Horizzon
Fatwa Politik dari Kopi Daeng
Tim sukses, lembaga polling atau konsultan politik atau apapun namanya asal berkaitan dengan pemilu adalah peluang mencari cuan yang cukup menjanjikan
Penulis: Ibnu Taufik Jr | Editor: Mathias Masan Ola
Belum tuntas kami berdiskusi tentang para timses yang juga ikut larut dengan lagu-lagu yang dimainkan secara langsung di Kopi Daeng tersebut, kami tiba-tiba teringat dengan sat hal yang jauh lebih memprihatinkan dari pada demokrasi pragmatism yang bakal berlangsung di kontestasi tahun depan.
Sambil berulangkali memandang kasihan pada sosok calon legislator muda yang gambarnya menempel di kaus yang dikenakan tim suksesnya, kami kemudian berdiskusi soal bagaimana possisioning penyelenggara berikut perangkat yang lain dalam kontestasi ke depan.
Meski tidak pernah bisa dibuktikan, pertanyaan soal netralitas penyelenggara kita pada setiap kontestasi adalah pertanyaan yang selalu muncul dan lagi-lagi tak pernah terjawab.
Jika kita bicara di panitia lokal, maka pertanyaan tersebut sebenarnya sudah mengganggu pikiran kita sejak munculnya nama-nama yang bakal menjadi panitia seleksi penyelenggara pemilu di level bawah.
Baca Juga: Soal IKN, Pemerintah Pusat Tidak Boleh Egois
Rasa-rasanya, proses seleksi yang dilakukan tak ubahnya seperti melegitimasi sebuah proses basa-basi yang sebenarnya daftar nama siapa yang bakal menjadi penyelenggara sudah ada di kantong mereka yang punya kepentingan, yaitu partai politik.
Jika pikiran tersebut benar adanya, lalu gawe besar Pemilu 2024 mendatang yang konon disebut sebnagai pesta demokrasi itu apa?
Jika benar proses penentuan penyelenggara pemilu adalah legitimasi dari nama-nama pesanan dari penaguasa, maka bukankah itu juga sama bahwa Pemilu 2024 mendatang adalah legitimasi mempertahankan kekuasaan atas nama demokrasi?
Di Warkop Daeng Jalan Beler inilah pada akhirnya kami berkesimpulan bahwa bangsa ini, tepatnya publik di bangsa ini tengah dilanda sikap skeptis lagi apatis tentang apa yang tengah terjadi di negeri ini.
Tidaklah berlebihan jika semua akan menjadi tak peduli pada ahirnya dan menjadi pasrah.
Publik hanya menunggu keajaiban tentang perubahan besar di negeri ini yang mampu menghentikan tingkah polah congak elit politik yang makin sulit dipisahkan dengan konglomerasi. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/202300508-pemred-tribun-kaltim.jpg)