Breaking News:

Mata Najwa

BLAK-BLAKAN di Mata Najwa, Kontras Singgung Polres Luwu Timur Menutupi Fakta demi Memperbaiki Citra

Saat tampil di Mata Najwa, Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Rivanlee Anandar angkat bicara,

Penulis: Justina | Editor: Syaiful Syafar
YouTube Najwa Shihab
Wakil Koordinator KontraS Rivanlee Anandar saat tampil di acara Mata Najwa, Rabu (13/19/2021), membahas viralnya kasus dugaan ayah rudapaksa anak di Luwu Timur. 

TRIBUNKALTIM.CO - Saat tampil di Mata Najwa, Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Rivanlee Anandar angkat bicara menanggapi kasus viral dugaan ayah rudapaksa anak kandung di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan.

Diketahui, beberapa waktu lalu sempat viral di media sosial terkait tanggapan pihak Polres Luwu Timur yang menuduh bahwa pemberitaan tiga anak korban tindak asusila hanyalah hoaks.

Menanggapi hal itu, Wakil Koordinator Kontras menilai bahwa respon itu menunjukkan jika Polres Luwu Timur lebih mengedepankan untuk menutupi fakta demi memperbaiki citra.

Sehingga saat ada kejadian seperti yang menimpa ketiga korban, seharusnya Polres cukup perlu fokus dalam penanganannya.

"Nah ini semestinya menjadi bagian koreksi daripada meresponse hal-hal yang tidak perlu, seperti tadi mengajak tes kejiwaan bagi ibu korban, lalu meresponse LBH Makassar dan menuduh A, B, C, D lah macam-macam. Saya rasa tidak perlu, kedepankanlah fakta-fakta dari temuan-temuan masyarakat karena itu sah," beber Rivanlee Anandar di acara Mata Najwa, dikutip dari kanal YouTube Najwa Shihab, Kamis (14/10/2021).

Baca juga: Di Mata Najwa, Kuasa Hukum Korban Rudapaksa Ayah di Luwu Timur Ungkap Fatalnya Pemeriksaan Polisi

Baca juga: Video Pernyataan Polisi Diputar di Mata Najwa, Kenapa Korban Rudapaksa di Luwu Timur Batal Visum?

Sementara itu, Ketua Harian Kompolnas Benny Namoto menyebut bahwa dari sekian banyak kasus, kasus kekerasan se***al menurutnya memang tidak mudah, karena permasalahannya begitu kompleks.

"Contoh pelaku akan menghindari adanya saksi. Yang kedua, keputusan melapor dari korban itu bisa lama, setelah dia curhat satu bulan kemudian baru melapor. Jarang yang spontan langsung lapor, kecuali dia dipe***sa, teriak, kemudian masyarakat datang. Ini menjadi masalah, satu saksi tidak ada," ungkap Benny Namoto.

Selain itu, Benny juga menilai perlu dilakukan pendekatan scientific.

Halaman
12
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved