HUT ke 74 Kemerdekaan RI
Terpencil, Setelah 74 Tahun Merdeka, Baru Kali Ini Warga Kampung Long Suluy, Berau Peringati HUT RI
Salah satu alasan mereka bersemangat ikut latihan baris-berbaris, karena untuk pertama kalinya, mereka merayakan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia
"Kami biasakan 5 menit sebelum masuk kelas dan pulang sekolah harus menyanyikan lagu wajib. Dan sekarang bisa lihat sendiri, mereka semua sudah hapal dan siap membawakan lagu wajib," ujarnya.
Tapi ada kendala lain. Ketika Bagian Humas dan Protokol Pemkab Berau memutar musik lagu Indonesia Raya, paduan suara itu tiba-tiba berantakan.
"Saya minta tidak usah pakai musik, karena mereka tidak mengikuti notasi," kata Kristina.
Kabag Humas dan Protokol Husdiono pun menyetujui permintaan itu. "Iya itu kami batalkan, tidak usah pakai musik," kata Husdiono saat mendampingi Kristina saat diwawancara Tribunkaltim.co.
Alasan lain mengapa warga Long Suluy tak pernah merayakan HUT RI, karena kesibukan mereka mencari nafkah.
BACA JUGA
Dari 68 Titik Hotspot Karhutla di Kaltim, Kukar dan Berau Berpotensi Paling Besar.
Dishub Berau Kalimantan Timur Dorong Operator Speedboat, Buka Rute Reguler Pulau Derawan dan Maratua
Tanggal 18 Agustus Ada Gerakan Menghadap Laut di Pantai Saloloang PPU, Juga di Balikpapan dan Berau.
Di kampung yang hanya 128 kepala keluarga ini, seluruhnya sangat bergantung pada hasil alam, seperti madu, gaharu, buah-buahan.
"Kalau musim panen padi dan buah hutan, musim madu, mereka semua tidak ada di kampung. Kampung ini sunyi sekali. Mereka meninggalkan kampung untuk panen. Anak-anak mereka semua dibawa ke dalam hutan, meninggalkan sekolah. Mereka membawa anak-anak karena khawatir tidak ada yang mengurus mereka di rumah," ungkapnya.
Perlahan-lahan, Kristina melakukan pendekatan kepada ketua adat, perangkat kampung dan juga para orang tua murid.
"Saya mulai mendekati mereka setahun yang lalu, meberikan pemahaman, agar sekolah mereka tidak terganggu. Kalau ada anak yang lebih tua yang bisa menjaga adiknya di rumah. Saya tidak mau orang-orang Long Suluy menjadi bodoh," tegasnya.
Bahkan, Kristina dan suaminya, tidak jarang harus keluar masuk hutan untuk menjemput anak-anak mereka agar bisa bersekolah.
"Saya dan suami harus menjemput anak-anak mereka di hutan naik ketinting melewati sungai dengan arus deras dan jeram. Mereka (murid SDN 001) sangat semangat belajar, tapi karena kesibukan orangtua mereka, terpaksa meninggalkan sekolah, sampai sekarang masih ada yang seperti itu. Saat musim madu dan musim buah, semua anaknya di bawa masuk ke hutan," sesalnya.
Perayaan HUT RI di Long Suluy ternyata menggugah semangat warga kampung.
Masyarakat juga antusias ketika ada pejabat yang jauh-jauh mendatangi mereka yang bermukim di pedalaman hutan Kalimantan ini.
"Saya sangat salut sekali, ada pejabat daerah yang datang sampai ke sini. Karena ini adalah kampung paling ujung, tidak ada kampung lain setelah ini," tandasnya.