Opini
Mahar Politik di Kaltim: Satire Tentang Partai Bernuansa Islam yang Terjual
Siapa sangka, sebuah partai bernuansa Islam, yang seharusnya menjadi benteng moral dan etika, tiba-tiba mendukung calon yang tidak pernah terdengar
Oleh: Mubarok (Alumni Pesantren Hidayatullah Balikpapan)
Ah, politik di Indonesia, selalu penuh kejutan dan keajaiban!
Kali ini, publik disuguhi dengan drama terbaru di Kalimantan Timur.
Siapa sangka, sebuah partai bernuansa Islam, yang seharusnya menjadi benteng moral dan etika, tiba-tiba mendukung calon yang tidak pernah terdengar sebelumnya.
Calon ini, tentu saja, terkenal bukan karena visi atau rekam jejaknya, tetapi karena kekayaannya.
Jadi, apakah masyarakat sekarang hidup di zaman di mana partai berbasis agama juga diperjualbelikan? Mari kita selami lebih dalam dengan nada satire yang
1. Partai Bernuansa Islam: Dijual Murah?
Sebuah partai bernuansa Islam di Kaltim mendukung calon yang tidak memiliki jejak apapun sebelumnya.
Apakah ini tanda bahwa partai tersebut telah dijual kepada penawar tertinggi?
Apakah prinsip-prinsip agama sekarang bisa dibeli dengan sejumlah uang?
2. Rekam Jejak atau Rekening Bank?
Mengapa partai yang seharusnya berlandaskan nilai-nilai agama memilih mendukung calon yang tidak pernah berkontribusi apapun kepada masyarakat sebelumnya?
Apakah rekening bank sekarang lebih penting daripada rekam jejak sosial?
3. Dukungan Spiritual atau Finansial?
Apakah dukungan dari partai ini diberikan karena calon tersebut memiliki visi besar untuk kesejahteraan masyarakat, atau karena ia memiliki dompet yang lebih besar?
Apakah masyarakat sekarang memilih pemimpin berdasarkan besarnya sumbangan, bukan integritas dan komitmen?
4. Prinsip Agama atau Prinsip Dagang?
Apakah prinsip-prinsip agama yang dijunjung tinggi oleh partai ini sekarang tergantikan oleh prinsip-prinsip dagang?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20240713_oPINI.jpg)