Pengakuan Edi Pranoto Anak Misem yang Selamat dari Aksi Pembunuhan 4 Bersaudara, Saminah Tertutup

Edi Pranoto selamat dari pembunuhan saudara di Banyumas, yang dilakukan Saminah kepada saudaranya yang lain. Terjadi rebutan warisan antar anak Misem

Pengakuan Edi Pranoto Anak Misem yang Selamat dari Aksi Pembunuhan 4 Bersaudara, Saminah Tertutup
(KOMPAS.COM/FADLAN MUKHTAR ZAIN)
Tersangka Irvan (32) dan Putra (27) melakukan adegan mengubur jasad korban di kebun belakang rumah Misem (76) warga Grumbul Karanggandul, Desa Pasinggangan, Kecamatan/Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Rabu (28/8/2019). 

Kalau itu saya juga tidak tahu secara persis.

Saat sering terjadi ribut itu saya tidak tahu dan tidak menyaksikan langsung karena posisi saya ada di rumah mertua.

Saya berkunjung ke rumah ibu (Misem) terkadang jika ada waktu libur, kadang Sabtu Minggu, untuk mengantar makanan.

Saat mengantar makanan itu, SaSaminah ya tidak ada omongan apa-apa, karena memang diam dan tertutup.

Saat mencari-cari saudara-saudara itu tak ketemu, apakah menduga sesuatu?

Saya sempat bertanya ke ibu (Misem), harus kemana mencari mereka (korban).

Lalu saya sempat diberi saran untuk pergi ke Purwokerto, akhirnya saya mencari ke Purwokerto.

Selama lima tahun saya bertanya-tanya kemana mereka sebenarnya.

Ibu juga memang memerintahkan untuk mencari ke sana (Purwokerto), saya jawab iya nanti saya cari ke Purwokerto karena Purwokerto itu luas.

Karena kebetulan anaknya Supratno kan kuliah di STAIN Purwokerto. Selepas hilang satu minggu itu saya pernah mencoba menghubungi nomor kakak (Supratno) tetapi tidak nyambung.

Sebagai saudara saya jelas ikut khawatir dan mencari. Saya juga sempat melaporkan ke kepolisian.

Semuanya sudah, pokoknya seminggu setelah menghilang itu saya lapor polisi.

Pernahkah curiga ada kejadian mengerikan ini?

Saya sama sekali tidak ada curiga dan kepikiran jika SaSaminah dan anak-anaknya itu membunuh.

Istilahnya masa sesama saudara sendiri tega.

Setiap kali bertanya kepada Saminah kemana mereka pergi, tetapi jawabannya waktu itu tidak tahu.

Karena kami jarang berkomunikasi akhirnya saya tidak menanyakan lagi terkait hal itu.

Saya waktu itu tidak mau panjang lebar.

Apalagi saya juga sudah punya keluarga, tetapi bagaimanapun juga saya masih suka berbagi waktu datang ke sini.

Pernahkah mimpi tentang saudara-saudaranya yang sudah lama tiada ini?

Saya hanya selalu kepikiran saja kemana mereka pergi. Bagaimanapun juga mereka itu adalah saudara kandung saya.

Jadi setiap kali itu seperti kebayang-bayang mereka terus dan saya terkadang masih suka bertanya dan mencari ke sesama teman mereka.

Misalnya saja teman kerja Supratno, kemudian ke Purwokerto bertanya ke teman Vivin (Pipin).

Kapan terakhir bertemu mereka saat masih hidup?

Ya ketika Lebaran pasti saya sempatkan datang dan ketemu mereka.

Waktu mereka hilang dan ibu sendirian di rumah, yang suka membawa makanan juga saya.

Jadi yang beli-beli makanan apa saja itu saya.

Kadang saat libur ibu kepikiran banget, saya ngomong kalau nanti berjodoh lagi ya nanti pasti pulang.

Apakah tidak khawatir akan dihabisi juga?

Kalau dulu biasa-biasa saja karena jarang ngomong-ngomongan (saling berbicara panjang) dengan SaSaminah.

Kalau sekarang karena tahu kejadiannya seperti ini ya takut.

Oleh karena itu hukumannya ya seumur hidup, karena kalau tidak, maka berpotensi bisa mengancam orang lain terutama ibu dan saya.

Kalau hukumannya ringan nanti otomatis akan timbul, dua kali kejahatan.

Orang kalau sudah jelek maka bisa berpotensi, bukan saya menuduh, maksudnya adalah mengantisipasi itu.

Pernahkah Saminah mengajak bicara warisan dengan Pak Edi?

Tidak pernah, kalau sama saya tidak pernah, termasuk yang katanya lahan itu diagunkan dan di foto-foto oleh pihak bank saja, saya juga tidak tahu.

Sehingga tidak ada omongan warisan dengan saya.

Setelah kejadian ini Misem tinggal seorang diri, bagaimana?

Nanti rencana ya akan ikut saya, kalau misalnya begitu, tetapi saya tidak mau memaksakan, karena saya tinggal juga bersama mertua.

Beda jika saya mengontrak, karena saya masih bersama mertua. Besok-besok saya akan coba tawarkan ke ibu maunya seperti apa. (*)

Editor: Rafan Arif Dwinanto
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved