Darurat Kabut Asap

Kisah Petugas Pemadam kebakaran Hutan di Kaltim, 9 Hari Bekerja, Alami Muntah dan Sakit Kepala

Sembilan hari petugas penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur berjuang

Penulis: Aris Joni | Editor: Januar Alamijaya
TribunKAltim/Aris Joni
Kebakaran lahan di Penajam Paser Utara 

TRIBUNKALTIM.CO - Sembilan hari petugas penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur berjuang memadamkan api dan asap yang muncul dari lahan gambut di RT 11 dan RT 12 Kelurahan Petung dan RT 03 Desa Giripurwa.

Tak tanggung-tanggung, para petugas gabungan dari BPBD PPU, Kodim 0913/PPU, Polres PPU, Yon Zipur 17, Manggala Agni, PMK, Distan, PT. Fajar Surya Swadaya, PT. KMS dan Warga sampai membuat posko penanganan di Balai Desa Giripurwa dan posko lapangan yang di didrikan Polres PPU di perbatasan PT. KMS dan Desa Giripurwa.

Perjuangan tak kenal lelah tampak di wajah para petugas yang semangat memadamkan api dan mempersiapkan alat pemadam dengan gotong-royong.

Becek-becekan, basah-basahan, debu hingga merasakan panas asap lahan gambut sudah menjadi santapan para petugas selama menangani Karhutla di lokasi tersebut.

Tak jarang, saat petugas sedang melakukan pemadaman di satu titik, muncul kembali api dan asap dititik yang lain. Sehingga petugas harus berpindah dan mengangkut peralatannya ke titik lahan lain yang terbakar.

Salah seorang petugas dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Ricky Purnairawan mengaku dirinya terpanggil untuk membantu memadamkan api atas dasar tanggung jawab dan sisi kemanusiaan.

"Sudah sembilan hari disini mas," ucap Ricky saat ditemui di Lokasi. Selasa (17/9/2019).

Hanya berbekal air mineral dan nasi bungkus, semangat para petugas terus membara untuk memadamkan api di lahan gambut tersebut. Terlihat beberapa petugas yang nampak lelah sedang beristirahat dan digantikan petugas lainnya. Suasana kebersamaan lintas instansi terlihat sangat terbangun dalam proses penanganan Karhutla di PPU ini.

Sementara itu, Kasubbid Logistik dan Peralatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten PPU, Nurlaila menuturkan, untuk penanganan karhutla seperti ini ditegaskannya sudah tidak ada tugas shift lagi, melainkan semua petugas sudah aktif mulai pagi sampai malam. Diakuinya, keluh kesah yang dialami petugas selama melakukan penanganan adalah adanya beberapa kondisi petugas yang menjadi menurun karena kecapean dan terhirup debu atau asap.

"Tapi kalau petugas sampai masuk rumah sakit, alhamdulillah gak ada. Paling cuma kecapean, masuk angin, muntah-muntah dan sakit kepala," ungkapnya.

Bahkan, dirinya sebagai koordinator petugas di lapangan sangat mengapresiasi kerja petugas dan dirinya mengaku tidak dapat membalas jasa para petugas yang rela kerja secara over time dan tidak mengenal waktu.

"Mereka itu sudah tidak mengenal waktu, jarak bahkan tidak mengenal sakit untuk memadamkan api di lokasi Karhutla, sungguh luar biasa para petugas kita," tuturnya.

Nurlaila juga menambahkan, dirinya turut serta di lapangan juga ingin merasakan langsung apa yang dirasakan petugas di lapangan. Selain itu, para petugas juga membutuhkan support yang besar dari pimpinannya, sehingga dirinya termotivasi selalu turun ke lapangan untuk menyemangatkan anak buahnya tersebut.

"Mereka juga butuh dukungan dari atasannya di lapangan dan perlu diarahkan. Jadi, saya turun ke lapangan untuk ikut merasakan apa yang mereka rasakan di lapangan," pungkasnya

Sumber: Tribun Kaltim
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved