Kisah Desa Muhuran, Hanya Berjarak 2 Jam dari Tenggarong, Hidup Mandiri Tanpa Listrik 24 Jam
Kisah Desa Muhuran, Hanya Berjarak 2 Jam dari Tenggarong, Hidup Mandiri Tanpa Listrik 24 Jam
Penulis: Christoper Desmawangga | Editor: Rita Noor Shobah
Saking banyaknya buah yang ada, beberapa warga menyediakan meja berisi penuh mangga, serta pisau untuk dinikmati secara cuma-cuma.
Pesta rakyat tahun ini semakin bermakna karena bertepatan dengan Hari Pahlawan yang jatuh setiap tahunnya tanggal 10 November.

Terdapat 678 jiwa dari 226 kepala keluarga (KK) penghuni Desa Muhuran.
Rata-rata mata pencaharian warga berupa tani dan nelayan.
Sejak Minggu (1/11/2019) pagi, sejumlah kegiatan telah dilaksanakan oleh Yayasan Bioma dan Yayasan Bumi, serta Fakultas Kehutanan (Fahutan) Universitas Mulawarman (Unmul),
mulai dari perlombaan bagi murid SD Negeri 016, pelatihan penerapan produk teknologi tepat guna kepada masyarakat sekitar, syukuran, mencok bareng hingga perlombaan perahu dan lomba mencok.
"Setiap kali panen kita adakan syukuran, ya pesta rakyat ini. Semua warga berkumpul disatu tempat, lalu berdoa, makan bersama hasil bumi.
Tahun ini sekitar 50 ton hasil panen," ucap Kepala Desa Muhuran, Ahmad Nur (44), Minggu (10/11/2019).
"Tahun ini bertepatan dengan Hari Pahlawan, semoga semua warga dapat memaknai hari Pahlawan ini dengan kegiatan yang bermanfaat," sambung Ahmad Nur.
Panen terjadi hanya setahun sekali. Sejauh ini hasil panen hanya mengandalkan air dari curah hujan.
Namun, pihaknya tengah melakukan pembenahan terhadap saluran irigasi agar tidak terus menerus bergantung terhadap cuaca.
Pasalnya, 2016 lalu warga Desa mengalami gagal panen akibat kekeringan yang melanda kawasan tersebut.
Sejauh ini, hasil panen padi masih diprioritaskan untuk kebutuhan masyarakat selama setahun.
Jika masih ada sisa, hasil panen berupa gabah dijual ke Desa terdekat, maupun ke Kota Bangun.
Pasalnya, hingga saat ini Desa Muhuran belum memiliki mesin pengolah gabah, hal itulah yang membuat warga belum dapat menjual beras.