Berita Berau Terkini
Tergerus Air, Jembatan Penghubung Tiga Kampung Kecamatan Segah Berau Butuh Penanganan
Wakil Bupati Berau, Gamalis didampingi Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Berau, meninjau langsung lokasi jembatan di Kampung Gunung Sari
Penulis: Renata Andini Pengesti | Editor: Samir Paturusi
TRIBUNKALTIM.CO,TANJUNG REDEB– Curah hujan tinggi yang melanda Kabupaten Berau, mengakibatkan sebagian badan jalan sekitar jembatan di Kecamatan Segah ambles tergerus derasnya aliran air sungai.
Merespon hal tersebut, Wakil Bupati Berau, Gamalis didampingi Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Berau, meninjau langsung lokasi jembatan di Kampung Gunung Sari.
Gamalis yang ditemui usai melakukan peninjauan mengatakan, jika melihat kondisi jalan dan faktor cuaca yang menyebabkan arus sungai menjadi kencang.
Menurutnya, harus segera dilakukan penanganan. Namun, untuk penangana secara permanen diakuinya masih harus menungggu kajian mendalam dari tim Dinas PUPR.
“Karena bagaimanapun ini harus segera ditangani, jika tidak ini akan terus membesar. Nah terkait dengan antisipasi awal, sudah mulai kita siapkan jembatan belly sebagai alternatif, mengingat jembatan ini merupakan akses satu-satunya menuju tiga kampung yang ada di kecamatan Segah,” jelasnya, Jumat (21/1/2022).
Baca juga: Pedagang Toko Tradisional di Berau Tolak Penyesuaian Harga Minyak Goreng, Masih Perlu Untung
Baca juga: Pansus DPRD Berau Minta Dirut Perumda Batiwakkal Dicopot, Bupati: Kami Tetap Pertahankan
Baca juga: Mantan Komisioner KPK Sebut Korupsi DD dan ADK di Berau Karena Kurang Pengawasan
Lebih lanjut ia menjelaskan, ketiga kampung yang terancam akan terisolir yakni Kampung Gunung Sari, Punan Malinau dan Punan Mahakam.
Ia mengatakan, kelebaran sungai kurang lebih mencapai tiga meter, jika melihat arus sungai kemungkina runtuhan bisa terus melebar.
Ia menyebut, dalam beberapa hari kebelakang, longsoran jalan tidak seluas sekarang. Hal tersebut menandakan rapuhnya tanah dan potensi amblas sangat besar.
“Jalan ini tidak boleh putus karena tiga kampung tersebut bisa terisolir. Jadi kita coba lakukan pembatasan kendaraan yang lewat,” tandasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas PUPR Berau, Taupan Madjid menegaskan, penanganan sementara terhadap bantaran sungai yang ada di sekitar jembatan tidak bisa dilakukan.
Menurutnya, karena lokasi yang berada di tikungan sungai, aliran air sangat deras.
Sehingga, jika hanya melakukan penanganan sementara dikhawatirkan menimbulkan kesan menghamburkan uang karena dipastikan tidak bertahan lama.
“Intinya penanganan harus tuntas meski memakan biaya yang cukup mahal harus kita lakukan jangan setengah setengah,” tegasnya.
Ia melanjutkan, untuk pemasangan jembatan belly sebagai akses alternatif masyarakat tidak akan memakan waktu yang cukup lama, mengingat jembatan tersbut bisa dibongkar pasang.
Tetapi kendaraan besar seperti truk pengangkut kelapa sawit dilarang melintasi jembatan.