Breaking News:

Berita Pemkab Kutai Barat

Berjuang Jaga Eksistensi Kerajinan Seraung, Hargai Warisan Budaya Leluhur

Seraung adalah topi lebar pelindung kepala khas dayak Kalimantan yang hingga kini masih diminati masyarakat, salah satunya di Kutai Barat (Kubar).

Editor: Diah Anggraeni
HO/Humas Pemkab Kubar
Ketua Dekranasda Kubar, Yayuk Seri Rahayu Yapan (kanan) memberikan semangat kepada Leni, perajin seraung (kiri), saat melakukan demo membuat seraung di stan pameran Dekranasda Kubar pada Kaltim Expo 2021. 

TRIBUNKALTIM.CO - Seraung adalah topi lebar pelindung kepala khas Dayak Kalimantan yang hingga kini masih diminati masyarakat, salah satunya di Kutai Barat (Kubar).

Mengenalnya merupakan cara menghargai warisan budaya leluhur dan ikut serta melestarikannya.

Demi rasa cintanya terhadap seraung, Leni (50), perajin seraung asal Kampung Tukul Kecamatan Tering terus berjuang menjaga eksistensinya sehingga tidak terkikis oleh perkembangan zaman.

"Karena ini budaya nenek moyang yang harus dijaga dan dilestarikan secara bersama-sama, terutama bagi generasi muda," kata Leni di sela-sela melakukan demo membuat seraung di stan pameran Dekranasda Kubar pada Kaltim Expo 2021 di Atrium Bigmall Samarinda, Jumat (24/8/2021).

Baca juga: Infrastruktur Dongkrak Pariwisata di Kutai Barat

Supaya eksistensi tetap terjaga, Leni bersama teman seprofesi di kampungnya membentuk kelompok bernama Bakeh Pawaaq dan memiliki anggota 8 orang serta ketuanya dia sendiri (Leni).

Keterampilan membuat seraung ini didapatnya dari ibunya bernama Anahong (85) yang juga perajin seraung asal Kampung Tukul.

Ia pun berharap regenerasi dalam keluarga terus berlanjut.

Awal membuat seraung ini, sejak kelas 6 SD dan berumur 13 tahun.

Belajar membuat ini, atas dasar kemauannya sendiri, bukan dipaksa dan menekuninya setelah menikah sekitar tahun 1890 silam.

Harga saat itu sekitar Rp 2.000 per biji, sedangkan saat ini harganya dari Rp 35.000 sampai Rp 200.000.

Hal itu sesuai ukuran, harga kain dan tingkat kesulitannya.

Baca juga: Dua Perajin Asal Kubar Raih Penghargaan Dekranasda Kaltim Award 2021

Penghasilan per bulannya, kalau lagi ramai pesanan bisa mencapai 30 biji dengan harga Rp 35.000 atau totalnya Rp 1.050.000.

Pesanan akan ramai saat tanam padi, upacara dan ritual adat.

Seraung ini digunakan selaian sebagai pelindung kepala dari terik matahari, juga bisa digunakan sebagai hiasan dinding dan suvenir. (adv)

Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved