Virus Corona di Tarakan
PCR di Tarakan Dikeluhkan, Walikota Khairul: Mudah-mudahan Hari Sabtu Sudah Tiba
Walikota Tarakan, Khairul, mengungkapkan persoalan PCR yang yang selama ini dikeluhkan di Kota Tarakan
TRIBUNKALTIM.CO, TARAKAN - Walikota Tarakan, Khairul, mengungkapkan persoalan PCR yang yang selama ini dikeluhkan di Kota Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara, perlahan bisa diatasi.
Baik bagi para pelaku perjalanan, bagi pasien dan juga terbaru aturan yang dikhususkan peserta CPNS asal Jawa Bali yang ingin mendaftar di Kalimantan Utara, wajib menggunakan swab test PCR.
Dengan menurunnya angka kasus, lanjut Walikota Tarakan, dr. Khairul, M.Kes, ini bisa mendukung dan menjamin ketersediaan layanan swab PCR tersebut.
Lanjutnya lagi, mengantisipasi kelangkaan alat reagen, RSUKT dalam proses mendatangkan alat baru atau mesin swab test PCR yang terbaru.
Baca juga: Vaksinasi Moderna Bagi Masyarakat Digelar RSUD Tarakan, Antrean Tembus 12 Ribu Orang
“Kalau kemarin hanya bisa sampai 30-an sampel, alat yang sekarang sampai 96 sampel per sekali putar,” ujarnya kepada TribunKaltim.co.
Jika pemeriksaan dilakukan dua kali bisa diperoleh hingga 200 sampel per harinya dengan mesin yang baru yang akan tiba di Kota Tarakan.
Alatnya yang didatangkan di RSUKT diharapkan sudah tiba dalam pekan ini.
Alat sebelumnya dimiliki oleh RSUKT memang kategori close sistem.
Baca juga: Revisi RPJMD Tarakan, Anggaran Refocusing 8% untuk Penanganan Covid, 25% untuk Pemulihan Ekonomi
Sehingga agak sulit dan terbatas termasuk dari jenis reagen yang mahal untuk kategori ini.
“Mudah-mudahan hari Sabtu sudah tiba. Ada juga di RSUD Provinsi Kaltara. Bisa muat 96 sampel per hari kalau di sana,” ujar dr. Khairul.
Ia melanjutkan, begitu juga di RSUKT dan Rumkital Ilyas Tarakan. Memang diakuinya yang membuat reagen cepat habis karena angka kasus.
Namun di beberapa pekan terakhir Agustus kemarin sudah mulai menunjukkan angka penurunan kasus.
Baca juga: CPNS di Tarakan, Peserta Terpapar Covid-19 Masih Bisa Ikut SKD tapi Ditempatkan di Ruang Khusus
Ia melanjutkan, alat reagen terbatas karena banyak digunakan untuk pelaku perjalanan.
“Memang kan karena pelaku perjalanan yang membuat kasus melonjak. Ditambah pasien cukup meningkat kemarin yang dirawat di rumah sakit,” ujarnya.
Sehingga lanjutnya cukup membuat kewalahan pihak rumah sakit.