Sejarah Hari Ini
Sejarah Hari Listrik Nasional atau HLN yang Diperingati Setiap 27 Oktober
Tahun ini, peringatan Hari Listrik Nasional atau HLN jatuh pada Rabu 27 Oktober 2021, yang menjadi peringatan ke- 76 tahun.
Penyerahan tersebut diterima oleh Presiden Soekarno, dan kemudian dengan Penetapan Pemerintah No 1 tahun 1945 tanggal 27 Oktober 1945 dibentuklah Jawatan Listrik dan Gas di bawah Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga.
Sejak itulah, setiap tanggal 27 Oktober diperingati sebagai Hari Listrik Nasional atau HLN.
Butuh Investasi Rp 9.000 Triliun
PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) memperkirakan ada kebutuhan investasi hingga Rp 9.000 triliun untuk memenuhi kebutuhan listrik hingga 2060 mendatang.
Wakil Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengungkapkan, besaran pasar listrik saat ini mencapai 250 Tera Watt Hour (TWh).
Pasar listrik diperkirakan bakal mencapai 1.800 TWh di 2060 mendatang.
Baca juga: Berau Kebagian 800 KWH di Hari Listrik Nasional
Untuk memenuhi kebutuhan pasar listrik tersebut, maka PLN memperkirakan perlu ada tambahan pembangkit listrik sebanyak 250 GW hingga 280 GW.
Dari besaran itu, sebagian besar diharapkan dapat dipenuhi dari sektor Energi Baru Terbarukan (EBT).
"250 GW sampai 280 GW itu biayanya butuh berapa? Ya dikalikan saja 2,5 jadi sekitar US$ 600 miliar hingga US$ 700 miliar atau setara Rp 9.000 triliun. Itu besar sekali," jelas Darmawan dalam Webinar Kompas Talks bersama PLN, seperti dilansir Kontan.co.id, Kamis (21/10/2021).
Kendati demikian, Darmawan mengungkapkan saat ini mulai ada peluang investasi internasional untuk sektor EBT mengingat banyak negara sudah tidak mau lagi membiayai PLTU.
Baca juga: PLN Sebut Listrik PLTA Kayan akan Topang Ibu Kota Negara di Penajam Kalimantan Timur
Sebelumnya, Darmawan mengungkapkan upaya mendorong EBT memang memerlukan kolaborasi dan inovasi mengingat harga EBT yang masih mahal serta kebutuhan investasi untuk EBT juga tergolong besar.
"Perlu investasi besar-besaran. Untuk 10 tahun ini dibutuhkan US$ 35 miliar, sekitar Rp 500 triliun," ujar Darmawan dalam diskusi virtual, akhir September lalu.
Kendati demikian, Darmawan memastikan ketertarikan investasi pada sektor EBT makin tinggi.
Hal ini terlihat dari langkah PLN mengkonversi Pembangkit Listrik tenaga Diesel ke EBT yang mendapatkan tanggapan positif dari dunia internasional.
Dikonfirmasi terpisah, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengungkapkan, penambahan 51,6% pembangkit EBT yang direncanakan dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021-2030 mencapai hingga US$ 75 miliar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/pembangunan-kelistrikan-indonesia.jpg)