Jejak Islam di Bumi Etam
Jejak Islam di Bumi Etam 7 - Gelar Raja Berubah jadi Sultan
Raja Kutai Kartanegara ke-14, Aji Muhammad Idris yang berkuasa dari 1732 hingga 1739 merupakan sultan pertama dan menandai bahwa kerajaan ini Islam.
Penulis: Mohammad Fairoussaniy | Editor: Syaiful Syafar
Penyebaran Islam di Kutai Kartanegara mengalami periodesasi yang panjang selepas mangkatnya Raja Aji Dilanggar. Namun perubahan fundamental terjadi saat pemerintahan Aji Muhammad Idris berkuasa, di mana gelar raja berubah menjadi sultan.
TRIBUNKALTIM.CO – Setelah masa pemerintahan Raja Aji Dilanggar yang tergolong singkat, penyebaran Islam kian massif di Kerajaan Kutai Kartanegara.
Wilayah Kerajaan Kutai Kartanegara juga semakin luas setelah Kerajaan Kutai Martadipura ditaklukkan.
Selain itu, pusat pemerintahan juga berpindah dari Tepian Batu ke Pemerangan yang kini bernama Desa Jembayan.
Saat ibu kota terletak di Jembayan inilah kemudian terjadi perubahan nama takhta di Kerajaan Kutai Kartanegara.
Pemimpin yang dulunya disebut raja, berganti menjadi sultan yang semakin menegaskan bentuk pemerintahan monarki berbasis Islam.
Baca juga: Jejak Islam di Bumi Etam 1 - Mengumpulkan Kepingan Sejarah Islam di Kalimantan Timur
Baca juga: Jejak Islam di Bumi Etam 2 - Adu Kesaktian Berujung Syahadat
Baca juga: Jejak Islam di Bumi Etam 3 - Gelar Tunggang Parangan dari Kerajaan Kutai Kartanegara
Raja Kutai Kartanegara ke-14, Aji Muhammad Idris yang berkuasa dari 1732 hingga 1739 merupakan sultan pertama dan menandai bahwa eksistensi kerajaan ini telah bercorak Islam.
Beliau adalah putra dari Aji Pangeran Anum Panji Mendapa yang memerintah Kerajaan Kutai Kartanegara dari 1730 hingga 1732 M.
Dalam penelusuran TribunKaltim.co, sosok Sultan Aji Muhammad Idris kini menjadi nama Universitas Islam Negeri (UIN) terbesar di Kalimantan Timur.
Dosen Ilmu Sejarah Islam, Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda, Samsir, S.Ag, M.Hum, mengatakan Sultan Aji Muhammad Idris lahir pada tahun 1667 di Jembayan, atau ibu Kota Kerajaan Kutai kala itu yang kini masuk Kecamatan Loa Kulu, Kutai Kartanegara.
Nama Kerajaan Kutai Kartanegara juga telah berganti menjadi Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martapura setelah sebelumnya berhasil memenangkan perang di Muara Kaman.
Baca juga: Jejak Islam di Bumi Etam 4 - Berdakwah di Sepanjang Pesisir Kaltim
Samsir mengatakan, Sultan Aji Muhammad Idris merupakan cucu menantu dari Sultan Wajo bernama La Maddukelleng, yang kemudian berangkat ke tanah Wajo, Sulawesi Selatan.
Di Wajo, Aji Muhammad Idris turut bertempur bersama-sama rakyat Bugis melawan Veerenigde Oostindische Compagnie (VOC), kongsi dagang atau Perusahaan Hindia Timur Belanda.
Sultan Aji Muhammad Idris dikisahkan beberapa kali berperang dengan VOC.
Namun, dalam pertempuran itu ia gugur.
Jejak Islam di Bumi Etam
Sejarah Islam di Kalimantan Timur
Kutai Kartanegara
Sultan Aji Muhammad Idris
Aji Dilanggar
La Maddukelleng
| Jejak Islam di Bumi Etam 26 Selesai - Batu Indra Giri, Penanda Hubungan Diplomatik Masuknya Islam |
|
|---|
| Jejak Islam di Bumi Etam 25 - Sosok Abu Mansyuh Indra Jaya, Pembawa Islam di Tana Paser |
|
|---|
| Jejak Islam di Bumi Etam 24 - Al-Qur'an Tua Tulisan Tangan Jejak Penyebaran Islam di Paser |
|
|---|
| Jejak Islam di Bumi Etam 23 - Masjid Jami Nurul Ibadah, Bukti Perkembangan Islam di Paser |
|
|---|
| Jejak Islam di Bumi Etam 22 - Datu Bejambe, Leluhur Tokoh Penyebar Islam di Paser |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20240317_Sultan-Aji-Muhammad-Idris-sultan-pertama-di-Kerajaan-Kutai.jpg)