Tak Terima Anak di-Bully di Sekolah, Sang Ayah Hajar Pelaku yang Masih 10 Tahun hingga Patah Tulang
Gara-gara tidak terima anaknya di-bully di sekolah secara berulang, seorang ayah murka dan melakukan kekerasan kepala pelaku.
TRIBUNKALTIM.CO - Gara-gara tidak terima anaknya di-bully di sekolah secara berulang, seorang ayah di Singapura murka dan melakukan kekerasan kepala pelaku.
Sang ayah tersebut, menyerang pelaku bully yang masih berusia 10 tahun, hingga mengalami patah tulang.
Seorang pria berusia 44 tahun dijatuhi hukuman penjara selama tujuh pekan setelah mengaku bersalah mendorong bocah usia 10 tahun hingga mengalami keretakan tulang rusuk.
Pria tersebut, yang bernama Tan Chin Tai, mengaku bersalah atas satu tuduhan yakni secara sengaja menyebabkan cedera orang lain.
Bocah yang menjadi korban diketahui baru berusia 10 tahun dan masih duduk di bangku kelas 4 Sekolah Dasar.
Pengacara terdakwa mengatakan bahwa bocah korban diduga telah mem-bully anak laki-laki terdakwa selama dua tahun.
Di hadapan pengadilan terungkap bahwa Tan dengan sengaja mendatangi bocah korban yang baru pulang sekolah pada 7 Juli 2017 lalu.
Tan menemui bocah, yang tidak diungkap identitasnya, di gerbang sekolah.
Saat bocah itu berjalan melewati Tan, dia meraih tas bocah itu dan menariknya ke belakang.
Tan lalu menarik tubuh bocah itu sebelum mendorongnya ke tumpukan sampah di dekatnya dan mendorongnya ke dinding untuk kemudian memarahinya.
"Dia berkata, 'Hanya karena tubuhmu lebih besar, kami bisa mem-bully orang lain. Karena kami mem-bully anak saya, sekarang saya mem-bully-mu'," tulis laporan yang dibacakan di pengadilan.
Akibat tindakan kekerasan itu, bocah korban mengalami sakit di bagian dada, yang setelah diperiksakan menggunakan sinar-X, diketahui bahwa bocah itu mengalami keretakan pada satu tulang rusuknya.
Pengacara terdakwa, Cory Wong, memohon agar kliennya, yang bekerja sebagai guru tambahan, dijatuhi denda atau hukuman penjara tidak lebih dari empat minggu.
Dia menambahkan, korban telah membully putra Tan setiap hari dengan kata-kata yang melecehkan.
Wong menambahkan bahwa bocah korban akan mendorong dan mengejek putra kliennya setiap saat di sekolah.