Selama Setahun Kasus Stunting di Balikpapan Menurun Drastis, Sisa 741 Kasus
Selama Setahun Kasus Stunting di Balikpapan Menurun Drastis, Sisa 741 Kasus
Penulis: Siti Zubaidah | Editor: Samir Paturusi
pensentase balita stuntin sebesar 31 persen dari total balita di Kota Bontang, Kalimantan Timur.
Jumlah ini alami penurunan sedikit dari 2017 sebesar 34 persen menjadi 31 persen di tahun 2018 lalu.
Kondisi ini membuat pemerintah mencetuskan program penanggulangan tumbuh kerdil. Rencananya, tahun depan pemerintah mengadakan mobil khusus untuk pelaksanaan program stunting.
"Sudah ada bank yang ingin menyalurkan unit mobil pendukung program inu," ujar Wali Kota Bontang, Neni Moernaieni kepada wartawan baru-baru ini.
Masalah stunting cukup komleks, sebab masih ada warga beranggapan balita tumbuh kerdil lantaran
faktor genetik yang diturunkan dari orang tua mereka.
Padahal, tumbuh kembang dipengaruhi pola makan (gizi seimbang), pola asuh dam kondisi lingkungan seperti kebersihan sanitasi.
"Jadi keliru kalau gen mempengaruhi tumbuh kembang," ujarnya.
Untuk itu, program cegah stunting bakal dikampanyekan secara massif dan intens kepada masyarakat melalui mobil stunting.
Mobil khusus ini bakal mengunjungi titik-titik keramaian serta posyandu untuk mensosialisasikan stunting kepada khalayak.
"Kampanye stunting mulai digalakkan pemerintah sejak lama, hanya saja mengubah paradigma
masyarakat dan memahamkan mereka butuh proses," katanya.
Lebih lanjut, selain sosialiasi pihaknya pun bakal menyediakan layanan perikza gizi dan imun kepada
warga. Layanan ini sudah mulai berjalan tahun ini. "Kedepan bakal kita tingkatkan lagi," ujar Neni.
Sisi lainnya di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur untuk kondisi stunting disikapi.