Berita Balikpapan Terkini
Arnesta Batik Balikpapan Akui Pesanan Turun 50 Persen, Tetap Optimistis 2021 Kembali Normal
Tahun 2021 masih masih menjadi tahun yang menantang untuk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Penulis: Heriani AM | Editor: Samir Paturusi
TRIBUNKALTIM.CO,BALIKPAPAN- Tahun 2021 masih masih menjadi tahun yang menantang untuk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Karena itu, optimisme harus dibangun.
Data Kementerian Koperasi dan UKM menyebutkan, 90 persen kegiatan UMKM terganggu akibat pandemi virus corona (Covid-19).
Banyak faktor yang membuat daya tahan UMKM tak seperti krisis-krisis sebelumnya.
Baca juga: Thohari Aziz Wafat, Pengamat Hukum dari Unmul Angkat Bicara Soal Pelantikan Walikota Balikpapan
Baca juga: Perpanjangan PPKM Berlaku Mulai Hari Ini, 4 Parameter Tunjukkan Kondisi Balikpapan Saat Ini
Sebut saja pada 1998 dan 2008, di mana UMKM mampu menjadi motor penggerak perekonomian disaat hampir semua perusahaan konglomerasi kolaps. Saat itu UMKM cukup tahan banting.
Berbeda halnya saat ini. UMKM masih menghadapi masa sulitnya termasuk Arnesta Batik Balikpapan.
Industri yang beralamat di Jl Mulawarman I No 02, Kelurahan Sepinggan Raya Balikpapan, merupakan pelopor brand batik lokal di Bumi Etam dan Kota Beriman.
Adalah Ronest Triyono. Seorang perantau dari tanah Jawa.
Ia yang memang dasarnya gemar menggambar, berniat ingin mengembangkan ciri khas berupa kain Indonesia yang bergambar dengan menerakan malam itu di Kaltim.
"Ke sini (Balikpapan) tahun 2001. Namun waktu itu bawa motif bukan khas Kaltim bukan Balikpapan. Dan memang belum ada (motif khas)," ujar Ronest yang ditemui di ruang kerjanya, Minggu 31 Januari 2021.
"Saya datang bawa motif Cirebon. Saya pasarkan keliling door to door, ke Kebun Sayur, banyak menolak," kenangnya.
Baca juga: Kepala Bandara APT Pranoto Samarinda Akui Rekan-rekannya di Tempat Lain Ada yang Terjerat Narkoba
Baca juga: Remaja Tewas di Jalan Poros Samarinda Bontang, Diduga Kecelakaan Lalu-lintas Tanpa Memakai Helm
Ia kemudian memutar ide. Yang terlintas dipikirannya saat itu adalah memproduksi motif lokal. Dimana pasar yang ia bidik waktu itu memang pasar souvenir.
"Akhirnya saya design motif khas Kaltim. Motif pertama yang saya buat adalah menara bandara lama Sepinggan," terusnya.
Arnesta Batik dengan motif khas Kaltim, mulai efektif menjangkau pasar-pasar pada tahun 2003 ke 2004.
Seiring berjalannya waktu, lahir motif Balikpapan pada 2012 lewat lomba design.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/pemilik-arnesta-batik-ronest-triyono.jpg)