Senin, 27 April 2026

Ekonomi dan Bisnis

Berikut Pemegang Saham Terbesar dari GoTo, Bukan Perusahaan Indonesia

Duo startup unicorn Indonesia Gojek dan Tokopedia berkolaborasi untuk merger dan melahirkan grup usaha terbaru bernama GoTo

Editor: Budi Susilo
HO/KOMPAS.COM
Super ekosistem GoTo yang tercipta berkat kolaborasi bisnis antara Gojek dan Tokopedia dinilai tidak akan mendominasi pasar digital di Indonesia. 

TRIBUNKALTIM.CO, JAKARTA - Duo startup unicorn Indonesia Gojek dan Tokopedia berkolaborasi untuk merger dan melahirkan grup usaha terbaru bernama GoTo.

Namun, dibalik bersatunya dua perusahaan itu ternyata bukan disokong oleh perusahaan asal Indonesia.

Lahirnya GoTo, rupanya diinisiasi oleh dua gurita korporasi yang jadi pemegang saham terbesarnya adalah SoftBank asal Jepang dan Alibaba Group dari China.

SoftBank dan Alibaba memang telah menjadi penyokong suntikan modal Gojek dan Tokopedia sejak beberapa tahun terakhir untuk pengembangan usahanya.

Baca Juga: Kehadiran GoTo Bukan Ancaman tapi Solusi Bagi Ekonomi Indonesia

Mengutip dokumen yang dirilis oleh Nikkei Asia Review, Selasa (25/5/2021), ada fakta menarik di balik pemegang saham mayoritas GoTo.

Dalam laporan itu, 58 persen saham GoTo akan dimiliki oleh Gojek dan sisanya 42 persen milik Tokopedia.

Sementara itu, SoftBank Group bakal menguasai 15,3 perseb saham GoTo dab Alibaba Group Holding dengan mendapat jatah 12,6 persen saham perusahaan.

Tak sampai di situ, pemegang saham lainnya di GoTo juga akan dimiliki Telkomsel, Astra Internasional, dan Google di bawah 10 persen.

Melantai Bursa di AS

Ekspansi GoTo dikabarkan akan melakukan initial public offering (IPO) di bursa saham Amerika Serikat (AS).

Meski Nikkei belum bisa memastikan kabar tersebut, GoTo tampaknya akan IPO terlebih dahulu di Indonesia.

Untuk valuasi IPO di Indonesia, GoTo nilai valuasinya diperkirakan mendekati 40 miliar dollar AS atau hampir dengan capaian Grab Holding.

GoTo merupakan perusahaan besar dengan basis karyawan yang besar dan operasi yang canggih dan sangat kompleks, jadi ada banyak pekerjaan integrasi yang harus dilakukan sebelum IPO.

Baca Juga: Gojek dan Tokopedia Merger Bentuk GoTo, Apa Keuntungan Pelanggan dan Driver?

Gojek dan Tokopedia akan bekerja sangat keras untuk melakukan integrasi pasca-merger untuk mempersiapkan dual listing.

"Saya sangat berharap ini akan terjadi di tahun 2021," ujar seorang sumber kepada Nikkei Asia.

Menurut analisa Nikkei, GoTo lebih memilih IPO secara langsung ketimbang menggunakan kendaraan perusahaan cek kosong atau SPAC.

Meski tidak menutup kemungkinan perusahaan akan berubah pikiran, GoTo bisa saja meminta bantuan dari pemegang saham terbesar ketiganya, Radiant.

Baca Juga: Harga Tahu dan Tempe Pekan Ini di Kota Bontang, Bakal Naik Hingga 30 Persen

Radiant sendiri adalah perusahaan yang sangat santer dikaitkan dengan miliuner Hong Kong Richard Li. Radiant menguasai 4,7 persen saham GoTo.

Baik Radiant dan SPAC merupakan perusahaan yang menggunakan alamat yang sama di Hong Kong, seperti dicantumkan GoTo dalam rilis resmi saat melakukan merger. 

Solusi Bagi Ekonomi Indonesia

Super ekosistem GoTo yang tercipta berkat kolaborasi bisnis antara Gojek dan Tokopedia dinilai tidak akan mendominasi pasar digital di Indonesia.

Aksi korporasi seperti itu justru dibutuhkan untuk menjadi jembatan bagi penguatan ekonomi digital Indonesia, terutama bagi sektor UMKM.

Kehadiran GoTo juga akan menciptakan daya saing ekonomi digital Indonesia dalam menghadapi serbuan produk-produk asing yang memanfaatkan platform digital asing.

Contohnya, Grup Shopee dan Grab, dua entitas asal China dan Malaysia yang juga agresif menggempur pasar Indonesia, Jumat (21/5/2021).

Baca Juga: Aplikasi Behambinan Wadah UMKM Samarinda Kala Pandemi Covid-19, Berganti Nama jadi Bebaya Mart

Kepala Center of Innovation and Digital Economy Indef, Nailul Huda, mengatakan kolaborasi Gojek dengan Tokopedia merupakan aksi korporasi biasa untuk saling mengisi dan memperkuat bisnis masing-masing.

Melalui kolaborasi ini diharapkan pasar akan semakin meluas dan aktivitas ekonomi melalui ekosistem GoTo Group semakin efisien.

Strategi yang dikembangkan GoTo akan memberikan banyak manfaat bagi sektor UMKM dan juga para konsumennya.

Mereka (GoTo) ingin membentuk sebuah ekosistem yang paling komplit dan kompleks.

