Breaking News:

Berita Kesehatan

Luncurkan Program INPOST dan Ponsel, IDAI: Untuk Pembelajaran Skrining PJB Bagi Tenaga Kesehatan

Ikatan Dokter Anak Indonesia atau IDAI meluncurkan program INPOST (Indonesian Newborn Pulse Oxymetry Screening Training).

Penulis: Aneke Pratiwi | Editor: Mathias Masan Ola
TRIBUNKALTIM.CO/ANEKE PRATIWI
Tangkapan layar Launching Program Inpost dan Ponsel oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia melalui Acara Media Briefing secara daring, Senin (13/12/2021). TRIBUNKALTIM.CO/ANEKE PRATIWI 

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) meluncurkan program INPOST (Indonesian Newborn Pulse Oxymetry Screening Training).

Hal ini berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan RI, sekitar 80 persen dari bayi baru lahir yang meninggal 6 hari pertama setelah kelahirannya ternyata diakibatkan oleh kelainan kongenital.

Angka ini menyumbang angka kematian bayi sekitar 7 persen. Di antara kelainan kongenital itu adalah Penyakit Jantung Bawaan (PJB).

Data dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Kesehatan (CDC) bahkan menyebutkan bahwa 1 dari 100 bayi baru lahir di dunia mengalami Penyakit Jantung Bawaan.

Program yang diluncurkan tersebut yakni Pelatihan Skrining PJB Kritis selama satu hari untuk tenaga kesehatan dokter, bidan, dan perawat; serta Ponsel (Pulse Oximetry Newborn Screening E-learning) yaitu Pembelajaran skrining PJB Kritis selama satu bulan untuk tenaga kesehatan.

Baca juga: Media Briefing, Deteksi Dini Penyakit Jantung Bawaan pada Bayi Baru Lahir Dinilai Penting

Baca juga: 7 Khasiat Kacang Hijau Bagi Kesehatan Tubuh, Diantaranya Dapat Mengurangi Risiko Penyakit Jantung

Baca juga: Khasiat Mengkonsumsi Kentang Bersama dengan Kulitnya, Bisa Mengurangi Risiko Penyakit Jantung

Kedua program ini bertujuan guna membantu menurunkan Angka Kematian Bayi dan Anak sehingga kualitas hidup anak yang baik bisa tercapai.

Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia, dr Piprim Basarah Yanuarso, SpA(K) mengatakan, “Garda terdepan yang bisa melakukan pertolongan ini di antaranya adalah para bidan, dokter umum, atau dokter anak yang menolong persalinan atau Sectio (Cesar).

"Dan kami di IDAI berharap dengan program pelatihan yang akan diadakan oleh IDAI dan Kementerian Kesehatan akan bisa membantu para tenaga kesehatan yang menangani kelahiran dan anak untuk melakukan deteksi dini terhadap Penyakit Jantung Bawaan."

"IDAI berkomitmen untuk membantu menurunkan Angka Kematian Bayi dan Anak karena anak adalah masa depan bangsa," tambahnya kepada media, Rabu (15/12/2021).

Ketua Umum Ikatan Bidan Indonesia, DR Emi Nurjasmi MKes, mengaku bahwa peran bidan sangat penting dalam melakukan skrining saat ANC dan dilakukan secara terintegrasi dan kolaborasi dengan dokter untuk pemeriksaan Kesehatan ibu dan janin secara komprehensif sesuai dengan kompetensi dan kewenangannya.

Baca juga: Inilah 5 Penyebab Anak Bisa Alami Penyakit Jantung hingga Diabetes, Salah Satunya Faktor Kongenital

Bidan sebagai penolong persalinan harus melakukan pemeriksaan dan penilaian terhadap bayi segera setelah lahir untuk mengetahui adanya gangguan sejak awal kelahiran, sehingga apabila ditemukan gangguan/kelainan dapat diantisipasi sedini mungkin, dan bidan harus segera melakukan rujukan dan kolaborasi dengan dokter spesialis Anak.

Sementara itu, dr Erna Mulati MSc CMFM Direktur Kesehatan Keluarga (Ditkesga) dari Kementerian Kesehatan RI mengatakan bahwa Penyakit Jantung Bawaan Kritis atau Critical Congenital Heart Disease (CCHD) merupakan salah satu dari delapan (8) kelainan bawaan prioritas yang mendapat perhatian dari Pemerintah.

Untuk mendukung kegiatan pencegahan dan penanggulangan Penyakit Jantung Bawaan, salah salah satu kebijakan Kementerian Kesehatan RI adalah memantapkan sistem informasi kelainan bawaan dengan membangun surveilans kelainan bawaan prioritas dan memantapkan mekanisme monitoring dan evaluasi.

Selain itu Kementerian Kesehatan RI juga telah memberikan pelatihan surveilans kelainan bawaan bagi 35 Rumah Sakit Rujukan guna membantu memantau kecenderungan prevalensi, mengidentifikasi adanya kluster di populasi serta mengetahui faktor risiko terhadap terjadinya kelainan bawaan dan PJB.

IDAI berharap dengan sosialisasi deteksi dini PJB dan peluncuran program pelatihan Inpost dan Ponsel ini dapat membantu menurunkan angka kematian bayi dan anak dan berbagai pihak terkait dapat melakukan upaya preventif dan promotif terhadap masalah PJB dan PJB kritis untuk meningkatkan kualitas hidup bayi dan anak Indonesia. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved