggagas larangan berpoligami bagi pejabat publik dan aparatur sipil negara (ASN) guna memperjuangkan keadilan bagi perempuan Indonesia. Dua pidato itu, penolakan terhadap Perda Injil dan Syariah dan larangan poligami bagi kader PSI, telah memantik respons yang keras dari berbagai kalangan dan partai ini dicap sebagai sedang mengembangkan islamophobia.
Akan tetapi, Grace menegaskan, politik PSI adalah politik nilai dan politik ideologis. Dengan itu, seolah ia ingin menggarisbawahi bahwa PSI tidak takut terhadap kecaman-kecaman apa pun atas misi yang diperjuangkannya.

Meskipun demikian, kegarangan PSI dan ingar-bingar polemik yang diciptakan partai dengan nomor urut 11 itu belum berhasil dikonversi menjadi dukungan riil.
Selama beberapa bulan hingga saat-saat menjelang Pemilu 2019 hasil survei sejumlah lembaga survei tetap menempatkan PSI sebagai partai papan bawah dengan perolehan suara di kisaran 1 persen.
Litbang Kompas, dalam survei terakhir sebelum pemilu, Maret 2019, mendeteksi suara untuk PSI hanya sebesar 0,7 persen.
Dengan margin of error 2,2 persen, pencapaian maksimal untuk PSI adalah 2,9 persen. Sulit bagi partai ini lolos ke parlemen.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/tsamara-amany-politisi-muda-dari-psi.jpg)