Berita Nasional Terkini

Tragedi Kanjuruhan Tewaskan 33 Anak, Polri dan PSSI Tak Cukup Kuat Lakukan Penyelidikan Sendiri?

Tragedi Kanjuruhan Malang tewaskan 33 anak. Polri dan PSSI dianggap tak cukup kuat lakukan penyelidikan sendiri.

SURYA/PURWANTO
Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan Malang - Tragedi Kanjuruhan Malang tewaskan 33 anak. Polri dan PSSI dianggap tak cukup kuat lakukan penyelidikan sendiri. 

Perhatian akan tragedi stadion Kanjuruhan malang tersebut, tak hanya di skala nasional.

Peristiwa kemanusiaan yang menewaskan ratusan suproter itu jadi atensi publik internasional.

Ramai-ramai media internasional juga menyoroti tragedi stadion Kanjuruhan Malang.

Diketahui tragedi tersebut menewaskan 33 anak.

Beberapa pihak menilai bahwa Polri dan PSSI dianggap tak cukup kuat lakukan penyelidikan sendiri.

Selengkapnya ada dalam artikel ini.

Baca juga: Para Suporter Bola di Samarinda Gelar Aksi Belasungkawa Atas Tragedi Kanjuruhan di Stadion Segiri

Media arus utama dunia menyoroti tingginya korban tewas anak-anak dalam tragedi di stadion Kanjuruhan hari Sabtu (1/10/2022).

Tidak kurang media besar seperti kantor berita AFP, Reuters, Al Jazeera, Arab News, BBC dan Associated Press menyoroti tragedi memilukan di Malang, terutama tingginya jumlah korban jiwa anak-anak.

Tragedi memilukan yang terjadi pada Sabtu malam di kota Malang menyebabkan 125 orang tewas, 33 di antaranya anak-anak dan lebih dari 300 lainnya terluka setelah petugas menembakkan gas air mata di stadion yang penuh sesak, untuk memadamkan tindakan pendukung Arema yang masuk ke lapangan.

Deputi Perlindungan Khusus Anak Kementerian PPPA Nahar seperti dikutip Antara mengatakan, "Tiga puluh tiga anak meninggal dunia (terdiri atas) delapan anak perempuan dan 25 anak laki-laki, dengan usia antara empat tahun sampai 17 tahun,"

Peristiwa itu disusul bentrokan dengan aparat lalu memicu penembakan gas air mata membabi buta ke arah tribun penonton dan jalan keluar.

Baca juga: Terbaru! Terjawab Apa Penyebab Kerusuhan di Kanjuruhan dan Pintu Stadion Ditutup? Ini Kata Mahfud MD

"Semua yang bertanggung jawab harus bertanggung jawab atas bencana ini, terlepas dari status atau posisi mereka," kata Phil Robertson, Wakil Direktur Asia untuk Human Rights Watch yang berbasis di New York, Senin (3/10/2022), seperti dilaporkan Straits Times.

"Tidak cukup bagi Polri dan PSSI melakukan penyelidikan sendiri karena mereka mungkin tergoda untuk mengecilkan atau melemahkan akuntabilitas penuh dari pejabat yang terlibat," tambahnya dalam sebuah pernyataan.

Dr Bobi Prabowo, Direktur RS Kanjuruhan, seperti dilansir Straits Times mengatakan kepada wartawan bahwa mereka yang dibawa ke rumah sakit pada Sabtu malam sebagian besar menderita trauma, sesak napas, dan kekurangan oksigen.

"Ketika Anda berada dalam situasi kekurangan oksigen, karena gas air mata, dan Anda panik pada saat yang sama, hal berikutnya yang bisa terjadi adalah Anda pingsan," katanya.

Baca juga: Simpati Atas Tragedi Kanjuruhan, Tim Borneo FC Heningkan Cipta Jelang Sesi Latihan di Stadion Segiri

Beberapa pasien menderita banyak luka karena terinjak-injak oleh orang banyak, kata Dr Prabowo.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved