Minggu, 3 Mei 2026

Virus Corona

Berbeda dengan Indonesia, Thailand Campur Vaksin Sinovac dan AstraZeneca, WHO: Berbahaya

Badan Kesehatan Dunia ( WHO) menegur keras Pemerintah Thailand karena mencampur vaksin Covid-19 pada program vaksinasi nasional untuk warganya

Tayang:
STR / AFP
Ilustrasi, Foto yang diambil pada 30 Maret 2021 ini menunjukkan seorang anggota staf medis bersiap untuk memberikan dosis vaksin virus Corona Covid-19 Sinovac di sebuah universitas di Qingdao di provinsi Shandong timur China. Berbeda dengan Indonesia, Thailand campur vaksin Sinovac dan AstraZeneca, WHO: Berbahaya 

TRIBUNKALTIM.CO - Badan Kesehatan Dunia ( WHO) menegur keras Pemerintah Thailand karena mencampur vaksin Covid-19 pada program vaksinasi nasional untuk warganya.

Kendati demikian, Thailand tidak tinggal diam mendapatkan teguran dari WHO.

Thailand berdalih langkah itu diambil untuk mempercepat efek vaksin guna menangkap Covid-19 varian Delta.

Sebelumnya, "Negeri Gajah Putih" mempertimbangkan mencampur vaksin Sinovac dan AstraZeneca untuk mendapatkan efek cepat dalam enam pekan.

Pertimbangan itu diambil karena negara Asia Tenggara tersebut menghadapi lonjakan kasus yang disebabkan varian Delta.

Hal ini berbeda dengan Indonesia yang tetap melakukan vaksinasi dengan satu jenis vaksin yang sama untuk masyarakat.

Baca juga: Booster Vaksin Sinovac Covid-19 Tingkatkan Antibodi Hingga 7 Kali Lipat & Tanpa Efek Samping Serius

Kepala Ilmuwan WHO Soumya Swaminathan seperti diberitakan AFP Selasa (13/7/2021) menyebut ide itu berbahaya.

"Kami berada di ujung zona bebas data, bebas bukti dan hampir berada di momen 'campur dan cocokkan'," kritik Soumya.

Virolog senior Thailand Yong Poovorawan mengatakan, mencampur Sinovac, yang dibuat dari virus tak aktif, dengan vaksin berbasis vektor seperti AstraZeneca dimungkinkan.

"Kami tidak bisa menunggu sampai 12 pekan untuk mendapatkan efek cepat di tengah kasus yang makin meningkat," papar Yong, seperti dilansir dari Kompas.com.

Dr Yong melanjutkan, jika ada vaksin yang dikembangkan dengan lebih baik melawan varian Delta, mala mereka bakal menggunakannya.

Baca juga: Traveler Wajib Tahu, Ini Daftar 45 Negara yang Terima Wisatawan Asing Bervaksin Sinovac

Saat ini, Thailand sudah melaporkan 353,700 kasus Covid-19 dengan 2.847 korban meninggal.

Mayoritas terdeteksi sejak April.

Pekerja medis awalnya mendapatkan Sinovac.

Namun dalam laporan terbaru, hampir 900 di antaranya terpapar Virus Corona.

Karena itu, pemerintah menyatakan mereka dipertimbangkan memperoleh AstraZeneca atau Pfizer guna meningkatkan kekebalannya.

Baca juga: Keampuhan Vaksin Sinovac, Hasil Penelitian WHO Cegah 100 Persen Rawat Inap, Daftar Negara yang Pakai

Selain itu, otoritas juga memberlakukan pengetatan di ibu kota Bangkok dan sembilan provinsi lain yang terdampak.

Bentuk penegakan pengetatan seperti larangan berkumpul lebih dari lima orang, dan penerapan jam malam.

Perdana Menteri Prayut Chan-o-cha mendapat kritikan hebat terkait penanganan mereka atas wabah corona.

Prayut dan para menterinya dianggap tidak memberi kompensasi bagi bisnis yang terdampak pengetatan, hingga tuduhan salah urus vaksin.

Pada Selasa, mereka menyepakati skema bantuan senilai 30 miliar baht untuk membantu usaha yang terdampak lockdown.

Baca juga: Singapura Ikuti Jejak Indonesia, Akui Warganya yang Gunakan Vaksin Sinovac Termasuk 45 Negara Ini

Selain itu, tagihan penting seperti listrik dan air dilaporkan akan diturunkan selama dua bulan.

Thailand Berencana Perbanyak Vaksin asal China

Sementara itu, Thailand berencana menggunakan lebih banyak vaksin buatan China untuk mengisi kesenjangan pasokan dari AstraZeneca Plc.

“Negeri Gajah Putih” secara resmi menjadi negara yang memulai rezim dosis campuran vaksin Covid-19 yang pertama di dunia, di tengah gejolak yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam wabah Covid-19 Thailand.

Pejabat kesehatan Thailand mulai memberikan vaksin AstraZeneca pada Senin (19/7/2921) sebagai suntikan kedua kepada penerima suntikan pertama vaksin Sinovac Biotech Ltd untuk meningkatkan pertahanan terhadap varian Delta.

Varian yang pertama kali muncul di India dan lebih menular diprediksi akan mendorong beban kasus harian hingga setinggi 20.000 pada bulan depan.

Di bawah rezim vaksin yang direvisi, Thailand akan menggunakan lima juta suntikan Sinovac per bulan, menurut Opas Karnkawinpong, direktur jenderal Departemen Pengendalian Penyakit Thailand.

Baca juga: Selain Singapura, Ternyata Vaksin Sinovac Telah Digunakan di Puluhan Negara Termasuk Indonesia

Thailand mengejar kesepakatan vaksin tambahan, setelah vaksin AstraZeneca menyampaikan ketidakmampuan memenuhi target yang ditetapkan oleh pemerintah, mengutip komitmen ekspor pembuat obat Anglo-Swedia itu.

Padahal negara itu awalnya menetapkan vaksin itu sebagai pemasok utama untuk peluncuran nasionalnya “Pemerintah Thailand juga bekerja untuk mendapatkan lebih banyak tembakan dari produsen seperti Pfizer Inc.,” menurut Opas melansir Bloomberg, seperti dilansir dari Kompas.com.

Pihak berwenang berusaha meningkatkan vaksinasi untuk mengurangi tingkat rawat inap dan kematian, karena lonjakan infeksi baru membanjiri sistem kesehatan masyarakat negara itu.

Covid-19 Thailand dilaporkan mencatat 11.784 kasus baru pada Senin (19/7/2021), peningkatan satu hari tertinggi sejak pandemi dimulai.

Peningkatan infeksi terjadi ketika hotspot di negara itu memasuki minggu kedua tindakan pembatasan Covid-19 paling ketat dalam lebih dari setahun.

Baca juga: Terbukti Ampuh Cegah Covid-19, Singapura Ikuti Indonesia, Akui Warganya yang Gunakan Vaksin Sinovac

Strategi vaksin terbaru Thailand ini menyimpang dari rencana awalnya yang hanya mengandalkan vaksin AstraZeneca, yang diproduksi secara lokal oleh Siam Bioscience Ltd., untuk memberikan 10 juta suntikan per bulan.

Dengan dua pertiga dari produksi lokal AstraZeneca yang dijadwalkan untuk ekspor, Thailand diperkirakan hanya menerima sekitar lima juta dosis per bulan.

Alhasil para pejabat terpaksa menemukan cara untuk meningkatkan pasokannya, termasuk diskusi tentang pembatasan ekspor.

Langkah pemerintah Thailand memunculkan reaksi keras di dalam negeri.

Partai oposisi menilai pemerintah tidak memiliki rencana untuk mengurangi risiko atau mengantisipasi ketidakpastian.

Baca juga: Antibodi Vaksin Sinovac Punya Nilai Tinggi Lawan Covid-19, Tapi Turun Setelah 6 Bulan, Benarkah?

“Pemerintah telah bekerja berdasarkan asumsi berdasarkan skenario kasus terbaik dan meremehkan situasi,” kata Wiroj Lakkhanaadisorn, anggota parlemen dari partai oposisi Move Forward melansir .

“Kematian dan kerugian ekonomi dapat dihindari dengan perencanaan dan manajemen yang lebih baik,” tambahnya.

Para pejabat sebelumnya membatasi penggunaan suntikan vaksin Sinovac untuk perawatan kesehatan dan pekerja garis depan.

Tetapi kemudian, penggunaan vaksin buatan China itu diperluas untuk daerah dengan wabah, atau dengan rencana untuk dibuka kembali untuk turis.

Menurut data Kementerian Kesehatan Thailand, sampai saat ini negara tersebut telah memiliki 14,2 juta dosis, cukup untuk menutupi sekitar 10 persen dari populasinya.

Komposisinya, vaksin Sinovac mencapai 53 persen, diikuti oleh AstraZeneca sebesar 44 persen, dan Sinopharm sebesar 3 persen. (*)

Berita Virus Corona

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved