Sabtu, 30 Mei 2026

Tribun Kaltim Hari Ini

Penuhi Kebutuhan Pupuk di Kutim, Kasmidi Bulang Minta Studi Lanjutan Budidaya Maggot

Wakil Bupati Kutai Timur, Kasmidi Bulang melakukan studi tiru budidaya maggot ke Kabupaten Sleman, Yogyakarta bersama Forum Multi Stakeholder

Tayang:
Penulis: Geafry Necolsen | Editor: Mathias Masan Ola
HO/Pemkab Kutim
Wakil Bupati Kutim, Kasmidi Bulang saat mengunjungi pusat budi daya maggot BSF di Sleman, Yogyakarta. 

TRIBUNKALTIM.CO, SANGATTA, - Wakil Bupati Kutai Timur, Kasmidi Bulang melakukan studi tiru budidaya maggot ke Kabupaten Sleman, Yogyakarta bersama Forum Multi Stakeholder Corporate Social Responsibility (MSH CSR).

Usai melakukan studi tiru, ia tertarik terhadap informasi-informasi yang diperoleh dari pusat budidaya Maggot di Jalan Ketingan, Kelurahan Tirtoadi, Kepanewon Mlati, Kabupaten Sleman.

Menurutnya, Kutai Timur juga sudah mulai mengembangkan teknologi budidaya maggot.

Baca juga: Kolaborasi Dunia Pendidikan, Mahasiswa ITK dan Kelompok Petratonik Buat Maggot Kering

"Di Kutai Timur kami sudah mulai mengadopsi teknologi ini, meski masih ada tantangan terkait ketersediaan sampah organik untuk maggot," ujar KB, sapaan akrabnya, Rabu (29/5/2024).

Lanjutnya, teknologi pengembangan maggot dapat membantu mengatasi permasalahan lingkungan dengan mengurai sampah organik menjadi pakan ternak dan pupuk.

Akan tetapi, ia juga mendorong agar teknologi di Sleman dapat diadopsi di Kutai Timur tentunya dengan studi lebih lanjut.

Tak lupa ia juga mendukung para petani Kutim bisa mengadopsi teknologi maggot agar kebutuhan pupuk terpenuhi.

"Budidaya maggot tidak hanya permasalahan lingkungan yang teratasi, melainkan juga bernilai ekonomis karena menghasilkan produk pakan ternak hingga pupuk organik," terangnya.

Baca juga: TPST Prima Sangatta Kutim Kembangkan Budidaya Maggot, Manfaatkan Limbah Organik Berlebih

Sebelumnya, ia mendapat penjelasan dari Lurah Tirtoadi, Mardiharto bahwa maggot yang dibudidaya di Sleman itu berjenis Black Soldier Fly (BSF).

Maggot BSF merupakan larva dari lalat besar berwarna hitam yang mirip dengan tawon dan mwmiliki siklus hidup selama 40 sampai 45 hari.

Mulai dari telur hingga lalat dewasa. "Konsepnya, Maggot memakan sampah organik lalu diurai di dalam tubuhnya dan mengeluarkan kotoran sebagai pupuk kompos," pungkasnya. (ril)

Ikuti Saluran WhatsApp Tribun Kaltim dan Google News Tribun Kaltim untuk pembaruan lebih lanjut tentang berita populer lainnya

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved