Abrasi Sungai di Samarinda
Abrasi di Bawah Jembatan Mahkota Dua Samarinda, PT Nindya Karya Targetkan Pengerjaan 2 Minggu
Pascalongsor di bawah kolong Jembatan Mahkota Dua, Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur, pada proyek Instalasi Pengolahan Air
Penulis: Mohammad Fairoussaniy | Editor: Budi Susilo
TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Pascalongsor di bawah kolong Jembatan Mahkota Dua, Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur, pada proyek Instalasi Pengolahan Air (IPA) Kalhol yang terjadi Minggu (25/4/2021) lalu.
Pihak kontraktor berjanji akan segera menangani dampak abrasi yang disusul longsoran ini.
11 hari pascalongsor, pihaknya mengakui, menganalisis cara apa yang tepat agar segera menangani longsoran.
Tujuannya agar tidak meluas dan membahayakan pondasi Jembatan Mahkota Dua yang disebut-sebut bergeser.
Baca Juga: Abrasi Sungai Berdampak ke Jembatan Mahkota Dua Samarinda, KSOP Ingatkan Kapal Jaga Jarak
Rensi selaku Penanggung Jawab Proyek IPA Kalhol dari pihak kontraktor PT Nindya Karya (Persero) menyampaikan pada Tribunkaltim.co, tentunya akan segera menangani hal ini.
"Ini tadi memang kami membahas rencana terkait penanganannya. Karena ini memang harus segera cepat ditangani, terkait longsoran di Jembatan Mahkota II, yang pasti kita harus segera menahan longsoran itu agar tidak semakin besar," tegasnya, Rabu (5/5/2021).
"Tapi memang analisa masih kita susun dengan tim jembatan, dan kita harus banyak meminta banyak pertimbangan," imbuh Rensi.
Pengerjaan diakuinya memang banyak meminta pertimbangan dari banyak pihak termasuk para ahli serta pihak yang berwenang.
Baca Juga: Abrasi Sungai di Samarinda, Penimbunan Nihil Koordinasi, 150 Meter dari Proyek Harus Tiada Bangunan
"Kesungai kita harus minta pertimbangan, ke pemilik jembatan juga harus minta," kata Rensi.
Ditambahkan Rensi, terkait pengerjaan pascaabrasi disusul longsor di kolong Jembatan Mahkota Dua ini.
Juga nantinya direncanakan akan dilakukan Sheet Pile, Bored Pile, dan akan ada pemancangan di sekitar lokasi.
"Jadi memang ini untuk perbaikan seperti apa kami masih diskusikan, tapi akan segera kami kerjakan," katanya.
Baca Juga: Abrasi Sungai Dekat Jembatan Mahkota Dua, DLH Samarinda Telusuri Izin Lingkungannya
"Ketika desain itu jadi kami akan segera putuskan dan kami akan segera laksanakan pengerjaan itu," jelas Rensi.
Ditanya bahwa penangangan longsor diserahkan sepenuhnya ke PT Nindya Karya (Persero), Rensi, mengatakan.
Bahwa jika pengerjaan tidak sepenuhnya dilakukan pihaknya, tetapi kolaborasi bersama banyak pihak.
"Tidak juga (sepenuhnya kami) karena ini kerja bersama, jadi begitu. Dari kami, owner kami, kemudian dari pihak jembatan memang kami kolaborasi semuanya," sebutnya.
Baca Juga: Pencarian Hari Kedua Korban Abrasi Dekat Jembatan Mahkota 2 Samarinda, Tim SAR Sisir Satu Kilometer
Menyinggung target pengerjaan penanganan pascalongsor serta metode apa yang akan dipakai pihaknya.
Dia pun menjawab dalam minggu-minggu ini berharap sudah mendapat desain.
Tadi ada beberapa analisa juga, jadi mungkin 2 minggu sudah bisa dimulai.
"Untuk metodenya seperti apa masih kami bahas, masih banyak masukan yang perlu kami pertimbangkan, dengan desain dan kondisi yang sekarang," pungkasnya.
Penimbunan Nihil Koordinasi
Berita sebelumnya. Pengerjaan proyek Instalasi Pengolahan Air (IPA) Kalhol di pinggir sungai dekat kawasan Jembatan Mahkota Dua tiada berizin.
Proyek itu juga dikatakan mengerjakan penimbunan tanah urug di sekitar area kerja persis di bawah Jembatan Mahkota Dua.
Keberadaan kawasan itu ada di Kelurahan Simpang Pasir, Kecamatan Palaran, Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur, yang kemudian mengalami abrasi.
