Breaking News:

Berita Berau Terkini

Yuk Mengenal Tehe-tehe Kuliner Khas Suku Bajau di Pulau Maratua, Disajikan untuk Tamu Khusus

Warga suku Bajau memiliki kuliner khas yang tidak boleh dilupakan ketika berkunjung ke pulau Maratua Kabupaten Berau Kalimantan Timur. Kuliner tersebu

TRIBUNKALTIM.CO/JINO PRAYUDI KARTONO
Tehe-tehe merupakan kuliner khas suku Bajau di Pulau Maratua Kabupaten Berau. Kuliner menggunakan bulu babi ini menjadi kuliner khas kampung Teluk Alulu. TRIBUNKALTIM.CO/JINO PRAYUDI KARTONO 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Warga suku Bajau memiliki kuliner khas yang tidak boleh dilupakan ketika berkunjung ke pulau Maratua Kabupaten Berau Kalimantan Timur. Kuliner tersebut bernama Tehe-tehe.

Kuliner ini khas yang bisa Anda temukan ketika berwisata di pulau paling ujung Berau ini. Kuliner ini menggunakan bulu babi sebagai bahan utamanya.

Samsinar salah satu pemilik warung di Kampung Teluk Alulu menyebut kuliner ini tidak bisa sembarang disajikan. Ada beberapa faktor kenapa kuliner ini tidak masuk ke dalam menu sehari-hari yang ia sajikan.

Pertama, bulu babi yang digunakan yaitu Tehe-tehe itu hanya ada pada musim-musim tertentu. Biasanya pada musim angin selatan atau Safar bisa mudah menemukan Tehe-tehe.

Sebab pada bulan tersebut suku Bajau mandi safar di laut sebagai tradisi tolak bala. Samsinar mengatakan Tehe-tehe ini tidak langsung disajikan begitu saja.

Baca juga: Objek Wisata Pulau Maratua Perlu Berbenah, Warga Kampung Teluk Alulu Belum Dapat Akses Listrik PLN

Baca juga: Kepala BI Kaltim ke Pulau Maratua Berau, Ingatkan Pola Pikir Warga Harus Berbasis Wisata

Baca juga: Bangun BTS di Akhir Tahun, Tempat Wisata Pulau Maratua akan Terlepas dari Wilayah Blank Spot

Sebelum dimasak, bagian dalam Tehe-tehe itu dibersihkan terlebih dahulu. Seperti organ dalam dibersihkan dan dibuang terlebih dahulu. Ia menyebut bagian daging Tehe-tehe tidak dibuang.

Sebab itu akan menjadi bahan pendukung dalam proses pemasakan. Setelah itu bolong bagian atas Tehe-tehe. Kemudian masukkan beras ke dalam Tehe-tehe. Proses memasukkan beras ini kata Samsinar mirip seperti memasukkan ketupat.

Kukus Tehe-tehe hingga matang. Ia menyebut daging atau lemak Tehe-tehe tidak dibuang dikarenakan sebagai bahan penyedap alami.

"Biar lebih enak ada rasa gurihnya," ucapnya ketika Tribunkaltim.co menyambangi Pulau Maratua bersama Bank Indonesia dan Dinas Pariwisata Kaltim beberapa waktu lalu.

Setelah matang Kuliner tersebut disajikan di atas piring. Proses memakannya pun juga unik. Kulit Tehe-tehe dipecahkan terlebih dahulu menggunakan sendok.

Baca juga: Pulau Maratua Bakal Bangun Patung Soekarno Setinggi 7 Meter, Anggaran dari Pemerintah Pusat

Sebab bagian luar cangkang Tehe-tehe itu keras dan tidak bisa dimakan. Setelah dikupas dan dibersihkan, terlihat nasi yang sudah matang. Aroma khas Tehe-tehe menyerebak ketika cangkang dikupas.

Rasanya gurih dengan tekstur sedikit lengket menjadi santapan wajib ketika berkunjung ke Maratua. Samsinar menyebut kuliner ini tidak dijual. Biasanya disajikan jika ada tamu yang ingin memesan atau ada acara tertentu.

"Ini bulu babi dibuat khusus tamu-tamu kunjungan," tuturnya. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved