Wawancara Eksklusif
EKSKLUSIF - Makmur HAPK Buka-bukaan saat Diminta jadi Ketua DPRD Kaltim oleh DPP Partai Golkar
Surat persetujuan PAW Ketua DPRD Kaltim Makmur HAPK digantikan Hasanuddin Masud sudah beredar sejak Juni 2021.
Penulis: Tribun Kaltim | Editor: Adhinata Kusuma
Saya hadir tapi saya tidak diberi kesempatan untuk membuka acara itu, pidato pun tidak, mungkin karena saya paling tua saya hanya menyampaikan, apa namanya, mengheningkan cipta, bahkan ada yang me-WA saya, tinggalkan (acara) itu.
Bapak merasa pelan-pelan disingkirkan?
Kalau saya lihat ya seperti itu. Belum apa-apa sudah turunkan baliho di sana.
Padahal saya sudah sampaikan, sudah komunikasikan. Bapak mau jadi calon gubernur, silakan. Saya juga memang punya cita-cita sih tetapi tidak ambisius.
Ambisi ada dalam kehidupan ini tapi saya selalu melakukan sesuatu itu tidak ambisius.
Saya melakukan sesuatu dengan pertimbangan. Itu saja kita sebagai ketua DPRD.
Itu aja yang saya sampaikan semuanya jangan ganggu kehidupan saya.
Saya tidak pernah menyalip-nyalip orang.
Saya pernah jadi wakil bupati (2 periode di Berau) tidak pernah (mau nyalip) jadi bupati (di saat yang sama).
Saya belajar etika-etika itu.
Menurut Bapak bagaimana kepimpinan Hasanuddin Masud di DPRD Kaltim?
Saya tidak tau gimana wataknya. Padahal saya cukup komunikatif juga bertelpon-telponan gitu sampai saat ini nggak pernah lagi. Saya tidak tahu.
Sejak pelantikan kemarin, bagaimana hubungan Bapak dengan Hasanuddin Masud?
Saya belum ada hubungan apa-apa.
Kapan komunikasi terakhir pak?
Waktu mau pemilihan Ketua DPD Partai Golkar Kaltim. Pak Udin (Hasanuddin Masud) datang ke sini dengan timnya.
Saya memang disuruh mundur jangan nyalon. Karena ada suatu amanat yang lebih besar kepada pak Rudi Masud.
Saya tanya amanat apa itu, apakah saya juga tidak bisa menjalankan amanat itu, saya tidak diberi tahu juga.
Maksud saya kalau diberi tahu kan kita bisa dukung pak Rudi Masud, walaupun dengan modal tangan sepuluh istilahnya, tapi kan saya tidak tahu apa yang diamanatkan.
Saat Musda X Golkar Kaltim tahun 2020 lalu bapak dicalonkan sebagai ketua DPD Kaltim lalu dikabarkan ‘mundur', bapak menyesal?
Tidak mundur pada saat itu, tapi diminta untuk kompromistis.
Jadi pada saat itu kita musyawarah mufakat, tidak ada kata-kata mundur.
Kemudian sudah larut malam, ada perintah Ketum Golkar supaya musyawarah mufakat.
Saya sebagai kader yang lama juga, kita berunding bersama-sama yang mempimpin rapat terbatas itu pak Nurdin Halid.
Saya ingat ucapan saya, kenapa tidak awal-awal kita berunding jadi enak didengar.
Saya sampaikan, apa juga yang kita perebutkan, bukan izin tambang, bukan izin emas, tertawa juga waktu itu.
Orang memimpin organisasi itu bukan kaya gaya tapi kaya hati.
Saya bukan termasuk orang yang punya perusahaan besar, artinya kaya hati, Alhamudlillah.
Waktu saya Ketua Harian Golkar Kaltim dengan ibu Rita, saya bisa kelola dengan baik kok. (Tribun Kaltim/Fatimah Annazwa-Bagian 2)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/Makmur-HAPK-saat-berbincang-soal-polemik-pelantikan-Ketua-DPRD-Provinsi-Kaltim-2.jpg)