Industri Sawit Bisa Penuhi Kebutuhan Domestik Juga Dunia
Wakil Ketua Umum KADIN bidang Agribisnis, Pangan dan Kehutanan Franky O. Widjaja mengatakan, bahwa industri sawit tidak hanya menopang perekonomian.
Penulis: Heriani AM | Editor: Samir Paturusi
TRIBUNKALTIM.CO,BALIKPAPAN - Wakil Ketua Umum KADIN bidang Agribisnis, Pangan dan Kehutanan Franky O. Widjaja mengatakan, bahwa industri sawit tidak hanya menopang perekonomian.
Industri kelapa sawit juga mendorong kesejahteraan rakyat sebagai sektor yang padat karya.
Ia membeberkan, setidaknya 16 juta masyarakat Indonesia bergantung hidup terhadap industri kelapa sawit, baik langsung maupun tidak langsung.
Selain itu, dengan peningkatan populasi dunia dan permintaan pasar akan minyak nabati, Franky mendorong industri sawit untuk menopang ketahanan pangan dunia.
Baca Juga: Dorong Kreativitas Pelajar, Bank Indonesia Balikpapan Gelar Festival Cerita Literasi Uang Rupiah
Baca Juga: Perkembangan Inflasi, Bank Indonesia Ungkap Kaltara Alami Inflasi 0,54 Persen
Baca Juga: Peresmian Kas Titipan Bank Indonesia di Kabupaten Nunukan, Penggunaan Rupiah Meningkat di 2019
"Sawit sebagai minyak nabati yang paling produktif dan efisien dibandingkan minyak nabati lainnya sehingga mampu memenuhi kebutuhan pasar dunia," ujar Franky secara daring, Minggu (6/12/2020).
Minyak sawit memproduksi setidaknya 5 ton per hektar per tahun, sehingga hanya membutuhkan 40 juta hektar untuk memenuhi kebutuhan pangan dunia.
Sementara itu, kedelai dengan produksi rata-rata produksinya 0,45 MT/ha per tahun maka membutuhkan 445 juta hektar lahan.
Serta kanola yang produksi rata-ratanya 0,78 MT/ha per tahun membutuhkan lahan seluas 290 juta hektar.
"Dengan potensi yang besar, kita yakini industri sawit Indonesia mampu memenuhi pangsa pasar domestik juga dunia terlebih jika terus mampu meningkatkan produktivitas," pungkasnya.
Untuk diketahui, kinerja ekspor produk pertanian dan non pertanian Kalimantan Timur berdasarkan informasi yang dihimpun, termasuk dari ampas sawit sejak Januari hingga April 2020, baik sebelum maupun saat pandemi Covid-19 meningkat dibandingkan periode yang sama di tahun 2019.
Ekspor kedua komoditi tersebut sudah dilakukan pelaku usaha sebanyak 48 kali, dengan nilai keseluruhan Rp 187,914 miliar.
Dibandingkan periode yang sama tahun 2019 yang nilainya Rp Rp 43,242 miliar, telah tercapai kenaikan empat hingga lima kali lipat dari target tiga kali lipat.
