Pabrik Pengolahan Kedelai di Bontang, Dianggap Ilegal dan Gunakan Air tak Layak Konsumsi

Selain itu, produksi tahu dan tempe mereka juga dinilai kurang higenis karena menggunakan air sungai sebagai bahan baku.

Pabrik Pengolahan Kedelai di Bontang, Dianggap Ilegal dan Gunakan Air tak Layak Konsumsi
Tribunkaltim.co, Ichwal Setiawan
DARI AIR SUNGAI - Produksi pabrik olahan kedelai menggunakan air sungai sebagai bahan baku. Pengusaha mengaku kualitas air dari PDAM tak baik jika digunakan untuk produksi tempe dan tahu. 

TRIBUNKALTIM.CO,Keberadaan  pabrik pengolahan kedelai di Kota Bontang masih  dinilai illegal karena belum mengantongi izin. Selain  itu, produksi tahu dan tempe mereka juga dinilai kurang higenis karena menggunakan air sungai sebagai bahan baku.

Sementara dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Bontang menilai bahwa  air sungai yang digunakan tak layak konsumsi.

Salah seorang pemilik pabrik yang memproduksi tahu dan tempe, Darmaji mengakui, bila  usahanya memang  didirikan di bantaran sungai.  Bukan hanya itu, air sungai menjadi bahan baku untuk produksi tahu tempe. Bahkan sungai tersebut juga digunakan untuk pembuangan limbah produksi.

Dari  pantauan tribunkaltim.co, pipa ukuran sedang menjulang ke permukaan air sungai. Pipa disambung dengan selang dan berakhir di 3 tandon yang berdiri di atas tak jauh dari tempat pembakaran.

Produksi pabrik olahan kedelai menggunakan air sungai sebagai bahan baku. Pengusaha mengaku kualitas air dari PDAM tak baik jika digunakan untuk produksi tempe dan tahu.
Produksi pabrik olahan kedelai menggunakan air sungai sebagai bahan baku. Pengusaha mengaku kualitas air dari PDAM tak baik jika digunakan untuk produksi tempe dan tahu. (Tribunkaltim.co, Ichwal Setiawan)

Darmaji mengaku  memilih menggunakan air sungai sebab dianggap lebih layak ketimbang air PDAM. Alasannya, karena  kualitas  air PDAM tak baik untuk produksi  dan aroma kaporit  tercium sehingga kualitas seperti itu tak bagus untuk produksi.

“Harus diinapkan dulu mas, paling sehari lah baru digunakan. Tapi kami pakai air PDAM kalau lagi kemarau saja. Kalau seperti sekarang (musim penghujan) pakai air sungai,” ujar Darmaji.

Ia tak sendiri. Tak jauh dari lokasi pabriknya, pabrik Tempe Asli HB juga berdiri di bantaran sungai. Lokasinya lebih ke hulu dari pabrik Darmaji.

Produksi pabrik olahan kedelai menggunakan air sungai sebagai bahan baku. Pengusaha mengaku kualitas air dari PDAM tak baik jika digunakan untuk produksi tempe dan tahu.

 Pengelola Tempe Asli HB, Aji Hadi bersama istrinya Rina Andriana juga menggunakan air sungai sebagai bahan baku. Hanya saja, ia mencampur air sungai dengan air sumur bor yang diperoleh dari depan rumahnya.

Produksi pabrik olahan kedelai menggunakan air sungai sebagai bahan baku. Pengusaha mengaku kualitas air dari PDAM tak baik jika digunakan untuk produksi tempe dan tahu.
Produksi pabrik olahan kedelai menggunakan air sungai sebagai bahan baku. Pengusaha mengaku kualitas air dari PDAM tak baik jika digunakan untuk produksi tempe dan tahu. (Tribunkaltim.co, Ichwal Setiawan)

Aji dan Rina baru tiga tahun menempati lokasi ini. Namun  demikian, ia sudah bisa memproduksi tempe mencapai 450 kuintal dalam sehari. “Yah kita pasarkan produk ke langganan di pasar-pasar,” ujar Aji kepada tribun saat ditemui di rumahnya.

Halaman
1234
Penulis: Samir Paturusi
Editor: Mathias Masan Ola
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved