Breaking News:

Hakikat Berbagi Roti dan Kopi ala Turki dan Prancis

SEMBARI sahur pada subuh ke-7 bersama (waktu itu) Kepala Gugus Tugas Covid-19 Letjen TNI Doni Monardo, di lantai 10 Graha BNPB

Editor: Tohir
Ilustrasi
Tradisi berbagi roti telah dijalankan orang Turki sejak beberapa abad lalu 

SEMBARI sahur pada subuh ke-7 bersama (waktu itu) Kepala Gugus Tugas Covid-19 Letjen TNI Doni Monardo, di lantai 10 Graha BNPB, mata saya asyik menyaksikan sebuah tayangan di grup WA.

Sumbernya Diyanet TV, sebuah stasiun televisi yang dikelola kantor urusan agama pemerintah Turki. Tayangan berdurasi 3:09 menit itu sungguh memberi bermakna dalam terhadap hakikat “berbagi”.

Baiklah, supaya lebih memahami bagaimana “berbagi” menjadi begitu mulia, saya kisahkan apa yang ada dalam film pendek itu. Yakni pemandangan di sebuah kedai roti. Ini benar-benar kedai sederhana yang dikelola pria paruh baya berbadan subur. Letak kedai roti itu ada di tepi jalan besar. Bagian depan digunakan untuk memajang roti khas Turki yang dinamakan ekmek.

Orang Turki belum berasa makan kalau belum menyantap ekmek. Mirip nasi bagi orang Indonesia. Sekilas kedai itu memang hanya ada dua bagian. Bagian depan untuk memajang ekmek.
Beli Delapan Disedekahkan Empat

Tampak ada satu keranjang yang digantungkan di tiang sisi kanan. Bagian belakang adalah tungku besar untuk memanggang ekmek. Datanglah seorang pria membeli delapan potong ekmek. Tapi pembeli hanya mengambil empat. Empat lainnya diamanahkan kepada penjual untuk disedekahkan kepada yang memerlukan.

Sang penjual lalu memisahkan empat ekmek amanah tadi, dan memasukkannya ke dalam keranjang gantung. Tak lama kemudian, datang si "miskin" memohon sekerat-dua-kerat ekmek, yang barangkali ada bagian rezekinya di kedai itu. Penjual roti tadi melayani dengan baik.

Segera ia mengambil tas dan memasukkan empat potong ekmek, dan menyerahkannya kepada si miskin. Lalu, si "miskin" mengembalikan yang dua. Benar. Ia hanya perlu dua potong ekmek yang memang berukuran besar itu. Dua lainnya, ia minta dimasukkan kembali ke keranjang gantung, yang mungkin saja akan sangat berarti bagi si lapar lain.

Saya tercekat melihat sikap si miskin tadi. Ia miskin, tetapi hatinya kaya budi pekerti. Tak lama setelah kedatangan si miskin, datang seorang wanita membeli empat ekmek. Lagi-lagi, ia tampak mengeluarkan dua, dan mengamanahkan kepada penjual untuk dibagikan kepada yang membutuhkan.

Dengan senyum ramah, si penjual mengangguk dan memasukkan sedekah dua potong ekmek ke dalam keranjang gantung. Seketika tersaji pelajaran budi pekerti yang sangat agung. Si kaya tidak kikir, si miskin tidak tamak, dan si penjual tidak khianat.

Budaya Masa Usmaniyah
Begitu menyentuh tayangan tadi, membuat saya mencari tahu tradisi apa gerangan yang tampaknya begitu membudaya di kehidupan sehari-hari masyarakat Turki.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved