Horizzon
Covid-19 Kembali untuk Ikut Pilpreskah?
Melalui angka-angka, mulai angka kasus, angka kematian dan termasuk angka penularan, Covid-19 seolah punya kuasa dengan alasan keselamatan.
Penulis: Ibnu Taufik Jr | Editor: Syaiful Syafar
Hitunglah mulai dari masker, vaksin, protokol kesehatan, antigen, dan seabrek seremoni lainnya yang semuanya berbiaya mahal.
Uang yang kita miliki, yang seharusnya bisa untuk banyak hal terpaksa harus kita belanjakan untuk kepentingan virus impor ini.
Meski kita juga tahu, pada akhirnya terungkap juga taipan-taipan sekaligus pejabat negara yang mengambil untung dari wabah ini dengan menjadi 'reseller' masker, vaksin, dan segala tetek bengeknya.
Ketika semua orang dipaksa takut, dipaksa miskin, termasuk dipaksa vaksin, beberapa dari kita ada yang mengambil untung dan saldo tabungannya menjadi bertambah, bukan hanya angkanya tetapi juga digitnya.
Hingga saat ini, sejujurnya kita juga tak pernah tahu kenapa kala itu kita menghentikan pamer angka-angka yang sekaligus juga menghentikan eksistensi si virus.
Jika kita pernah mendapat narasi bahwa virus ini sangat menular, sangat berbahaya dan mematikan, lalu kenapa kala itu dihentikan?
Bukankah kita juga pernah didoktrin bahwa virus ini tak bisa hilang.
Ingat, sampai akhir dari periode konyol kita soal Covid-19, peradaban ini juga mengklaim belum bisa menemukan obat dari virus yang diklaim membunuh jutaan umat di muka bumi ini.
Kita tak pernah memperoleh alasan rasional kenapa kemarin kita berhenti, termasuk kenapa pertengahan Desember ini kita akan memulai lagi.
Satu hal yang barangkali kita bisa sepakat, kita semua capek dengan apa yang pernah kita lalui.
Boleh jadi, kita ikut-ikutan mendata kembali datangnya teror ini lantaran Singapura dan sejumlah negara kembali mengungkapkan temuan kasus baru.
Atau bolehkah kita menduga bahwa setelah operasi vaksin kita sudah kehabisan narasi, sudah ditemukan kembali komoditas baru setelah vaksin yang bisa dikomersilkan atas nama Covid-19?
Atau bolehkah kita menduga bahwa Covid-19 eksistensinya akan kita kembalikan, ini lantaran Covid-19 akan diikutkan dalam kontestasi Pilpres atau Pemilu 2024 secara umum.
Baca juga: Sakit Menahun Demokrasi Indonesia
Meski saat ini Covid-19 belum memiliki KTP dan juga belum diputuskan akan dimasukkan di dapil mana, mungkin Covid-19 akan menjadikan Pemilu 2024 ke depan jauh lebih mudah kita kendalikan.
Untuk sementara, tanda-tanda identitas Covid-19 yang belum ber-KTP ini sudah punya identitas berupa varian baru 'bermarga' JN.1, sublineage dari BA.2.86.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/ibnu-taufik-juwariyanto-pemimpin-redaksi-tribun-kaltim.jpg)