Baca Juga: Percepat Birokrasi Pembayaran Pajak Kendaraan, Polda Kaltim Luncurkan 2 Aplikasi di Balikpapan

Ketika sebuah perusahaan berhasil membentuk ekosistem kompleks dan variatif, dampaknya valuasi ekonominya akan meningkat.

"Dengan nilai valuasi yang tinggi dan ekosistem kuat maka fundamental bisnis GoTo juga makin kokoh,” ungkapnya.

Kekuatan fundamental diperlukan oleh semua perusahaan, termasuk GoTo Group untuk menjamin keberlanjutan bisnisnya dalam jangka panjang.

Terlebih, kata Nailul, meskipun telah membentuk sebuah super ekosistem, GoTo harus tetap berkompetisi dengan para kompetitornya masing-masing.

Baca Juga: Peresmian Aplikasi Support Ragam, Wakil Bupati Gamalis: Bisa jadi Contoh Bagi Kelurahan di Berau

Gojek, menurutnya, masih tetap harus berkompetisi dengan Grab dan munculnya aplikator ride-hailing lainnya seperti Bonceng, Anterin, Maxim, dan lainnya.

Begitu pun Tokopedia yang saat ini berkompetisi secara ketat di bisnis e-commerce terutama dengan Shopee.

Di luar itu masih ada pemain e-Commerce besar lainnya seperti Lazada, Bukalapak, JD.ID, Blibli, dan lainnya.

Dengan tingkat persaingan yang sangat terbuka tersebut maka kehadiran GoTo tidak serta merta akan menciptakan dominasi pasar.

Baca Juga: Tiga Kota di Kaltim, BKKBN Data Keluarga Gunakan Aplikasi Khusus dalam Smartphone

Menurut Nailul, terlalu jauh menyamakan kehadiran GoTo di Indonesia dengan dominasi Alibaba Group di China yang kemudian menciptakan monopoli.

”Saya rasa (kolaborasi GoTo) tidak akan mengarah monopoli melainkan penguasaan pangsa pasar. Tidak akan terjadi monopoli seperti Alibaba walaupun semua perusahaan teknologi pasti ingin sebesar Alibaba. Untuk GoTo, kolaborasi ini akan meningkatkan kemampuan bersaing di tingkat ASEAN dan domestik yang akan semakin ketat,” terangnya.

Pada hampir semua sektor industri khususnya di Indonesia selalu terdapat penguasa pasar dan tidak berarti terjadi monopoli.

Di industri produk tembakau misalnya Gudang Garam menguasai 30 persen pangsa pasar namun tidak terjadi monopoli karena terdapat kompetitor besar seperti HM Sampoerna dan Djarum.

Kacamata Bisnis Otomotif

Begitu juga di industri otomotif baik roda empat maupun roda dua. Di pasar kendaraan roda empat misalnya, grup Astra berdasarkan data Gaikindo merupakan pemimpin pasar sekitar 51% pada 2020 namun tidak berarti melakukan monopoli karena terdapat pemain otomotif lainnya yang berkompetisi.

"Jadi ini strategi penguasaan pasar tapi jelas berbeda dengan monopoli karena tetap terjadi kompetisi,” terusnya.

Nailul menambahkan, kewaspadaan terbesar dari ekonomi digital khususnya sektor e-Commerce adalah kegiatan dumping yang dilakukan dengan cara menjual barang dari luar negeri pada harga murah.

Sehingga bisa membuat pelaku usaha Indonesia khususnya UMKM menyerah. Hal tersebut pernah terjadi ketika seseorang dengan inisial Mr Hu seorang seller di Shopee menjadi viral karena barang dari China yang super murah sehingga mengancam UMKM Indonesia.

Baca Juga: Berbasis Data Citra Satelit, Aparat Penanggulangan Bencana di Kaltim Dilengkapi Aplikasi Lembuswana

”Untuk impor masih akan jadi ancaman. Memang layanan cross border ditutup tapi yang jadi masalah bukan itu. Banyak juga seller Indonesia tapi menjual barang impor. Mereka impor dari logistik biasa terus dijual lagi dengan harga murah,” ungkapnya.

Seharusnya, kata dia, dari pemerintah terutama Kementerian Koperasi dan UMKM bisa memberikan solusi supaya UMKM lokal bisa bersaing dengan barang impor.

Produk lokal kurang bisa bersaing dari sisi harga karena terkait dengan kapasitas produksi yang memengaruhi biaya produksi.

Misalnya batik dari China murah sekali bisa 30 ribu rupiah sedangkan batik dari Indonesia dijual 90 ribu rupiah sampai 150 ribu rupiah.

Biaya pengiriman dari China ke Jakarta juga lebih murah ketimbang biaya dari Sidoarjo ke Jakarta. Ini harus dituntaskan juga masalah biaya pengiriman yang tidak efisien,” tuturnya.

Maka Nailul berharap kehadiran GoTo bisa membantu menuntaskan persoalan ini dan UMKM bisa turut berpartisipasi di dalamnya sehingga bisa meningkatkan persaingan.

”Semoga para pelaku UMKM mendapatkan layanan finansial GoTo untuk bisa beralih dari masyarakat unbank menjadi bankable. Saya harap mereka juga bisa meningkatkan literasi keuangan dan inklusi keuangan secara umum,” tutupnya.

Berita tentang GoTo

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Bukan Perusahaan Indonesia, Inilah Pemegang Saham Terbesar dari GoTo 

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved