Selasa, 5 Mei 2026

Pembunuhan Sekeluarga di PPU

Penajam Geger, Sekeluarga Dibunuh Secara Sadis, Bermula dari Asmara yang Tak Direstui Orangtua

Penajam geger, sekeluarga dibunuh secara sadis, bermula dari asmara yang tak direstui orangtua

Tayang:
Editor: Rafan Arif Dwinanto
Tribun Kaltim
Suasana kamar jenazah di RSUD PPU, tempat lima korban pembunuhan diotopsi. Penajam geger, sekeluarga dibunuh secara sadis, bermula dari asmara yang tak direstui orangtua 

TRIBUNKALTIM.CO - Kecamatan Babulu, Kabupaten Penajam Paser Utara, geger!

Sekeluarga yang terdiri dari ayah ibu dan 3 anaknya ditemukan tewas bersimbah darah di rumahnya di Desa Babulu, Kecamatan Babulu.

Kelima korban pembunuhan, yaitu Waluyo (35), Sri Winarsih (34) dan ketiga anaknya masing-masing adalah RJS (15), VDS (11) dan ZAA (3) sudah disemayamkan di RSUD PPU sambal menunggui proses otopsi.

Kisah asmara yang tak direstui orangtua diduga kuat menjadi motif dibalik aksi pembunuhan sadis tersebut.

Saat ini, Polres Penajam sudah mengamankan pelaku dan mendalami kasus tersebut.

“Ini terkait dengan motif asmara.

Pelaku memiliki hubungan cinta dengan salah satu korban, yaitu anak tertua.

Namun hubungan mereka kandas,” kata sumber di kepolisian.

Baca juga: 5 Fakta Pembunuhan 5 Orang dalam 1 Keluarga di PPU, Terungkap Identitas Korban hingga Motif Pelaku

Masih berdasarkan informasi awal dari Kepolisian, kandasnya hubungan pelaku dengan anak tertua (RJS) ini terjadi karena tak mendapat restu dari Waluyo.

Pelaku pun melancarkan aksinya di malam hari.

Dengan cara mematikan listrik dan langsung membunuh Waluyo.

Dilanjutkan dengan membunuh istri dan anak paling kecil.

"Kemudian anak tertua atau pacar pelaku dibunuh lalu diperkosa.

Setelah itu mau pergi, Waluyo masih tampak hidup lalu dihabisi lagi," kata sumber di Kepolisian.

Petugas juga masih menunggu hasil otopsi yang dilakukan pihak RSUD PPU.

Hingga saat ini warga juga terus berjaga di rumah korban sekaligus TKP kasus pembunuhan sadis di PPU. Mereka berharap kasus ini bisa segera terungkap.

Sebagaimana diketahui, sejumlah petugas dari kepolisian penajam Paser Utara, warga dan juga aparat pemerintah masih tampak berjaga di rumah yang menjadi TKP kasus pembunuhan yang menewaskan satu keluarga.

Hingga Selasa (6/2/2024) pagi, puluhan warga dan polisi tampak duduk sambil berjaga di depan rumah yang ada di Desa Babulu, Kecamatan Babulu, Kabupaten penajam Paser Utara ini. Rumah tapak yang ditempati kelima korban sekaligus menjadi lokasi pembunuhan tersebut tampak dikelilingi oleh garis polisi.

Baca juga: TERUNGKAP, Pembunuhan Terhadap 5 Orang di PPU Ternyata Bermotif Asmara, Pelaku Sudah Ditangkap  

Sementara itu kelima korban pembunuhan, yaitu Waluyo (35), Sri Winarsih (34) dan ketiga anaknya masing-masing adalah RJS (15), VDS (11) dan ZAA (3) sudah disemayamkan di RSUD PPU sambal menunggui proses otopsi.

Kasus tersebut menewaskan lima orang sekaligus yang semuanya masih satu keluarga, terdiri dari suami, istri dan ketiga anaknya.

Salah seorang kerabat korban yang ditemui di RSUD PPU membenarkan bahwa, lima jenazah yang menjadi korban pembunuhan itu adalah satu keluarga yang terdiri dari suami, istri dan ketiga anaknya.

“Iya, mereka semua tewas. Itu ada suami, istri dan ketiga anaknya smeua tewas,” katanya. 

Kasus Pembunuhan Sadis Lain di Indonesia

Tragedi Pulomas

Tragedi Pulomas pada 2016 lalu menjadi kasus pembunuhan paling sadis di Indonesia kedua yang berawal dari perampokan.

Saat itu, tiga pelaku perampokan menyekap 11 orang di dalam kamar mandi kecil berukuran 1,5 meter persegi selama hampir 18 jam.

Akibatnya, enam orang meninggal dunia dan lima lainnya mengalami trauma.

Polisi menangkap perampok dan menghukum mati dua pelaku sedangkan satu pelaku lainnya mendapat hukuman seumur hidup.

Baca juga: BREAKINGNEWS Polisi dan Warga Masih Berjaga di TKP Pembunuhan Satu Keluarga di Penajam Paser Utara

Kasus Pembunuhan Eno

Kasus pembunuhan paling sadis di Indonesia selanjutnya adalah pembunuhan Eno yang sangat keji.

Perempuan 18 tahun ini dibunuh tiga buruh pabrik di asrama karyawan tempatnya bekerja.

Pelaku memperkosa dan memasukkan gagang cangkul ke dalam kemaluan korban hingga tewas.

Kasus Rio Martil

Rio Alex Bulo atau dikenal dengan Rio Martil adalah pelaku pembunuhan berantai sadis yang mengincar pengusaha rental mobil.

Awalnya dia berprofesi sebagai agen yang menjual surat-surat kendaraan palsu. 

Namun setelah menikah, dia mulai beralih profesi menjadi pencuri mobil dengan keuntungan yang lebih menggiurkan.

Nyatanya, Rio bekerja sama dengan penadah barang curian untuk mencuri mobil mewah di Jakarta.

Sadisnya, Rio tidak hanya mencuri mobil tetapi juga membunuh pemilik kendaraan dengan senjata andalannya, yaitu martil.

Aksi sadisnya akhirnya berakhir setelah komplotan penadah barangnya melaporkan Rio ke pihak berwajib.

Rio ditangkap dan mendapat hukuman mati di tahun 2014.

Ironisnya, saat di penjara Rio berteman dengan Iwan Zulkarnaen seorang koruptor yang kemudian juga dinunuhnya hanya gara-gara Iwan mengolok-olok Rio.

Rio Martil dieksekusi pada 8 Agustus 2008.

Baca juga: BREAKINGNEWS Inilah Identitas, Suami, Istri dan 3 Anak, Korban Pembunuhan di PPU

Mutilasi Astini

Kasus pembunuhan paling sadis di Indonesia pertama adalah kasus mutilasi oleh seorang perempuan bernama Astini di Surabaya, Jawa Timur.

Pembunuhan Astini bermula sakit hati karena korban menagih hutang.

Astini pun nekat membunuh korban dan memutilasinya hingga menjadi sepuluh bagian dan membuangnya dalam kantong plastik.

Polisi kemudian menangkap Astini, pada 1996 dan memvonis hukuman mati lalu mendapat eksekusi pada Maret 2005.

Kasus Ryan Jombang

Kasus Ryan Jombang Ryan Jombang merupakan pelaku pembunuhan paling sadis di Indonesia. Bahkan, kasus ini juga kerap disebut sebagai kasus paling sadis yang pernah terjadi di dunia. 

Terlebih, kasus pembunuhan ini juga sempat disorot media internasional.

Pria bernama lengkap Very Idham Henyansyah ini mengaku telah melakukan pembunuhan dan mutilasi terhadap 11 orang di Jakarta dan Jombang. 

Pembunuhan tersebut terjadi pada rentang tahun 2006 sampai 2008.

Ryan membunuh para korban dengan berbagai cara, mulai dari menggunakan linggis hingga benda tajam lainnya, kemudian ia memutilasi setiap korbannya. 

Akibat perbuatannya, Ryan Jombang dijatuhi hukuman mati oleh Pengadilan Negeri Depok pada 6 April 2009 silam.

Sementara itu, dalam persidangannya Ryan mengaku motif pembunuhan yang dilakukannya karena alasan asmara. (*)

Ikuti Saluran WhatsApp Tribun Kaltim dan Google News Tribun Kaltim untuk pembaruan lebih lanjut tentang berita populer lainnya.

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved