Kisah Desa Muhuran, Hanya Berjarak 2 Jam dari Tenggarong, Hidup Mandiri Tanpa Listrik 24 Jam

Kisah Desa Muhuran, Hanya Berjarak 2 Jam dari Tenggarong, Hidup Mandiri Tanpa Listrik 24 Jam

Kisah Desa Muhuran, Hanya Berjarak 2 Jam dari Tenggarong, Hidup Mandiri Tanpa Listrik 24 Jam - pesta-rakyat-5-10112019.jpg
TRIBUNKALTIM.CO/ CHRISTOPER D
MUSISI LOKAL DI PESTA RAKYAT - Sejumlah kegiatan di desa Muhuran, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara, Minggu (10/11/2019).
Kisah Desa Muhuran, Hanya Berjarak 2 Jam dari Tenggarong, Hidup Mandiri Tanpa Listrik 24 Jam - pesta-rakyat-1-10112019.jpg
TRIBUNKALTIM.CO/ CHRISTOPER D
PESTA RAKYAT - Sejumlah kegiatan di desa Muhuran, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara, Minggu (10/11/2019)

Saking banyaknya buah yang ada, beberapa warga menyediakan meja berisi penuh mangga, serta pisau untuk dinikmati secara cuma-cuma.

Pesta rakyat tahun ini semakin bermakna karena bertepatan dengan Hari Pahlawan yang jatuh setiap tahunnya tanggal 10 November.

HASIL PANEN - Hasil panen warga Desa Muhuran, Kabupaten Kutai Kartanegara yang ditampilkan dalam Pesta Rakyat
HASIL PANEN - Hasil panen warga Desa Muhuran, Kabupaten Kutai Kartanegara yang ditampilkan dalam Pesta Rakyat (TRIBUNKALTIM.CO/ CHRISTOPER D)

Terdapat 678 jiwa dari 226 kepala keluarga (KK) penghuni Desa Muhuran.

Rata-rata mata pencaharian warga berupa tani dan nelayan.

Sejak Minggu (1/11/2019) pagi, sejumlah kegiatan telah dilaksanakan oleh Yayasan Bioma dan Yayasan Bumi, serta Fakultas Kehutanan (Fahutan) Universitas Mulawarman (Unmul),

mulai dari perlombaan bagi murid SD Negeri 016, pelatihan penerapan produk teknologi tepat guna kepada masyarakat sekitar, syukuran, mencok bareng hingga perlombaan perahu dan lomba mencok.

"Setiap kali panen kita adakan syukuran, ya pesta rakyat ini. Semua warga berkumpul disatu tempat, lalu berdoa, makan bersama hasil bumi.

Tahun ini sekitar 50 ton hasil panen," ucap Kepala Desa Muhuran, Ahmad Nur (44), Minggu (10/11/2019).

"Tahun ini bertepatan dengan Hari Pahlawan, semoga semua warga dapat memaknai hari Pahlawan ini dengan kegiatan yang bermanfaat," sambung Ahmad Nur.

Panen terjadi hanya setahun sekali. Sejauh ini hasil panen hanya mengandalkan air dari curah hujan.

Namun, pihaknya tengah melakukan pembenahan terhadap saluran irigasi agar tidak terus menerus bergantung terhadap cuaca.

Pasalnya, 2016 lalu warga Desa mengalami gagal panen akibat kekeringan yang melanda kawasan tersebut.

Sejauh ini, hasil panen padi masih diprioritaskan untuk kebutuhan masyarakat selama setahun.

Jika masih ada sisa, hasil panen berupa gabah dijual ke Desa terdekat, maupun ke Kota Bangun.

Pasalnya, hingga saat ini Desa Muhuran belum memiliki mesin pengolah gabah, hal itulah yang membuat warga belum dapat menjual beras.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Kaltim
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved