Berita Nasional Terkini

INFO BMKG: 1 Daerah Inilah yang Duluan Diterjang Bila Tsunami Besar dan Gempa M 8,7 Terjadi di Jatim

BMKG mengatakan, terdapat potensi gempa bumi besar dan memicu gelombang tsunami di selatan Jawa Timur.

Penulis: Doan Pardede | Editor: Heriani AM
Dreamstime.com
Ilustrasi tsunami. 

TRIBUNKALTIM.CO -  Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengatakan, terdapat potensi gempa bumi besar dan memicu gelombang tsunami di selatan Jawa Timur.

Jika analisa itu benar, daerah pertama yang akan terhempas gelombang tsunami adalah pesisir pantai selatan Blitar.

Menurut Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Bambang Setyo Prayitno, jika terjadi tsunami di pesisir selatan Jawa Timur, pantai selatan Blitar akan terhempas gelombang tsunami pada menit ke-20 sejak terjadinya gempa bumi.

"Itu berdasarkan skenario yang kami buat, yang tentunya didasarkan pada data yang kami miliki," ujar Bambang, kepada wartawan di Pendopo Ronggo Hadinegoro, Kota Blitar, Selasa (8/6/2021).

Baca juga: TERKUAK POTENSI Gempa M 8,9 dan Tsunami 29 Meter yang Bisa Menyapu Jawa Timur, Simak Info Resmi BMKG

Bambang mengatakan, simulasi tersebut merupakan skenario terburuk yang bisa terjadi jika terjadi gempa bumi dengan magnitudo 8,7 di selatan Jawa Timur yang bisa memicu tsunami.

Beberapa faktor, ujar Bambang, turut memengaruhi besarnya dan kecepatan gelombang tsunami. Salah satunya, kata dia, adalah kedalaman laut.

"Semakin dalam dasar laut, semakin besar dan tinggi kecepatan gelombang," kata dia.

Faktor lain, lanjut dia, adalah cekungan daratan atau teluk di pantai selatan Blitar yang juga bisa memberikan efek tertentu sehingga gelombang lebih cepat mencapai daratan pantai.

"Dan faktor lain tentunya adalah jarak pantai ke pusat titik gempa," ujar dia.

Faktor-faktor tersebut, sebut dia, membuat pantai selatan Kabupaten Blitar dalam pemodelan yang dibuat BMKG akan paling awal terhempas gelombang tsunami.

"Jika ada data baru yang mempengaruhi ini, bisa saja perhitungan ini juga berubah," ujar dia.

Namun, kata Bambang, untuk saat ini, dalam skenario terburuk yang dibuat, wilayah pesisir selatan Blitar adalah yang paling cepat terhempas gelombang tsunami yaitu dalam hitungan 20 menit sejak terjadinya gempa bumi yang memicu tsunami.

Baca juga: Skenario Terburuk Gempa 8,7 SR & Tsunami 29 Meter di Pantai Selatan Jawa Timur, Kajian Tim Ahli BMKG

Bambang menggarisbawahi pentingnya semua pihak terkait menyikapi kajian yang dilakukan BMKG dengan membangun kesiapan melakukan mitigasi jika bencana benar terjadi.

"Sekarang data kami seperti ini. Yang lebih penting bagaimana kita memiliki kesiapan menghadapi potensi bencana. Kalau kami punya data seperti ini dan tidak memberikan peringatan, salah juga kami," ujar dia.

Jangan panik, tapi waspada

Bambang mengatakan, berdasarkan data yang terpantau memang terjadi peningkatan aktivitas kegempaan di wilayah selatan Jawa Timur sejak awal 2021 hingga saat ini.

Namun, dia meminta agar peringatan yang disampaikan BMKG tidak direspons dengan kepanikan, tapi meningkatkan kewaspadaan dan kesiapan menghadapi kemungkinan terburuk.

Bambang kembali menyampaikan koreksi istilah yang digunakan terkait ramainya pemberitaan gempa bumi yang bisa memicu tsunami di selatan Jawa Timur.

Menurutnya, apa yang BMKG berikan bukan prediksi, tapi potensi terjadinya gempa bumi di selatan Jawa Timur yang bisa memicu tsunami.

Baca juga: BPBD Sebut Jatim Etalase Bencana, Ancaman Gempa M 8,9 dan Tsunami 29 Meter Jawa Timur Bukan Prediksi

"Potensi itu bisa terjadi, bisa tidak," ujar dia.

Terkait bencana gempa bumi dan tsunami, kata Bambang, sudah menjadi fakta banyak wilayah Indonesia yang rawan diguncang gempa bumi dan tsunami.

"Hal ini harus kita terima bersama dan bagaimana kita beradaptasi dengan lingkungan alam kita, yaitu dengan membangun kesiapan menghadapi potensi tersebut," ujar dia.

Sejarah gempa merusak di Jawa Timur

Sejak 1836 hingga 1972, tercatat ada 9 gempa merusak di Jawa Timur dengan dampak guncangan mencapai skala intensitas VII MMI-IX MMI.

Dalam skala intensitas VII MMI, semua orang merasakan gempa kuat dan keluar rumah.

Kerusakan ringan pada rumah-rumah dengan bangunan dan konstruksi yang baik.

Pada bangunan yang konstruksinya kurang baik terjadi retak-retak bahkan hancur, cerobong asap pecah.

Getaran juga dirasakan oleh orang yang naik kendaraan.

Pada skala intensitas VIII MMI, kerusakan ringan dialami oleh bangunan dengan konstruksi yang kuat.

Retak-retak pada bangunan degan konstruksi kurang baik, dinding dapat lepas dari rangka rumah, cerobong asap pabrik dan monumen-monumen roboh, air menjadi keruh.

Pada skala intensitas IX MMI, bangunan dengan konstruksi kuat rusak, rangka-rangka rumah menjadi tidak lurus, banyak retak.

Rumah tampak agak berpindah dari pondamennya.

Pipa-pipa dalam rumah putus.

Berikut daftar sejarah gempa merusak di Jawa Timur:

Gempa Mojokerto, 22 Maret 1836. Belum diketahui pasti magnitudo gempa ini, tapi dampak gempa dilaporkan mencapai skala intensitas VII-VIII MMI.

Gempa Madiun, 20 November 1862. Dampak gempa ini dilaporkan mencapai skala intensitas VII MMI.

Gempa Wlingi, 15 Agustus 1896. Dampak gempa dilaporkan mencapai skala intensitas VII MMI. Guncangan dirasakan hingga daerah Brangah, Negororejo, Probolinggo

Gempa Tulungagung, 20 Agustus 1902. Dampak gempa dilaporkan mencapai skala intensitas VII MMI.

Gempa Pacitan, 27 September 1937. Kekuatan gempa M 7,2. Getaran dirasakan dalam skala intensitas VII-IX MMI. Setidaknya 2.200 rumah roboh dan banyak orang tewas.

Gempa Lamongan, 11 Agustus 1939. Dampak gempa dilaporkan mencapai skala intensitas VII MMI. Gempa dirasakan hingga Rembang, Jawa Tengah.

Gempa Malang, 20 November 1958. Dampak gempa mencapai skala intensitas VII-VIII MMI. Akibat gempa, banyak rumah rusak, beberapa lokasi tanah terbelah, dan 8 orang tewas.

Gempa Malang, 19 Februari 1967. Dampak gempa dilaporkan mencapai skala VII-IX MMI. Kerusakan parah terjadi di daerah Dampit, sebanyak 1.539 rumah rusak, 14 orang tewas, dan 72 orang luka-luka. Di Gondanglegi 9 orang tewas, 49 luka-luka, 119 rumah roboh, 402 rumah retak, 5 masjid rusak. Di Trenggalek, 33 rumah retak. Gempa ini dirasakan hingga Banyumas dan Cilacap.

Gempa Blitar-Trenggalek, 4 Oktober 1972. Guncangan kuat terjadi di Gandusari dan Trenggalek.

"Artinya kalau di masa lalu sudah pernah terjadi gempa kuat, ini kemungkinan masih bisa terjadi di masa depan," kata Dwikorita mengingatkan.

"Ini yang harus dipersiapkan. Karena di Jawa Timur juga ada zona-zona patahan aktif seperti patahan Kendeng, Pasuruan, Probolinggo, di sekitar Rembang sampai Madura" imbuh dia.

Masyarakat dan pemerintah perlu mewaspadai daerah yang ada di zona patahan aktif.

Sejarah tsunami di Jawa Timur

Jawa Timur pernah disapu tsunami sebanyak 6 kali, sejak 1930 hingga 1994. Berikut datanya:

4 Januari 1840, gempa kuat dirasakan sampai Semarang diikuti gelombang pasang di Pacitan

7 Februari 1843, gempa di selatan Pulau Madura memicu tsunami.

20 Oktober 1859, terjadi gempa kuat disertai tsunami, gelombang tiba saat kapal Ottolina bersiap untuk melepas jangkar. 11 dari 13 awak kapal selamat

11 September 1921, Parangtritis di wilayah pantai Selatan Yogyakarta mengalami tsunami kecil.

19 Juli 1930, tsunami di Besuki, Jawa Timur sekitar pukul 2.00 WIB.

2 Juni 1994, Pancer adalah desa yang mengalami dampak terburuk dari tsunami. Dari 3.081 jumlah penduduk, 121 orang tewas dan 27 luka-luka. Di antara 996 rumah, 704 rumah runtuh diterjang tsunami.

BMKG memiliki data lengkap potensi tsunami di seluruh pantai kabupaten Jawa Timur.

Sebagai contoh, potensi tsunami di Pacitan tinggi maksimum dapat mencapai 25-28 meter dan waktu tercepat datangnya tsunami 26-29 menit.

Dwikorita berharap, hasil analisis BMKG tersebut dapat dijadikan acuan bagi pemerintah daerah untuk melakukan upaya pencegahan dan mitigasi selanjutnya.

(*)

Berita Nasional Terkini Lainnya

Artikel ini telah tayang di Tribun-Timur.com dengan judul BMKG: Jika Tsunami Besar Terjadi di Jawa Timur, Blitar yang Pertama Akan Tersapu dan di TribunJabar.id dengan judul BMKG: Jawa Timur Berpotensi Diguncang Gempa Bumi Dahsyat dan Tsunami Setinggi 29 Meter,

  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved