Selama Setahun Kasus Stunting di Balikpapan Menurun Drastis, Sisa 741 Kasus
Selama Setahun Kasus Stunting di Balikpapan Menurun Drastis, Sisa 741 Kasus
Penulis: Siti Zubaidah | Editor: Samir Paturusi
Sesuai pendataan kasus stunting (Bayi pendek) di Kaltim per-September tahun ini, Dinas Kesehatan
(Dinkes) Kaltim menetapkan Kabupaten Kutai Kartanegara (Kurkar) sebagai daerah dengan kasus
bayi stunting tertinggi di Kaltim, yakni sebanyak 3.397 Bayi Umur Lima Tahun (Balita) Stunting.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Provinsi Kaltim, Andi M Ishak mengungkapkan,
peringkat kedua dengan catatan balita stunting di Kaltim berada di Kota Balikpapan, yakni sebanyak 3.221 Balita stunting.
Kemudian, peringkat ketiga jatuh pada Kabupaten Paser, yakni sebanyak 3.751 Balita stunting.
“Pendataan ini, kita lakukan kepada 10 kabupaten kota se-Kaltim, pada Selasa (17/9/2019), pukul 19.59
WITA. Pendataan, kita lakukan melalui pencatatan dan pelaporan gizi berbasis masyarakat (e-PPGBM)
secara online,” ujarnya saat diwawancara awak Tribunkaltim.co di kantornya, di Jalan AW Syahranie, Kecamatan Samarinda Ulu, pada Jumat (20/9/2019).
Kasus terendah Balita stunting di Kaltim, dikatakan Andi, terdapat di Kabupaten Mahakam Hulu (Mahulu), dengan jumlah kasus stunting sebanyak 64 Balita.
Dibeberkan pula olehnya, jumlah keseluruhan kasus Balita stunting di Kaltim sebanyak 17.432 Balita.
Jumlah ini, disampaikan olehnya, lebih sedikit dari jumlah yang disampaikan sebelumnya.
“Kalau jumlah sebelumnya yang saya sampaikan sebanyak 20.641 kasus stunting, merupakan pendataan
yang dilakukan pada Juli lalu. Nah, kalau data terbaru yang saya sampaikan sekarang. Pendataan dilakukan
sama dengan sebelumnya, dilakukan sesuai nama dan alamat. Jadi pendataan dapat dikatakan valid,” tuturnya.
Adapun data jumlah keseluruhan Balita, Andi menyatakan, September ini pihaknya telah melakukan
pendataan kepada 147.019 Balita di seluruh Kalimantan Timur.
Kemudian, dituturkannya, Balita yang dilakukan pengukuran tinggi dan berat badan sebanyak 83.145
Balita. Lalu didapati, dibeberkan olehnya lagi, ada 17.432 Balita stunting.
“Artinya, dari 147.019 Balita di Kaltim, ada 20,97 persen kasus Balita stunting di Kaltim. Kemudian,
dibandingkan bulan Juli lalu, kasus balita stunting di Kaltim sudah mengalami penurunan. Terbukti, dari
20.641 balita stunting yang didata Juli lalu, mengalami penurunan menjadi sebanyak 17.432 balita stunting,” jelasnya.
Penurunan data, disampaikan Andi, selain telah tertangani dengan baik ada pula dengan cara pengeluaran
data anak yang sudah diatas 5 tahun. Sehingga, sesuai pencatatan dan pendataan saat ini, diaampaikan olehnya lagi, sudah merupakan jumlah keseluruhan balita.
“Terjadi mutasi balita yang lebih sari 5 tahun, akan dikeluarkan dari sistem secara otomatis. Sebab,
pendataan bulan Juli lalu dengan sekarang ada perbedaan jumlah. Dan ada pula, saat memasuki bulan
September yang sebelumnya balita sekarang sudah berumur diatas 5 tahun,” jelasnya.
Melihat angka balita stunting begitu besar di Kaltim, Andi menyatakan, kondisi Kaltim masuk pada tingkat mengkhawatirkan.
untuk itu, dibeberkan olehnya, pemerintah saat ini memiliki strategi dalam menyikapi persoalan ini.
Sehingga, dijelaskan Andi, nantinya kasus stunting di Kaltim akan dapat ditekan.
“Saat melihat angka yang dikeluarkan usai pendataan, kami pun kaget melihatnya. Ternyata,
potensi stunting di Kaltim ini sangat besar sekali. Dan, bisa dikatakan masuk dalam tahap
mengkhawatirkan. Pemerintah pusat pun menetapkan dua kabupaten untuk dijadikan lokasi program
percepatan penurunan stunting., yakni Kabupaten Panajam Paser Utara (PPU), dan Kabupaten Kutai Barat (Kubar),” katanya.
Dijelaskannya lagi, dari 17.432 balita stunting, tidak semua balita tersebut terganggu pertumbuhan otaknya.
Hanya saja, potensi besar akan terganggu pertumbuhan otaknya apabila pemerintah terlambat dalam menindaklanjuti program. (*)
Langganan berita pilihan tribunkaltim.co di WhatsApp klik di sini >> https://bit.ly/2OrEkMy