Baca Juga: Abrasi Sungai Dekat Jembatan Mahkota Dua, DLH Samarinda Telusuri Izin Lingkungannya
Baca Juga: BREAKING NEWS Tepi Sungai Bawah Jembatan Mahkota 2 Samarinda Abrasi, Satu Orang Tenggelam dan Hilang
Usai terjadinya abrasi, tanah yang ditimbun di atas perairan Sungai Mahakam ini diklaim sebagai metode teknis sebelum pihak pelaksana proyek memancang untuk pondasi untuk membangun Instalasi Proyek Pengolahan Limbah, yang juga masuk dalam paket pengerjaan PT Nindya Karya (Persero) sebagai pelaksana.
Demikian disampaikan oleh Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Samarinda Hero Mardanus melalui Kasi Pemeliharaan Jalan dan Jembatan Bidang Bina Marga DPUPR Samarinda, Budi Santoso kepada Tribunkaltim.co.
Saat dikonfirmasi, dirinya menjelaskan, mengenai adanya palung (bagian terdalam sungai) di sekitar proyek timbunan tanah, dia membenarkan.
Baca Juga: Kronologi Korban Abrasi di Pinggir Sungai Dekat Jembatan Mahkota Dua Samarinda, Sedang Memancing
Baca Juga: Walikota Samarinda Turunkan Tim PUPR dan Konsultan Jembatan Mahkota Dua, Selidiki Abrasi Tanah Urug
Palung yang ada letaknya 15 sampai 20 meter dari bibir sungai area terdalam.
Jarak paling jauh itu dipinggir. Karena dalamnya sungai mahakam itu didaerah pinggir. Jadi pas dipinggir langsung ketemu palung.
"Mulai awal mereka pengerjaan proyek presentasi, kami selalu menolak karena ada aturan menteri yang tidak memperbolehkan dalam radius 150 meter ada bangunan atau kegiatan (selain proyek)," jelasnya, Selasa (27/4/2021).
"Itu mereka sudah tau dan sudah koordinasi. Tapi waktu itu mereka juga enggak ada izin buat pengurugan itu kan," sambung Budi Santoso.
Pelaksana proyek pengolahan limbah ini menurut Budi Santoso jika melakukan penurapan terlebih dahulu sebelum melakukan penimbunan tanah, maka kemungkinan abrasi diperkirakannya kecil terjadi.
"Sebenarnya masalahnya diturap. Kalau diturap duluan ya Insya Allah mungkin enggak bakal longsor (abrasi)," sebutnya.
Baca Juga: Proyek Penimbunan Tanah di Lokasi Abrasi Pinggir Sungai Dekat Jembatan Mahkota 2 Samarinda
Baca Juga: Usai Abrasi Sungai, Penutupan Jembatan Mahkota 2 Samarinda Tunggu Pengukuran Tingkat Kemiringan
Disinggung masalah turap dan kesalahan teknis yang dilakukan oleh pihak pelaksana proyek, Budi Santoso yang juga pernah menjadi pengawas Jembatan Mahkota II, tidak bisa menjawab lebih jauh.
"Saya tidak bisa menjawab ranah tersebut karena bukan pekerjaan kota (kami). Jadi, saya tidak bisa jawab secara detail. Saya tidak tahu laporan teknis pekerjaan mereka," ungkapnya.
Budi Santoso lalu menyampaikan kembali terkait palung disekitar tanah abrasi, setelah kejadian pada Minggu (25/4/2021) lalu sudah disampaikan juga ke penanggung jawab proyek IPA Kalhol.
"Mereka sebut tidak tahu, nah ini bagaimana sih perencanaan kerjanya begitu. Tidak ada minta ke kami (DPUPR), yang lebih tahu di perencana Mahkota Dua itu. Seharusnya mereka berkoordinasi dulu. Tanya-tanya lah sama konsultannya," sebutnya.
"Jadi tahu apa yang ada dan situasi di sana. Saya sudah lapor ke dirut jembatan kemarin kami mengadakan zoom meeting dari pusat," sambungnya.
Bertanya mengenai rapat yang diselenggarakan selepas kejadian abrasi yang akhirnya menyebabkan Jembatan Mahkota Dua mengalami pergeseran.
Budi Santoso menjelaskan kesimpulan akan diminta analisa hasil advice rancangan bangunan pertama. Karena jembatan ini masih tanggungjawab pusat.
"Nanti advice nya dari KKJT (Komisi Keselamatan Jembatan dan Terowongan) pasti koordinasi dengan Pemkot dan pihak Balai Proyek. Yang penting bisa diketahui dulu ada bergeser dampaknya enggak," timpalnya.
Tindaklanjut sendiri dari Dinas PUPR Samarinda menunggu zoom meeting dari hasil yang sudah laporkan oleh pihaknya.
"Saya juga sudah ada menunjuk konsultan jembatan periksa dilapangan. Sudah dua hari ini bekerja," katanya.
"Rencana kita lakukan pemantauan berkala selama satu minggu berturut turut ada geseran," ujarnya.
"Ini saya juga masih menunggu laporan mereka untuk hari ini," pungkasnya lagi.
Penulis M Fairoussaniy | Editor: Budi Susilo
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/minggu-25-mei.jpg)