Kondisi Papua Dikabarkan Sudah Kondusif, Tapi Polri Justru Tambah 1.200 Brimob, Ini Alasannya

Upaya meredam kerusuhan di Papua terus dilakukan Polri dan sejumlah pihak, dengan menambah 1.200 Brimob yang akan disebar di Papua dan Papua Barat

Editor: Rafan Arif Dwinanto
(TRIBUNNEWS/HERUDIN)
Brimob menjaga kantor Bawaslu saat bentrokan dengan massa di sekitar Jalan MH Thamrin Jakarta, Rabu (22/5/2019). Aksi massa yang menuntut pengungkapan dugaan kecurangan Pilpres 2019 berujung bentrok saat massa mulai menyerang polisi. 

Sebelumnya, pasca-kerusuhan di Fakfak, polisi mendatangkan 1 SSK Brimob, sementara sebanyak 2 SSK Brimob ke Timika.

Seperti diberitakan, aksi solidaritas Papua muncul di berbagai kota di Provinsi Papua dan Papua Barat, seperti yang terjadi di Manokwari, Jayapura dan Sorong, Senin (19/8/2019).

Unjuk rasa kemudian melebar ke Fakfak dan Timika, pada Rabu (21/9/2019).

Demonstrasi di kedua tempat juga sempat terjadi kerusuhan. Aksi unjuk rasa ini merupakan dampak dari perlakuan diskriminatif dan tidak adil yang dialami mahasiswa asal Papua di Surabaya, Malang dan Semarang, dalam beberapa waktu terakhir.

DEFILE-Personel Brimob defile melintas di hadapan Walikota Samarinda, Syaharie Jaang, Sekkot Sugeng Chairuddin, Dandim 0901 Samarinda Letkol INF, M Bahrodin, Kaplresta Kombespol Vendra Riviyanto, Wakapolresta AKBP Dedi Agustono 
pada HUT ke 73, di Lapangan GOR Segiri jalan Kusuma Bangsa Kota Samarinda, Kalimantan Timur, Rabu(10/7/2019)
HUT Bhayangkara bertema Dengan Semangat Promoter Pengabdian Polri Untuk Masyarakat, Bangsa dan Negara.(TRIBUNKALTIM/NEVRIANTO HARDI PRASETYO)
DEFILE-Personel Brimob defile melintas di hadapan Walikota Samarinda, Syaharie Jaang, Sekkot Sugeng Chairuddin, Dandim 0901 Samarinda Letkol INF, M Bahrodin, Kaplresta Kombespol Vendra Riviyanto, Wakapolresta AKBP Dedi Agustono pada HUT ke 73, di Lapangan GOR Segiri jalan Kusuma Bangsa Kota Samarinda, Kalimantan Timur, Rabu(10/7/2019) HUT Bhayangkara bertema Dengan Semangat Promoter Pengabdian Polri Untuk Masyarakat, Bangsa dan Negara.(TRIBUNKALTIM/NEVRIANTO HARDI PRASETYO) (TRIBUN KALTIM/NEVRIANTO HP)

Puluhan Kasus Pelanggaran HAM

YLBHI merilis puluhan kasus pelanggaran HAM yang dialami mahasiswa Papua di Tanah Air. Ini juga jadi pemicu kerusuhan di Papua, beberapa hari terakhir.

Dilansir dari Kompas.com, Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia ( YLBHI) mencatat, ada 30 pelanggaran hak asasi manusia ( HAM) yang dialami mahasiswa Papua sepanjang 2018 hingga pertengahan Agustus 2019 di beberapa daerah di Indonesia.

Tak Cukup Infrastruktur dan Undang-undang, Gubernur Papua Minta Perjanjian Khusus dengan Jokowi

YLBHI Beber Puluhan Kasus Pelanggaran HAM yang Dialami Mahasiswa Papua di Perantauan

Pastikan Situasi Normal, Ini Perintah Terbaru Jokowi untuk Papua, Singgung Percepatan Kesejahteraan

Arif Maulana dari LBH Jakarta mengatakan, selama periode 2018-2019, dugaan pelanggaran HAM yang dialami oleh mahasiswa Papua bukan hanya terjadi di Surabaya.

Melainkan juga di kota-kota lainnya.

"Di Surabaya ada 9 kasus, ini Surabaya dan Malang.

Dua kasus di antaranya baru saja terjadi.

Di Jakarta ada 4 kasus, di Semarang ada 4 kasus, di Bali ada 5 kasus, di Papua ada 8 kasus.

Jadi total ada 30 kasus," tutur Arif dalam konferensi pers di Kantor YLBHI, Jakarta Pusat, Kamis (22/8/2019).

Ia menyebut, 30 catatan dugaan pelanggaran HAM yang terjadi tersebut mulai dari intimidasi, ancaman kekerasan, tindakan rasis, penggerebakan asrama, pembubaran aksi diskusi, penangkapan, penangkapan sewenang-wenang hingga penganiayaan.

"Kalau bicara korban sudah banyak sekali.

Halaman
123
Sumber: Tribun Kaltim
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved