Breaking News:

Berita Nunukan Terkini

Akibat Lockdown di Malaysia, 7 Anak dari Pekerja Migran Indonesia Batal Ikut ANBK di Tanah Air

Sebanyak tujuh pelajar yang merupakan anak Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Tawau, Malaysia gagal ikut Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) yang

Editor: Rahmad Taufiq
HO/MAULINI
Proses ujian pelajar di Yayasan PKBM Al Firdaus, belum lama ini. HO/MAULINI 

TRIBUNKALTIM.CO, NUNUKAN - Sebanyak tujuh pelajar yang merupakan anak Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Tawau, Malaysia gagal ikut Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) yang digelar pada 4-7 Oktober 2021.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Nunukan, Junaidi mengatakan ketujuh pelajar tersebut mengambil paket B di bawah naungan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Al Fidaus, Kecamatan Sebatik.

Ketujuh pelajar tersebut berasal dari Kalabakan, Malaysia dan tidak bisa mengikuti ANBK pada Rabu (6/10/2021), lantaran hingga saat ini negeri jiran itu masih berstatus lockdown.

"Rencananya ANBK-nya mau digabungkan dan diikutkan di SMPN 1 Sebatik hari Rabu lalu, tapi ternyata mereka tak bisa keluar dari Malaysia karena status Malaysia masih lockdown," kata Junaidi kepada TribunKaltara.com, Jumat (8/10/2021).

Hal itu dibenarkan oleh Ketua Yayasan PKBM Al Firdaus, Sebatik, Maulini Zainal Abidin.

Baca juga: Terkendala IMB, Izin Operasional Ratusan PAUD dan PKBM di Samarinda Belum Bisa Diperpanjang

Baca juga: Disdikbud Kejar Target LKP dan PKBM se-Bontang Terapkan Kurikulum Terbaru

Baca juga: Disdik Samarinda Segera Cabut Izin Operasional PKBM yang Terbitkan Ijazah

Ia mengaku, ketujuh pelajar di Kalabakan, Malaysia itu, terdaftar sebagai pelajar di sekolah yang berada di bawah naungan Konsulat RI di Tawau.

Namun, nama mereka terdaftar dalam dapodik Indonesia.

"Jadi, kita juga nggak mungkin mengeluarkan mereka dengan sistem terbarukan. Inilah menjadi kendala. Kita juga mau masuk ke sana tidak mungkin karena masih lockdown. Saya juga tidak berani kalau tidak ada izin resmi," ucap Maulini Zainal Abidin melalui telepon seluler.

Bahkan, kata Maulini, orangtua pelajar yang tersebar di kem-kem Kalabakan, Malaysia juga tidak berani mengeluarkan anaknya untuk pergi mengikuti ANBK dengan situasi yang belum bisa melintas ke Indonesia.

"Kita juga tidak bisa memberikan alternatif mereka langsung berangkat melalui konsulat juga. Karena mereka ini anak-anak yang masih tertinggal yang belum ada kejelasan akan ke mana. Mereka hanya berpikir sudahlah di sekolah yang ada dulu," ujarnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved