Horizzon
Covid-19 Kembali untuk Ikut Pilpreskah?
Melalui angka-angka, mulai angka kasus, angka kematian dan termasuk angka penularan, Covid-19 seolah punya kuasa dengan alasan keselamatan.
Penulis: Ibnu Taufik Jr | Editor: Syaiful Syafar
Oleh: Ibnu Taufik Juwariyanto, Pemimpin Redaksi Tribun Kaltim
SETELAH untuk sekian lama lupa mencatat perkembangan Covid-19, Kementerian Kesehatan melalui Direktorat Surveilans Kekarantinaan Kesehatan kembali punya waktu untuk menjalani rutinitas lama mendata kasus flu impor asal Wuhan tersebut.
Setelah sebelumnya angka-angka yang mencapai jutaan kasus dihapus paksa, per 14 Desember 2023 ini sekonyong-konyong muncul kembali angka 1.499 kasus Covid-19.
Entah dimulai dari berapa angka tersebut, apakah dimulai dari nol, layaknya slogan Pertamina, atau dari angka yang memang tercatat namun tak terpublish, yang jelas itulah standing awal yang sekaligus menjadi tanda akan kembalinya eksistensi Covid-19.
Kita masih ingat, data dan angka-angka yang terus dijejalkan kepada publik terkait Covid-19 ini adalah propaganda utama yang daya terornya jauh melebihi keganasan virusnya.
Data yang terus diupdate, yang selalu dipaksakan benar adalah amunisi Virus Corona untuk menjadi yang sesuatu yang paling penting bagi peradaban manusia.
Baca juga: Debat Cawapres, Apa Urgensinya?
Melalui angka-angka, mulai angka kasus, angka kematian dan termasuk angka penularan, Covid-19 seolah punya kuasa dengan alasan keselamatan.
Covid-19 bahkan berkah mengklaim bahwa seluruh kematian yang terjadi antara 2020 hingga akhir 2023 adalah akibat darinya.
Tak peduli orang kecelakaan lalu lintas, sakit menahun, tua atau kematian sewajarnya, maka semua diklaim gegara Covid-19.
Tuhan sekalipun seolah kalah oleh eksistensi virus kecil tak kasat mata asal China ini.
Bagaimana tidak, bukankah shaf salat kita yang sebelum harus rapat agar tak ada setan di antara jemaah harus kita longgarkan.
Jika sebelumnya kita larang setan ada di antara barisan shaf kita, maka pada akhirnya kita beri kelonggaran agar setan berikut Covid-19 ada di shaf-shaf salat jemaah di masjid.
Bukan hanya logika kita yang dihancurleburkan oleh Covid-19, ruang religius kita, cara kita berdialog dengan Tuhan yang kita yakini dengan Iman kita masing-masing diluluhlantahkan.
Kita dilarang Salat Jumat, Idul Fitri, Misa Minggu, dan ibadah lain hanya lantaran Covid-19 yang kuat dinarasikan sangat berbahayanya itu.
Baca juga: Netralitas yang Sudah Berubah Makna
Sekira tiga tahun, energi kita benar-benar dihabiskan oleh Covid-19. Berapa uang kita yang kita belanjakan untuk virus konyol ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/ibnu-taufik-juwariyanto-pemimpin-redaksi-tribun-kaltim.jpg)