Berita Kukar Terkini
Tuntut Ganti Rugi Tanam Tumbuh, Warga Loa Kulu Demo di Depan Kantor DPRD Kukar
Puluhan warga Kecamatan Loa Kulu menggelar aksi demonstrasi di depan kantor DPRD Kutai Kartanegara (Kukar) pada Kamis, (8/4/2021).
Penulis: Aris Joni | Editor: Samir Paturusi
TRIBUNKALTIM.CO, TENGGARONG - Puluhan warga Kecamatan Loa Kulu menggelar aksi demonstrasi di depan kantor DPRD Kutai Kartanegara (Kukar) pada Kamis, (8/4/2021).
Aksi tersebut terkait tuntutan warga perihal adanya penggusuran secara sepihak.
Bukan hanya itu, juga belum jelasnya ganti rugi tanam tumbuh warga oleh pihak perusahaan yang diduga PT MHU kepada masyarakat.
Baca Juga: Soal Dugaan Limbah Perusahaaan Migas Cemari Air Sangasanga Kukar, Ini Tanggapan Jatam Kaltim
Baca Juga: Warga Sanga-sanga Kukar Keluhkan Limbah Perusahaan yang Cemari Air Sungai
Dari informasi yang dihimpun, terdapat sebanyak empat desa di Kecamatan Loa Kulu dalam tuntutan tersebut, diantaranya Sungai Payang, Lung Anai, Jembayan Dalam dan Jembayan Tengah.
Saat ditemui di lapangan, Koordinator Aliansi Masyarakat Menuntut Keadilan, Samsu Arjaman mengungkapkan, tuntutannya tersebut berjalan sejak 2019 hingga tahun 2021 dengan proses perjalanan panjang yang sudah di tempuh diantaranya ke Pemerintah Provinsi Kaltim dan ke DPRD Kukar.
“Kami menuntut tanam tumbuh kami diganti rugi perusahaan,” ujarnya kepada awak media.
Baca Juga: Ramadhan di Kutai Kartanegara, Kegiatan Berbuka Bersama Dibolehkan Kemenag Kukar
Baca Juga: Curi Perahu di Sanga Sanga Kukar, Pemuda Asal Samarinda Ini Ditangkap Warga
Ia menjelaskan, sebanyak 6 warga termasuk dirinya yang masih bertahan untuk memperjuangkan tanam tumbuh mereka dan didukung oleh para simpatisan warga yang juga mengalami penggusuran.
“Ada enam orang yang menuntut, simpatisan yang ikut tergusur juga ikut turun lapangan, karena dulu mereka tidak berani karena dihantam kan ke aparat,” ungkap pria yang akrab disapa Pak Tikong.
Ia menjelaskan, dari enam warga tersebut terdapat salah satu warga yang memiliki lahan tanam tumbuh seluas 5,5 hektar sudah ditanami pohon karet dan telah diproduksi, namun sayangnya telah digusur sejak dua tahun lalu.
“Kemudian dari perusahaan menawarkan Rp 40 juta per hektare ke warga, sedangkan saat penggusuran, tanam tumbuh warga bisa setiap 10 hari bisa menghasilkan bersih Rp 6 juta,” terangnya.
Baca Juga: Datang Puting Beliung, 1 Rumah Tertimpa Pohon Tumbang di Kukar, BMKG Prediksi Kedepan Hujan Lebat