Senin, 27 April 2026

Ketum Partai Gelora Anis Matta Paparkan Alasan Keluar dari PKS

Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat ( Gelora ) Indonesia Anis Matta menjawab sebutan sebagian pihak bahwa dirinya bagian dari yang berguguran

Editor: Budi Susilo
HO/GELORA
Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat ( Gelora ) Indonesia Anis Matta menjawab sebutan sebagian pihak bahwa dirinya bagian dari yang berguguran di jalan dakwah, karena meninggalkan Partai Keadilan Sejahterah ( PKS ). 

TRIBUNKALTIM.CO, JAKARTA - Ketum Partai Gelora Anis Matta paparkan alasan keluar dari Partai Keadilan Sejahterah atau PKS

Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat ( Gelora ) Indonesia Anis Matta menjawab sebutan sebagian pihak bahwa dirinya bagian dari yang berguguran di jalan dakwah, karena meninggalkan Partai Keadilan Sejahterah ( PKS ).

Jawaban tersebut disampaikan Anis Matta setelah mendapat pertanyaan dari salah satu peserta dalam acara Ngeshare (Ngaji Syar'ie).

Menurut Anis, dirinya tidak pernah mensakralkan lembaga, di mana waktu bergabung dengan PKS semata-mata karena cita-cita.

Baca Juga: Pembatasan Aktivitas Jam Malam Lantaran Pandemi Covid-19, Begini Tanggapan PHRI Samarinda

Baca Juga: Bangun Ibu Kota Negara, Penajam Paser Utara Strategis, Jadi Bahan Penelitian Universitas Pertahanan

Baca Juga: Kapal Ferry yang Tenggelam di Kutai Timur Ditarik Pemilik Kapal, Satu ABK Masih dalam Pencarian

"Cita-cita yang sama juga yang membuat saya mendirikan Partai Gelora, ketika saya merasa bahwa di tempat yang lama cita-cita ini, tidak bisa kita wujudkan," papar Anis dalam keterangannya, Jakarta, Minggu (13/9/2020).

Anis menjelaskan, tidak boleh ada upaya untuk mensakralkan sebuah lembaga, apalagi itu organisasi politik dengan cara membatasi perbedaan pendapat dalam perjuangan.

Sebab, kata Anis, organisasi tersebut adalah sarana untuk mencapai tujuan, meskipun cara yang dilakukan berbeda-beda.

"Sebenarnya kita ada jebakan besar bagi kaum Islamis (Harakah Islam) yaitu Sakralisasi Lembaga atau taqdisul wasail (meng-qudus-kan sarana)," ujarnya.

"Janganlah kita mengubah apa yang merupakan sarana (lembaga/organisasi/partai) menjadi tujuan. Itu tidak boleh," kata Anis.

Anis menyebut, perbedaan pendapat dalam sarana perjuangan adalah hal yang wajar dalam kehidupan sehari-hari, bahkan jika melihat-lihat sejarah, maka perbedaan pendapat juga terjadi di masa Khulafaur Rasyidin.

Tetapi perbedaan pendapat yang terjadi di PKS, dinilai Anis, tidak sedahsyat yang terjadi di masa Khulafaur Rasyidin yang melahirkan serangkaian perang.

"Kalau kita kan lebih kecil dari situ. Jadi, sebenarnya saya tidak terganggu dengan istilah-istilah 'Yang Berguguran di Jalan Dakwah', karena itu penempatan yang salah," paparnya.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved