Darurat Kabut Asap
Ditangkap Tim Gabungan TNI-Polri, Pria Ini Terbukti Telah Bakar Lahan untuk Dijadikan Kebun Sawit
Petugas gabungan dari TNI Kodim 0313/Kampar dan Polres Rokan Hulu (Rohu), Riau menangkap seorang pelaku pembakar hutan dan lahan
TRIBUNKALTIM.CO - Petugas gabungan dari TNI Kodim 0313/Kampar dan Polres Rokan Hulu (Rohu), Riau menangkap seorang pelaku pembakar hutan dan lahan ( karhutla).
Dandim 0313/Kampar Letkol Inf Aidil Amin mengatakan, pelaku berinisial KS (48) dan ditangkap terkait karhutla yang terjadi di Desa Pauh, Kecamatan Bonai Darussalam, Kabupaten Rohul.
Menurut dia, pelaku yang diamankan merupakan seorang petani.
• Api Kebakaran Hutan di Balikpapan Tiba-tiba Membesar, Warga yang Terkepung Asap Akhirnya Tewas
• Foto Ular Berkaki di Kebakaran Hutan Buat Heboh, Ahli Sebut Hal Biasa dan Ada Penjelasan Ilmiahnya
• Wiranto Sebut Kebakaran Hutan dan Lahan di Riau Tak Parah,Langsung Terbantah oleh Citra Satelit NASA
• Atasi Karhutla Sepanjang Musim Kemarau, BPBD Kota Balikpapan Tambah 2 Posko Kebakaran
Ia diduga membuka lahan dengan cara membakar.
"Pelaku kita tangkap bersama jajaran Polres Rohul pada, Sabtu (21/9/2019) sore," ucap Aidil, Minggu (22/9/2019).
Menurut dia, pelaku awalnya membabat lahan yang akan dijadikan kebun.
Kemudian, semak-semak yang dibabat dibersihkan lalu dibakar.
Berdasarkan keterangan sejumlah saksi, pelaku membuka lahan dengan cara dibakar untuk membuat kebun sawit.
Lahan yang dibakar kurang lebih 6 hektare.
Kebakaran itu terjadi sejak Minggu (15/9/2019).
Setelah melakukan penyelidikan, petugas mendapatkan bukti bahwa lahan tersebut sengaja dibakar oleh KS.
Petugas kemudian membentuk tim untuk mengamankan pelaku.
"Pelaku kita diamankan sedang memanen sawit di kebunnya.
Setelah diamankan, pelaku dibawa ke Polsek Bonai Darussalam untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut," ucap Aidil.

Adapun kabut asap yang melanda Riau saat ini akibat karhutla, terutama kebakaran lahan gambut di sejumlah wilayah di Riau.
Kabut asap ini diperparah asap karhutla dari wilayah Jambi dan Sumsel.
Masyarakat pun terkena dampaknya, mulai dari pusing, sesak napas, iritasi mata, atau muntah-muntah.
Polda Riau tetapkan 53 tersangka
Jajaran Kepolisian Daerah Riau telah menetapkan puluhan pelaku perorangan dan satu perusahaan sebagai tersangka kasus pembakaran hutan dan lahan.
Berdasarkan data hingga Kamis (19/9/2019), Polda Riau telah menetapkan 53 tersangka karhutla.
Satu di antaranya perusahaan sawit PT SSS yang berlokasi di Kabupaten Pelalawan.
Hingga saat ini, petugas juga masih melakukan penyelidikan sejumlah kasus karhutla di Riau.
"Jajaran Polda Riau sudah menetapkan 52 tersangka perorangan dan 1 tersangka korporasi," kata Kabid Humas Polda Riau Kombes Sunarto melalui keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Sabtu (21/9/2019).
Dia menerangkan, penetapan pelaku sebagai tersangka merupakan hasil dari penyelidikan tindak pidana karhutla sebanyak 51 kasus.
Sementara itu, dari 53 tersangka, sebanyak 30 kasus masih dalam penyidikan kepolisian.
"Satu kasus sudah P21. Kemudian 4 kasus tahap satu dan 16 kasus tahap dua, sedangkan luas areal yang dibakar para tersangka seluas 1.017,795 hektar," kata Sunarto.
Dia menambahkan, seluruh jajaran Polres di Riau sudah berhasil menangkap dan menetapkan pelaku karhutla sebagai tersangka.
Misalnya, jajaran Polres Rokan Hilir (Rohil) yang paling banyak menangkap tersangka karhutla sebanyak 9 orang.
Kemudian Polres Bengkalis dan Polres Dumai yang sama-sama menangkap 8 tersangka.
Begitu pula dengan Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Riau yang sudah menetapkan satu perusahaan sebagai tersangka.
Perusahaan sawit itu terbukti lalai menjaga lahan dari kebakaran.
Beberapa waktu lalu, Kapolda Riau Irjen Widodo Eko Prihastopo menegaskan bahwa Polri tidak akan bisa diintervensi dalam menindak pelaku karhutla.
"Polri akan bekerja secara profesional. Kami menindak tegas pelaku karhutla, baik perorangan maupun perusahaan," katanya.
Sebagaimana diketahui, hingga kini karhutla masih terjadi di sejumlah titik di Riau.
Kebakaran gambut yang terjadi mengakibatkan Bumi Lancang Kuning ditutupi kabut asap.
Kabut asap ini menyebabkan kualitas udara sangat tidak sehat hingga berbahaya.
Bencana ini mengakibatkan ribuan warga di Riau terserang penyakit, seperti batuk, sesak napas, pusing, iritasi mata, dan muntah-muntah.
Bahkan, dalam pekan ini, seorang bayi berusia tiga hari di Pekanbaru diduga meninggal akibat terpapar asap.
Sementara itu, Tim Satgas Karhutla Riau terus berupaya memadamkan api, baik melalui darat, water bombing, maupun menyemai garam untuk membuat hujan buatan.
Ibu hamil khawatirkan bayi di kandungan

Nurazmi (26), seorang ibu hamil delapan bulan terpapar kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Warga Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Riau, ini mengeluhkan batuk, sesak napas dan mata perih.
Untuk mengantisipasi bahayanya dampak kabut asap, Nurazmi memasang dakron di ventilasi udara rumahnya.
Cara itu dilakukan supaya partikel-partikel asap tidak sampai masuk ke dalam rumahnya.
Apalagi, di rumahnya tidak ada AC.
"Tadi dakron kami pasang di ventilasi rumah. Mudah-mudahan asap tidak masuk lagi," ucap Nurazmi saat ditemui Kompas.com di rumahnya, Jumat (20/9/2019).
Menurutnya, sejak dakron dipasang di ventilasi udara, asap mulai terhambat masuk ke dalam rumah.
Kabut asap cukup pekat di permukiman warga ini, yang sudah berlangsung lebih kurang sepekan.
Tapi, dalam tiga hari ini, kata Nurazmi, kabut asap bertambah pekat.
Karena selain asap dari karhutla di wilayah lain, juga diperparah asap kebakaran lahan yang terjadi wilayah Desa Rimbo Panjang. "Di sini kan juga ada lahan yang terbakar, jadi asap tambah banyak," sebutnya.
Istri dari Azwar (30) ini, sedang hamil anak kedua, yang sudah berjalan delapan bulan.
Anak pertamanya bernama Azam yang berusia satu tahun 11 bulan.
Putra pertamanya itu juga sudah terpapar asap.
Sudah sepekan Azam batuk pilek dan sesak napas.
Bahkan, Nurazmi sudah dua kali membawa anaknya ke rumah sakit untuk berobat.
"Udah enggak tahan rasanya dengan asap ini. Apalagi saya hamil delapan bulan. Saya khawatir anak saya nanti lahir langsung hirup asap," ungkap Nurazmi.
Dia sebenarnya sudah mau mengungsi dari rumahnya, karena sudah tidak tahan setiap hari menghirup asap bahaya tersebut.
• Bersyukur Hujan Turun, Walikota Balikpapan & Rombongan Tinjau Lokasi Kebakaran Lahan Tertunda
• BREAKING NEWS - Kebakaran Lahan Depan Mapolda Kaltim, Api Sudah Hanguskan 10 Hektar Semak Belukar
• Polres PPU Tetapkan Satu Tersangka Karhutla, Dianggap ada Kesengajaan Dalam Kebakaran Lahan
• Musim Kemarau dan Rawan Kebakaran Lahan, Pemkot Balikpapan Keluarkan 5 Imbauan
Namun, Nurazmi mengaku tidak tahu lokasi posko pengungsian yang mesti dituju.
Mau tak mau dia terpaksa bertahan di rumah.
"Saya enggak tau dimana ada posko pengungsian. Kalau posko kesehatan ada tadi dekat rumah. Jadi, ya bertahan di dalam rumah aja, meski enggak ada AC. Tapi pintu saya tutup terus," katanya.
(*)