Jumat, 1 Mei 2026

Berita Nunukan Terkini

Ketua IDI Nunukan Beber Permasalahan Kesehatan di Perbatasan, Angka Kematian Bayi Tertinggi

Usai dilantik jadi Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Nunukan, dr Sholeh Rauf membeber sejumlah permasalahan kesehatan di perbatasan.

Tayang:
TRIBUNKALTARA.COM/FEBRIANUS FELIS
Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Nunukan periode 2021-2024, dr Sholeh Rauf. Ia membeberkan sejumlah permasalahan kesehatan di perbatasan. TRIBUNKALTARA.COM/FEBRIANUS FELIS 

TRIBUNKALTIM.CO, NUNUKAN - Usai dilantik jadi Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Nunukan, dr Sholeh Rauf membeberkan sejumlah permasalahan kesehatan di perbatasan.

Acara Pelantikan Ketua IDI Nunukan sekaligus pengurus periode 2021-2024 berlangsung di Hotel Laura, Sabtu (30/10/2021) tadi pagi.

Sholeh menyampaikan, IDI yang sudah terbentuk 19 tahun di Nunukan harus mampu meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Dia mengaku saat ini, jumlah dokter di Kabupaten Nunukan sebanyak 98 orang.

Angka tersebut, kata dia, masih belum ideal, sehingga harapannya ke depan ada penambahan SDM dokter lagi.

Baca juga: Ketua IDI Kaltara Sebut Efektivitas Vaksin Pfizer dan Moderna Hampir Sama

Baca juga: Angka Pengidap Penyakit Kanker di Kalimantan Utara Meningkat, IDI Kaltara Beri Solusi

Baca juga: Gelar Pengobatan Gratis dan Khitanan Massal, IDI Paser Jangkau Wilayah Pedalaman Long Kali

"Dokter spesialis kita ada 26 orang, dokter umum ada 17 orang di rumah sakit, 30 orang dokter di Puskesmas. Harusnya satu Puskesmas itu minimal dua dokter. Di perusahaan ada 20 dokter, dokter praktek ada 3 orang, ada juga di KKP, dan sebagian berkarir di Dinkes," ucapnya.

Bahkan, lanjutnya, dokter spesialis di Nunukan terbanyak di Kaltara.

Menurutnya, potensi itu yang harus dimaksimalkan agar tuntutan masyarakat dalam memaksimalkan pelayanan kesehatan bisa tercapai.

"Solusinya ya harus sinergi dengan pemerintah daerah. IDI tak punya kekuatan hanya potensi yang bisa diolah. Tentu yang punya kekuatan ya pemerintah," ujarnya.

"RSUD Nunukan harus kita naikkan jadi tipe B, sehingga tidak ada lagi rujukan pasien ke Tarakan, Balikpapan atau bahkan ke Tawau," tambah Sholeh.

Persoalan kesehatan nasional yang juga menjadi atensi di Nunukan, yakni angka kematian ibu dan anak yang masih terbilang tinggi.

Sholeh menuturkan, di Kaltara terdapat dua Kabupaten yang menjadi lokasi khusus (Lokus) kematian bayi tertinggi di Indonesia, yakni Nunukan dan Bulungan.

"Target Kemenkes yang boleh meninggal dunia hanya 2 orang ibu hamil. Tapi di Nunukan pada tahun 2020 ada 7 kasus, 2021 ada 6 kasus. Sementara itu, angka kematian bayi per 1.000 kelahiran hanya 1 yang boleh meninggal dunia," bebernya.

Baca juga: IDI Kaltim Prediksi Efektivitas Vaksin Sinovac Sampai 95 Persen

Lebih lanjut Sholeh menyampaikan, kelahiran bayi setiap tahun di Nunukan kisaran 3.000 sampai 4.000 bayi.

"Sehingga target harusnya 4 bayi yang meninggal dunia. Tapi di lapangan pada 2020 ada 30 kasus dan 2021 ada 25 kasus sampai Oktober ini," tuturnya.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved